Shema: Saat Tuhan Memanggil Kita
Shema: Saat Tuhan Memanggil Kita
Renungan Minggu Biasa XXVIII, oleh Fr. Remigius Dagur, SDB
Ada begitu banyak suara yang hadir dalam kehidupan kita setiap hari. Kita mendengar suara keluarga, teman, rekan kerja, komunitas, berbagai informasi dari media sosial, tuntutan pekerjaan, berita, bahkan suara dari dalam diri sendiri. Di tengah begitu banyak suara tersebut, ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan: suara siapa yang sungguh-sungguh kita dengarkan?
Saya teringat pada sebuah pengalaman ketika menjalani masa pembinaan di novisiat. Dalam sebuah retret yang kami ikuti, pembimbing retret memperkenalkan kepada kami sebuah kata sederhana dari tradisi iman Israel: Shema. Kata ini berasal dari bahasa Ibrani yang berarti dengarlah atau dengarkanlah. Namun, dalam tradisi Kitab Suci, Shema bukan sekadar aktivitas mendengar dengan telinga. Shema mengandung makna mendengarkan dengan hati, menerima Sabda Allah, dan memberikan tanggapan nyata melalui kehidupan.
Kita menemukan seruan Shema yang sangat terkenal dalam Kitab Ulangan:
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
(Ul 6:4–5)
Perintah itu dimulai dengan satu kata: “Dengarlah.” Sebelum mengasihi, sebelum bertindak, sebelum menjalankan perutusan, manusia pertama-tama dipanggil untuk mendengarkan Allah.
Mendengarkan berarti memberikan ruang bagi Tuhan untuk berbicara dan membentuk hidup kita. Karena itu, Shema bukan hanya tentang apa yang masuk melalui telinga, tetapi tentang apa yang kita izinkan masuk ke dalam hati dan kemudian diwujudkan dalam tindakan.
Ketika kesibukan membuat kita sulit mendengar
Dalam Injil, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang raja yang mengadakan perjamuan bagi anaknya. Ia mengutus para hambanya untuk memanggil orang-orang yang telah diundang. Namun, mereka tidak mengindahkan undangan tersebut. Ada yang pergi mengurus ladangnya, ada yang mengurus usahanya, bahkan ada yang memperlakukan para utusan dengan kasar (bdk. Mat 22:1–14).
Menarik bahwa orang-orang tersebut tidak selalu menolak undangan karena mereka tidak percaya kepada sang raja. Mereka justru terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Di sinilah perumpamaan itu menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita sekarang.
Kita mungkin tidak secara sadar menolak Tuhan. Namun, bisa jadi kita terlalu sibuk untuk mendengarkan-Nya. Kita sibuk dengan pekerjaan, pelayanan, studi, target, agenda, media sosial, relasi, berbagai tanggung jawab, bahkan kesibukan pelayanan di dalam Gereja. Semua itu pada dirinya sendiri baik. Namun, sesuatu yang baik pun dapat menjadi penghalang apabila membuat kita kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan.
Kadang-kadang masalah kita bukan karena Tuhan berhenti berbicara, melainkan karena kita terlalu penuh dengan suara-suara lain sehingga tidak lagi menyediakan ruang untuk mendengarkan-Nya.
Karena itu, Shema menjadi undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah saya sungguh-sungguh masih mendengarkan Tuhan?
Apakah Sabda-Nya mempunyai tempat dalam keputusan-keputusan yang saya buat? Apakah nasihat orang lain, terutama mereka yang dipercayakan Tuhan untuk mendampingi perjalanan hidup saya, masih mampu saya dengarkan dengan hati terbuka? Apakah pengalaman sehari-hari, sukacita maupun kesulitan, masih saya baca sebagai tempat di mana Tuhan sedang berbicara?
Tuhan berbicara melalui banyak cara
Tuhan tidak selalu berbicara melalui sesuatu yang luar biasa. Sering kali Ia hadir melalui hal-hal yang sangat sederhana: melalui Sabda yang kita baca, doa yang kita lakukan, Ekaristi yang kita rayakan, seseorang yang membutuhkan perhatian, nasihat seorang sahabat, teguran seorang pembimbing, pengalaman kegagalan, bahkan melalui orang muda yang dipercayakan kepada kita.
Dalam spiritualitas Salesian, perhatian terhadap kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari mempunyai tempat yang sangat penting. Don Bosco mengajarkan untuk hadir di tengah orang muda, mengenal mereka, mendengarkan mereka, mendampingi mereka, dan membawa mereka kepada perjumpaan dengan Allah.
Karena itu, semangat Shema juga berarti belajar menjadi pribadi yang mampu mendengarkan orang lain.
Mendengarkan orang muda yang sedang mencari arah hidup. Mendengarkan seorang anak yang membutuhkan perhatian. Mendengarkan seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Mendengarkan rekan yang mungkin tidak mampu mengungkapkan pergumulannya dengan kata-kata.
Dalam pelayanan Salesian, mendengarkan bukan sekadar metode pastoral. Mendengarkan adalah sebuah bentuk kasih.
Don Bosco memahami bahwa seorang anak muda perlu terlebih dahulu merasa dikenal, diterima, dicintai, dan ditemani. Karena itu, kehadiran seorang pendamping bukan hanya soal memberikan nasihat, tetapi juga kesediaan untuk hadir dan mendengarkan.
