get in touch
S D B I N D O N E S I A

Menghidupi Iman, Mewujudkan Misi

Renungan Hari Minggu Biasa XXIX – Hari Minggu Misi Sedunia 2026

Bacaan Injil: Matius 22:15–21

Oleh: Fr. Ariel Syaron Tuga Baso, SDB

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita bisa begitu khusyuk berdoa di kapel, tetapi begitu mudah kehilangan kesabaran ketika berhadapan dengan sesama? Mengapa kita bisa berbicara dengan sopan kepada orang yang baru dikenal, tetapi justru mengeluarkan kata-kata seenaknya kepada saudara yang setiap hari hidup bersama kita? Mengapa kita mudah berbicara tentang kasih, tetapi terkadang sulit mewujudkannya dalam tindakan sederhana?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kita melihat kembali hubungan antara iman yang kita rayakan dan kehidupan yang kita jalani. Sebab, iman bukan hanya tentang apa yang kita ucapkan dalam doa, melainkan juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama, menjalankan tanggung jawab, dan menghadirkan kasih Allah di tengah dunia.

Pada Hari Minggu Misi Sedunia tahun ini, Gereja mengajak kita merenungkan tema “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi.” Perayaan ini mengingatkan kita bahwa panggilan misioner bukan hanya tugas para imam, biarawan, biarawati, atau mereka yang diutus ke negeri yang jauh. Setiap orang yang dibaptis dipanggil menjadi saksi Kristus melalui kehidupan sehari-hari, di tengah keluarga, komunitas, tempat kerja, sekolah, dan masyarakat.

Lalu, bagaimana kita dapat mewujudkan misi itu secara konkret?

1. Gambar siapa yang tampak dalam hidup kita?

Dalam Injil Matius 22:15–21, orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang kewajiban membayar pajak kepada Kaisar. Pertanyaan itu bukan sekadar persoalan administratif atau ekonomi. Mereka ingin menempatkan Yesus dalam posisi sulit: jika Ia mendukung pembayaran pajak, Ia berisiko dianggap berpihak kepada kekuasaan Romawi; jika Ia menolaknya, Ia dapat dituduh melawan pemerintah.

Yesus tidak terperangkap dalam permainan tersebut. Ia meminta sekeping uang dinar dan bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Ketika mereka menjawab bahwa gambar dan tulisan itu milik Kaisar, Yesus berkata,

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Jawaban Yesus membawa persoalan itu ke tingkat yang lebih mendalam. Ia tidak hanya berbicara tentang kewajiban terhadap penguasa, tetapi juga mengingatkan para pendengar-Nya akan kewajiban mendasar manusia terhadap Allah.

Jika uang dinar memiliki gambar Kaisar, kita pun dapat bertanya: gambar siapa yang tampak dalam kehidupan kita?

Kitab Kejadian mengingatkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26–27). Karena itu, hidup kita seharusnya mencerminkan kebaikan, kasih, keadilan, dan kepedulian Allah. Identitas sebagai orang beriman tidak cukup ditunjukkan melalui simbol-simbol keagamaan, pakaian yang kita kenakan, atau kegiatan rohani yang kita ikuti. Identitas itu harus tampak dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, dan menjalankan tanggung jawab.

Bagi seorang Salesian, pertanyaan ini menjadi semakin konkret. Apakah semangat Don Bosco sungguh terlihat dalam cara kita memperlakukan kaum muda? Apakah kita menghadirkan sukacita, kesabaran, dan keramahan di tengah komunitas? Apakah orang-orang yang kita jumpai dapat merasakan kasih Allah melalui kehadiran kita?

Misi dimulai ketika iman tidak berhenti sebagai identitas yang kita kenakan, tetapi menjadi kehidupan yang sungguh kita jalani.

2. Misi dimulai dari hal-hal sederhana

Kita sering membayangkan misi sebagai perjalanan jauh ke daerah terpencil, pewartaan Injil di negeri lain, atau pelayanan besar yang melibatkan banyak orang. Semua itu memang bagian penting dari perutusan Gereja. Namun, misi juga berlangsung dalam peristiwa-peristiwa sederhana yang kita alami setiap hari.

Misi dimulai ketika kita memilih mendengarkan daripada menghakimi, mengampuni daripada menyimpan dendam, membantu daripada bersikap acuh tak acuh, dan membangun persaudaraan daripada memperbesar perbedaan.

Kehidupan komunitas memberikan banyak kesempatan untuk belajar tentang misi. Kita mungkin rajin mengikuti Ekaristi, meditasi, dan doa bersama, tetapi masih mudah marah ketika ditegur. Kita bisa berbicara tentang kasih, tetapi melontarkan candaan yang melukai hati saudara sendiri. Kita bisa mengajarkan kesabaran kepada kaum muda, tetapi kehilangan kesabaran ketika berhadapan dengan mereka yang berbeda pendapat.

Tentu saja, menjadi pribadi beriman bukan berarti kita tidak pernah marah, kecewa, atau melakukan kesalahan. Kita tetap manusia yang sedang bertumbuh. Namun, iman mengajak kita berani mengakui kekurangan, menerima koreksi, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Dalam semangat Don Bosco, persaudaraan bukan sekadar hidup bersama di bawah satu atap. Persaudaraan adalah ruang pendidikan tempat setiap orang belajar menghargai, mendampingi, dan membantu sesamanya bertumbuh.

Lapangan bermain, meja makan, ruang belajar, pembagian tugas, dan percakapan santai dapat menjadi tempat misi yang nyata. Di sana, kita belajar bahwa pewartaan Injil tidak selalu membutuhkan kata-kata yang hebat. Terkadang, sikap yang sabar, senyum yang tulus, dan kesediaan untuk hadir bagi seseorang justru menjadi kesaksian yang paling kuat.

Maka, jangan sampai kita begitu pandai berbicara tentang Don Bosco, tetapi orang-orang di sekitar kita sulit menemukan semangat Don Bosco dalam perilaku kita. Jangan sampai kita mengajarkan sukacita kepada kaum muda, tetapi kehadiran kita justru membuat mereka merasa tidak diterima.

Menjadi misionaris berarti membiarkan Kristus hadir melalui cara kita hidup, bahkan ketika tidak ada orang yang memberikan pujian.

3. Misi di tengah luka bumi: belajar mendengarkan jeritan ciptaan

Pada Hari Minggu Misi Sedunia tahun ini, kita merayakan panggilan untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang tidak selalu baik-baik saja. Salah satu kenyataan yang patut menjadi perhatian kita adalah kebakaran hutan dan lahan yang kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan.

Api yang melalap hutan bukan hanya persoalan pepohonan yang terbakar atau lahan yang kehilangan kehijauannya. Di baliknya ada masyarakat yang harus menghadapi asap dan gangguan kesehatan, keluarga yang aktivitasnya terganggu, anak-anak yang kesulitan belajar ketika kualitas udara memburuk, serta satwa liar yang kehilangan habitatnya.

Hutan bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia. Hutan merupakan bagian dari rumah bersama, tempat berbagai makhluk hidup saling bergantung. Ketika hutan rusak, kehidupan manusia dan makhluk ciptaan lainnya ikut terancam.

Situasi ini mengajak kita bertanya: apa artinya mewartakan Injil ketika bumi yang menjadi tempat tinggal bersama sedang terluka? Apa artinya berbicara tentang kasih Allah jika kita tidak peduli terhadap penderitaan manusia dan kerusakan lingkungan di sekitar kita?

Paus Fransiskus, dalam ensiklik Laudato Si’, mengingatkan bahwa segala sesuatu saling terhubung. Kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap manusia, terutama mereka yang paling rentan menanggung akibat kerusakan alam.

Karena itu, kepedulian ekologis bukanlah tambahan yang berada di luar misi Gereja. Merawat ciptaan merupakan bagian dari tanggung jawab iman kita. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengagumi keindahan alam sebagai karya Allah, tetapi juga menjaga agar keindahan dan daya dukungnya tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

Dalam konteks kebakaran hutan di Kalimantan, misi dapat diwujudkan melalui doa bagi masyarakat terdampak dan petugas yang bekerja di lapangan, dukungan kepada gerakan kemanusiaan dan pemulihan lingkungan yang bertanggung jawab, serta pendidikan ekologis bagi anak-anak dan kaum muda. Kita juga dapat membangun kebiasaan sederhana: mengurangi pemborosan, menggunakan sumber daya secara bijaksana, menjaga lingkungan sekitar, dan mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Tentu saja, tanggung jawab ini tidak boleh dibebankan hanya kepada individu. Pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan berbagai lembaga memiliki peran masing-masing dalam mencegah kebakaran, melindungi hutan, serta memastikan bahwa kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan sungguh diperhatikan.

Bagi kita yang hidup dalam semangat Salesian, perhatian terhadap alam juga menjadi kesempatan pendidikan. Kaum muda perlu dibantu untuk memahami bahwa mereka bukan hanya pewaris masa depan, melainkan juga pelaku perubahan pada masa sekarang. Mereka dapat belajar mencintai ciptaan, mengembangkan solidaritas, dan mengambil bagian dalam tindakan nyata demi kebaikan bersama.

Dengan demikian, misi tidak hanya berarti membawa manusia semakin dekat kepada Allah, tetapi juga ikut membangun dunia yang lebih manusiawi, adil, dan layak dihuni. Kita mewartakan Injil ketika berani berdiri di pihak kehidupan, mendampingi mereka yang menderita, dan merawat rumah bersama yang dipercayakan Allah kepada kita.

