get in touch
S D B I N D O N E S I A

Bagaimana cara saya sungguh-sungguh mendengarkan suara tuhan?


Kata panggilan menunjukkan misi dalam hidup yang dipercayakan Tuhan kepada manusia, namun maknanya jauh lebih dalam dari sekedar apa yang harus mereka lakukan. Yang lebih penting, kata ini menggambarkan akan menjadi sosok seperti apa mereka nantinya. Dapat dikatakan bahwa Panggilan Kristiani adalah panggilan dari Tuhan kepada setiap orang yang telah dibaptis untuk menjalani hidup sebagai pengikut Yesus Kristus yang setia. ita harus ingat bahwa pilihan panggilan dimulai seja kita masih sangat mudah. Orang tua dan guru sering bertanya kepada anak-anak, “Ingin jadi apa alau sudah besar nanti?” Seorang anak memikirkan dan berpura-pura menjadi banyak hal. Itulah yang dilakukan anak-anak; itu menyenangkan. Seiring bertambahnyya usia, orang mudah tersebut mulai fokus secara lebih serius pada berbagai kemungkinan yang muncul dari pengalaman, pendidikan, dan preferensi pribadi. Menemukan panggilan seseorang adalah proses yang sangat alami namun terencana. Memilih panggilan hidup sebenarnya adalah tentang mendegarkan suara Tuhan dan membuat sejumlah pilihan. Pertanyaannya adalah – Bagaimana cara saya sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan? Bagaimana saya tahu apa yang Tuhan inginkan bagi saya untuk menjadi siapa dan melakukan apa dalam hidup ini? Proses inilah yang disebut sebagai diskresi (pembedaan roh) panggilan! Sebagai seorang Kristiani yang telah dibaptis, saya memiliki pilihan-pilihan berikut: Apakah saya akan menikah, tetap melajang, atau mungkinkah Tuhan memanggil saya untuk membaktikan hidup saya kepada-Nya sebagai imam, bruder, suster, atau mungkin sebagai orang yang menjalani hidup bakti?

Tetapi, apakah tuhan memanggil?


YA! Tuhna memanggil kita masing-masing untuk hidup. Tuhan memanggil kita menuju keutuhan diri dan pelayanan. Tugas seorang muda yang menuju kedewasaan adalah membedakan (diskresi) jalan mana yang Tuhan ingin ia lalui. Tuhan memanggil sebagian besar orang untuk menikah dan berkeluarga. Bagi seorang dewasa, muda Kristiani, ini adalah keputusan yang sangat penting. Memilih untuk menikah bukan sekedar tanggapan romantis, melainkan sebuah proses yang sangat sepsifik yang mencakup doa, penyelidikan, pendampingan, kterelibatan, dan pengalaman. Tuhan juga memanggil beberapa orang ke dalam kehidupan religius sebagai Suster, Bruder, atau Imam. Panggilan religius mengikuti proses yang sama. Kami menyebutnya sebagai proses diskresi.

Proses Diskresi


Proses Diskresi adalah menemukan arah dan bimbinga Tuhan dalam realitas konkret kehidupan sehari-hari.

1, Berhenti dan refleksikan!

Refleksikan peristiwa-peristiwa biasa dalam hidup kita: Sungguh, diskresi menuntut kepekaan terhadap dunia batin kita dan kemampuan untuk merenungkan apa yang kita alami.

2. Jangan sendirian! bertanya dan cari tahu

Berbicaralah dengan orang-orang yang pendapatnya Anda hormati. Membacalah. Jika Anda memikirkan panggilan religius, berbicaralah dengan seorang Bruder, Suster, atau Imam.

3. Terlibatlah

Cara terbaik untuk memahami apakah Anda akan menikmati pelayanan adalah dengan terjun langsung menjadi sukarelawan. Gereja membutuhkan orang muda seperti Anda.

4. Mengapa tidak mencoba pengalamannya?

Kunjungilah komunitas religius, paroki, atau seminari Anda. Lihatlah bagaimana mereka hidup dan bekerja. Seminari dan komunitas religius selalu siap menyambut orang-orang yang tertarik untuk menghabiskan beberapa hari bersama komunitas guna melihat langsung kehidupan dan pelayanan seorang Suster, Bruder, atau Imam.

5. Miliki kebiasaan doa pribadi

Luangkan waktu sejenak setiap hari untuk bercakap-cakap dengan Tuhan. Tanyalah kepada-Nya, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan dengan hidupku?” Dengan begitu, kita tetap terbuka pada tuntutan Tuhan.

6. Putuskan

Gereja membutuhkan Suster, Bruder, dan Imam yang berdedikasi untuk mewartakan Injil Yesus Krsitus. Anda bisa menjawab panggilan itu. Setelah doa, refleksi, keterlibatan, dan pengalaman, ikutilah kata hati Anda. Pertanyaan intinya adalah, “Dapatkah saya membayangkan diri saya sebagai seorang religius atau pelayan gereja?” Jika jawabannya ya, inilah saatnya bertindak. Inilah saatnya berbicara dengan seorang direktur panggilan.

PROSES PEMBINAAN SALESIAN


Masa Aspiran

Selama fase ini, para aspiran tinggal dalam komunitas pembinaan Salesian dan membedakan pilihan (diskkresi) untuk menjadi seorang Imam Salesian (klerus) atau Bruder. Program ini terdiri dari doa, karya kerasulan (pastoral), dan biasanya mereka didorong untuk melanjutkkan pendidikan universitas atau pendidikkan tinggi lainnya sesuai dengan bidang minat mereka.

Tahun ini berfokus pada integrasi dimensi manusiawi dalam memahami diri sendiri untuk membantu pra-novis mengikuti Kristus dalam kehidupan religius. Selain itu, karya kerasulan dan pendampingan pribadi mepersiapkan para pra-novis untuk memasuki masa novisiat.

Ini adalah tahun formal untuk mengikuti ristus dalam pengalaman religius Salesian. Para novis mulai memahami identitas Salesian dari panggilan mereka dengan menghidupi konstitusi Salesian sebagai bagian dari diri mereka sendiri dan dengan menjalani hidup persaudaraan dalam komunitas. Fase ini, yang ditandai dengan diskresi dan doa, mempersiapkan novis untuk kaul pertama mereka (mengucapkan kaul kemisinan, kemurnian, dan ketaatan), sebuah jawaban hidup untuk memberikan diri mereka sepenuhnya sebagai tanda dan pembawa kasih Allah bagi kaum muda.

Para post-novis, yang disebut sebagai saudara religius, menyelesaikkan atau memperluas pendidikan di universitas mereka (studi filsafat), melanjutkan kehidupan persaudaraan dalam komunitas, dan ditugaskan dalam suatu karya kerasulan. Porgram ini mempersiapkan mereka untuk diutus ke lokasi karya Salesian.

Para konfrater ditempatkan selama dua tahun di sekolah, paroki, atau pusat kaum muda Salesian. Mereka diberikan tanggung jawab yang luas untuk menjalankan pendidikan dan evangelisasi khas Salesian, sembari melanjutkan proses pembentukan dalam mengintegrasikan doa, kerja, dan hidup persaudaraan dalam komunitas

Para konfrater yang telah memilih status “Bruder” melanjutkan pendidikan tambahan (spesialisasi) atau ditempatkan di lokasi karya Salesian. Sementara itu, para konfrater yang memilih jalan imamat menempuh studi teologi selama masa empat tahun. Kaul kekal untuk kedua pilihan tersebut dilakukan enam tahun setelah kaul pertama.

Subscribe to our newsletter

    Working hours
    Contact information