Di sinilah Shema mendapatkan dimensi yang lebih luas: kita mendengarkan Tuhan supaya kita mampu mendengarkan sesama. Dan ketika kita sungguh mendengarkan sesama, kita sering kali menemukan bahwa Tuhan sendiri sedang berbicara kepada kita melalui mereka.
Dari mendengarkan menuju tindakan
Namun, Shema tidak berhenti pada mendengarkan.
Mendengarkan Sabda Tuhan selalu mengarah kepada tindakan. Kita tidak dipanggil hanya untuk menjadi orang yang mengetahui kehendak Allah, tetapi menjadi orang yang berani menjalaninya.
Santo Yakobus mengingatkan:
“Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.”
(Yak 1:22)
Inilah tantangan Shema. Setelah mendengar, apa yang kita lakukan?
Mungkin Tuhan memanggil kita untuk lebih sabar terhadap seseorang. Mungkin Ia mengundang kita untuk mengampuni. Mungkin Ia meminta kita memberikan waktu kepada seseorang yang kesepian. Mungkin Ia menggerakkan hati kita untuk memperhatikan orang muda yang mulai menjauh. Mungkin Ia mengajak kita untuk lebih setia dalam doa, lebih bertanggung jawab dalam pekerjaan, atau lebih sederhana dalam menggunakan berbagai hal yang kita miliki.
Panggilan Tuhan sering kali hadir bukan dalam tindakan yang spektakuler, melainkan dalam kesetiaan terhadap hal-hal kecil yang dilakukan dengan kasih yang besar.
Semangat inilah yang sangat dekat dengan spiritualitas Salesian. Don Bosco tidak pertama-tama mengajak orang muda untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia mengajarkan kepada mereka untuk menjadi baik melalui kehidupan sehari-hari: belajar dengan sungguh-sungguh, menjalankan tanggung jawab, menjaga persahabatan, berdoa, bergembira secara sehat, dan melakukan kebaikan kepada sesama.
Kesucian, dalam perspektif Salesian, bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kesucian tumbuh ketika kita belajar menemukan Tuhan dalam rutinitas dan menjalankan tugas sehari-hari dengan cinta.
Mendengarkan Tuhan di tengah kebisingan zaman
Kita hidup dalam zaman yang penuh suara. Informasi datang begitu cepat. Kita dapat mengetahui begitu banyak hal dalam waktu singkat. Namun, di tengah banjir informasi, kita justru dapat kehilangan kemampuan untuk mendengarkan secara mendalam.
Kita mungkin mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi belum tentu mengenal isi hati sendiri. Kita dapat mengikuti begitu banyak berita, tetapi belum tentu mampu mengenali apa yang Tuhan sedang kehendaki dari hidup kita.
Karena itu, Shema adalah panggilan untuk kembali kepada keheningan hati.
Berhenti sejenak. Membuka Kitab Suci. Datang kepada Ekaristi. Berdoa. Mendengarkan. Membiarkan Sabda Tuhan menyentuh kehidupan kita. Kemudian bertanya dengan rendah hati:
“Tuhan, apa yang Engkau kehendaki dariku hari ini?”
Pertanyaan itu dapat mengubah cara kita menjalani kehidupan.
Bagi seorang Salesian, pertanyaan tersebut dapat dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih konkret:
“Siapa orang muda yang Engkau percayakan kepadaku hari ini?”
“Siapa yang membutuhkan kehadiranku?”
“Siapa yang perlu kudengarkan?”
“Di mana Engkau mengundangku untuk menjadi tanda kasih-Mu?”
Sebab, Da mihi animas, cetera tolle—“Berilah aku jiwa-jiwa, yang lain ambillah”—bukan hanya sebuah motto yang indah. Ia adalah semangat hidup. Semangat untuk mencari, menemani, dan menyelamatkan jiwa-jiwa, terutama kaum muda.
Menjadi pribadi yang mendengar dan diutus
Pada akhirnya, Shema bukan hanya tentang mendengarkan suara Tuhan, tetapi tentang membiarkan suara itu mengubah kehidupan kita.
Tuhan terus memanggil. Ia memanggil kita melalui Sabda-Nya, melalui Gereja, melalui Ekaristi, melalui orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita, melalui mereka yang membutuhkan perhatian, dan melalui berbagai peristiwa yang kita alami setiap hari.
Pertanyaannya bukan apakah Tuhan masih berbicara.
Pertanyaannya adalah: apakah kita masih mau mendengarkan?
Dan setelah mendengarkan, apakah kita berani menjawab?
Semoga kita tidak menjadi seperti mereka dalam perumpamaan Yesus yang begitu sibuk dengan urusan sendiri hingga mengabaikan undangan Tuhan. Sebaliknya, semoga kita memiliki hati yang peka untuk mengenali suara-Nya dan keberanian untuk menjawabnya.
Dalam semangat Don Bosco, semoga kita belajar menjadi pribadi yang hadir, mendengarkan, mendampingi, dan membawa kaum muda semakin dekat kepada Allah.
Sebab pada akhirnya, Shema bukan hanya sebuah kata.
Shema adalah sebuah sikap hidup: membuka telinga, membuka hati, lalu membuka diri untuk diutus.
Tuhan memanggil.
Tuhan berbicara.
Tuhan mengundang.
Sudahkah kita mendengarkan?