4. Satu dalam Kristus, bersatu dalam misi

Tema Hari Minggu Misi Sedunia tahun ini mengandung dua hal yang tidak dapat dipisahkan: persatuan dengan Kristus dan kesatuan dalam perutusan.

Kita tidak dapat menjalankan misi Kristiani hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan Kristus sebagai sumber inspirasi, kekuatan, dan arah pelayanan. Sebaliknya, persatuan dengan Kristus tidak boleh membuat kita menutup diri dari dunia. Semakin dekat kita dengan-Nya, semakin luas pula hati kita untuk mengasihi sesama dan memperhatikan kebutuhan mereka.

Yesus sendiri memperlihatkan bahwa kasih Allah menjangkau manusia tanpa memandang latar belakang, status sosial, atau keadaan hidupnya. Ia mendekati mereka yang tersisih, menyembuhkan yang sakit, mengampuni orang berdosa, dan mengundang setiap orang untuk mengalami kehidupan baru.

Semangat inilah yang perlu kita hadirkan dalam misi Gereja masa kini.

Dalam tradisi Salesian, Don Bosco menunjukkan bahwa pendidikan dan pewartaan Injil bertumbuh melalui kehadiran yang penuh kasih, pendampingan yang sabar, serta keyakinan bahwa setiap kaum muda memiliki martabat dan potensi untuk berkembang. Misi tidak dijalankan dengan menjauhkan diri dari kenyataan hidup mereka, melainkan dengan hadir di tengah pergumulan, harapan, dan cita-cita mereka.

Karena itu, persatuan dalam misi bukan berarti semua orang harus melakukan hal yang sama. Ada yang diutus untuk mewartakan Injil melalui pelayanan pastoral, ada yang mendidik di sekolah, ada yang mendampingi kaum muda, ada yang merawat orang sakit, dan ada pula yang memperjuangkan kelestarian lingkungan serta kesejahteraan masyarakat.

Bentuk pelayanan kita mungkin berbeda, tetapi sumber dan tujuannya tetap satu: Kristus dan Kerajaan Allah.

Di sinilah sabda Yesus tentang memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah memperoleh makna yang lebih mendalam. Kita menyerahkan hidup kepada Allah bukan hanya melalui doa dan ibadah, melainkan juga melalui kesediaan untuk mengasihi, melayani, dan bertanggung jawab atas kehidupan yang dipercayakan kepada kita.

Kita membutuhkan doa agar pelayanan tidak kehilangan arah. Kita juga membutuhkan tindakan nyata agar doa tidak berhenti sebagai kata-kata. Keduanya saling melengkapi dan membentuk kesaksian hidup yang utuh.

Penutup: Biarlah dunia mengenal Kristus melalui hidup kita

Mungkin orang lain tidak selalu mengingat renungan yang kita sampaikan, nasihat yang kita berikan, atau kegiatan yang kita selenggarakan. Namun, mereka dapat mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka ketika melakukan kesalahan, bagaimana kita hadir ketika mereka membutuhkan pertolongan, dan apakah kehadiran kita membuat mereka merasa dihargai.

Demikian pula, generasi mendatang tidak hanya akan mengingat apa yang kita katakan tentang keindahan ciptaan. Mereka juga akan mengalami akibat dari cara kita memperlakukan bumi hari ini.

Hari Minggu Misi Sedunia mengajak kita kembali kepada pertanyaan mendasar: apakah hidup kita sungguh menjadi kesaksian tentang Kristus?

Jika pada uang dinar terdapat gambar Kaisar, biarlah kehidupan kita mencerminkan gambar Allah. Jika kita mengaku sebagai murid Kristus, biarlah kasih-Nya tampak dalam persaudaraan, pelayanan, dan kepedulian kita terhadap mereka yang menderita. Jika kita menghidupi semangat Don Bosco, biarlah kaum muda menemukan dalam diri kita pendidik yang hadir, sahabat yang mendengarkan, dan saudara yang membantu mereka bertumbuh.

Dan ketika hutan-hutan Kalimantan terbakar, ketika masyarakat menghadapi asap dan ketidakpastian, serta ketika ciptaan kehilangan ruang untuk hidup, semoga kita tidak berhenti pada rasa prihatin. Biarlah kepedulian itu menggerakkan kita untuk berdoa, bertindak, mendampingi, dan ikut memperjuangkan perubahan.

Sebab, misi bukan hanya tentang pergi ke tempat yang jauh. Misi adalah kesediaan untuk menghadirkan kasih Kristus di tempat kita berada, melalui apa yang kita lakukan dan bagaimana kita memperlakukan kehidupan.

Satu dalam Kristus, bersatu dalam misi: menghadirkan kasih Allah bagi sesama dan merawat bumi sebagai rumah bersama.

Damihi Animas, Caetera Tolle — Berilah aku jiwa-jiwa, yang lain ambillah.

Leave A Comment

Subscribe to our newsletter

    Working hours
    Contact information