Seorang Salesian Mencapai Puncak Everest

Demi mencapai mimpinya, Tagit Sorang Abraham akhirnya mencapai puncak Gunung Everest pada tanggal 31 Mei 2021 pada pukul 08:45. Setelah menanti seminggu penuh dengan cuaca sangat ekstrem, begitu ada tanda mulai cerah, Abraham bersama beberapa temannya menaiki gunung itu hingga dapat menaklukkannya. Mereka mendapatkan mahkota kemenangan.

Tagit Sorang Abraham lahir pada tanggal 30 Juni 1996 sebagai anak pertama dari bapak Taha Sorang dan ibu Yache Sorang Pip Sorang di desa Kra Daadi, Kabupaten Arunachal Pradesh, India. Desa itu adalah wilayah terakhir yang berbatasan dengan Tibet Otonom yang merupakan bagian dari negeri Cina. Desa ini sangat terpencil dan sampai sekarang belum terhubung dengan jalan-jalan transportasi. Keluarganya sangat miskin. Ia memulai sekolahnya di Sekolah St. Claret di Boasimla, lalu sekolah menengahnya di sekolah negeri di Itanagar. Di sana ia juga menyelesaikan kuliahnya dari sekolah tinggi negeri.

Dari kecil Abraham sangat tertarik dengan iman Katolik. Selama sekolah ia tinggal bersama pamannya dan bersamanya mereka menerima pembaptisan pada tahun 2000. Kemudian Abraham mengikuti OMK di paroki yang digembalakan para Salesian di Paroki Santa Maria Itanagar. Ia menjadi seorang anggota misdinar yang rajin. Ia melayani di OMK sebagai sekretaris dan juga aktif di Komisi Pendidikan Asosiai Katolik di Pradesh.

Pada tahun 2016 Sorang bergabung dengan Salesian Kooperator dan memulai proses pembinaan sebagai aspiran, lalu membuat janji sebagai anggota resmi pada tanggal 22 Oktober 2019 ketika Rektor Mayor Pastor Angel Fernandez Artime mengunjungi Provinsi SDB di Dimapur, India. Ia bekerja sebagai penanggung jawab asrama di Don Bosco Youth Center di Itanagar, juga sebagai staf di sebuah NGO yang mengurusi orang muda jalanan dan yang bermasalah di dalam masyarakat.

Dari masih kecil, seorang Abraham amat tertarik untuk menaiki Gunung Everest. Ia telah membaca cerita sejumlah orang terkenal baik dari India maupun dari luar yang sudah menaklukan puncak bumi itu. Ada sebuah sekolah olahraga di kotanya yang menyediakan sebuah pelatihan dan pembinaan di Institut Nasionan Pendaki Gunung dan ia mulai mengikuti kursus itu pada tahun 2013. Pada bulan Maret 2017, ia mencapai puncak Gunung Kangto yang merupakan puncak tertinggi di Arunachal Pradesh dan pada November 2017 ia mencapai puncak Gunung Chumo. Pada tanggal 16 April 2018, ia menaiki Island Peak dari Everest Base Camp di Nepal. Pada 31 Juli 2019 ia menaiki Gunung Kang Yetse di Leh-Ladakh yang memiliki ketinggian 6.215 meter.

Puncak Everest masih tetap menjadi impian lebih besar yang belum ia gapai. Alasan utama ialah ia tidak memiliki biaya yang cukup untuk perjalanan dan pendakian. Ia tidak menyerah. Pada tahun 2021, Departemen Orang Muda Pemerintah Daerah Arunachal Pradesh memberikannya 1 juta Rupe untuk mendukung rencananya itu. Abraham mengumpulkan 1 juta lagi dari teman-teman dan kenalan yang berbaik hati. Kemudian ia juga meminjam uang sebesar 600 ribu Rupe.

Akhirnya ia memiliki biaya yang cukup untuk melakukan ekspedisi ke puncak Everest. Dalam bulan Mei ia mencapai Base Camp II di Nepal. Namun para pendaki menemukan hari-hari bahkan minggu-minggu dengan cuara sangat buruk. Banyak pendaki putus asa dan memutuskan kembali ke tempat atau negara asal mereka. Organisasi Sherpa yang mengatur ekspedisi itu memutuskan untuk membatalkan rencana pendakian, karena cuaca ekstrem itu sangat berisiko bagi keselamatan semua pendaki.

Abraham menyadari bahwa ia tidak mungkin memiliki kesempatan kedua untuk melakukan pendakian puncak Everest. Ia adalah seorang pendevosi kuat kepada Bunda Maria. Ia beroda Rosario dan membaca Kitab Suci seraya memohon supaya Tuhan berkenan memberikan mereka cuaca yang baik. Pada tanggal 29 Mei, cuaca mulai menampakkan perubahan menjadi tenang dan baik. Dan pada tanggal 30 Mei, mereka memulai pendakian ke puncak, dan pada tanggal 31 Mei pukul 08:45 mereka berhasil mencapai puncak Everest.

Berdiri pada puncak tertinggi bumi ciptaan Tuhan ini, ia mengucap syukur dan ingin mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Dengan imannya, Abraham mengetahui bahwa Everest bukanlah Gunung yang paling sulit untuk ditaklukkan. Puncak kekudusan adalah yang tertinggi, yang ingin ia capai melalui pelayanan kasih yang ia berikan kepada orang-orang muda, sebagai seorang Salesian Kooperator. (Sumber: https://www.infoans.org/en/sections/news/item/13072-india-no-mountain-too-high-salesian-cooperator-tagit-sorang-abraham-scales-mount-everest)

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *