get in touch
S D B I N D O N E S I A

Tangisan Don Bosco di Altar Ekaristi & Narasi Sejarah Keselamatan Paulus dalam Kisah Rasul (bab 13)

Ada satu momen yang sangat menyentuh dari kehidupan Don Bosco: pada 16 Mei 1887, dalam kondisi lemah dan kelelahan, ia merayakan Misa di Gereja Hati Kudus di Roma—sebuah gereja yang dibangun melalui begitu banyak perjuangan, kesulitan, dan air mata. Di hadapan altar Maria Penolong Umat Kristiani, ia berkali-kali berhenti karena tak kuasa menahan tangis. Bukan sekadar haru, melainkan sebuah pengalaman batin yang mendalam: di saat itu, seluruh perjalanan hidupnya seperti terbuka dengan jelas. Mimpi masa kecilnya, yang dulu tampak samar dan misterius, kini nyata sebagai rencana Tuhan yang perlahan tetapi pasti digenapi dalam hidupnya.

 “Pada waktunya, kamu akan mengerti semuanya.”

Pengalaman Don Bosco ini menggemakan cara Rasul Paulus berkotbah dalam Kisah Para Rasul 13:13–25. Di hadapan umat, Paulus tidak langsung berbicara tentang dirinya, melainkan mengajak mereka melihat kembali sejarah panjang bangsa Israel: bagaimana Tuhan memilih, membebaskan dari Mesir, menuntun di padang gurun, memberikan tanah, para hakim, hingga raja—semuanya adalah rangkaian karya penyertaan Tuhan yang setia dari waktu ke waktu. Baru setelah itu, Paulus menunjukkan bahwa semua sejarah itu mencapai puncaknya dalam karya keselamatan Allah.

Baik Don Bosco maupun Paulus mengajarkan hal yang sama: iman bukan hanya tentang masa kini, tetapi tentang kemampuan untuk melihat kembali—membaca ulang hidup sebagai kisah yang dituntun oleh Tuhan. Sering kali kita terjebak pada potongan-potongan kecil pengalaman: kegagalan, penantian, atau ketidakpastian. Namun ketika kita berani menengok ke belakang dengan iman, kita mulai melihat pola yang lebih besar—bahwa Tuhan tidak pernah absen, melainkan terus bekerja, bahkan melalui jalan yang tidak kita mengerti.

Karena itu, ketika hidup terasa berat atau membingungkan, mungkin yang kita butuhkan bukan jawaban instan, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan kita. Seperti Don Bosco di altar “air mata”, dan seperti Paulus dalam kotbahnya, kita diajak menyadari bahwa di balik setiap langkah—bahkan yang paling sulit sekalipun—ada tangan Tuhan yang setia menuntun. Dan dari sanalah kita menemukan kekuatan untuk terus maju, dengan keyakinan bahwa cerita kita pun sedang diarahkan menuju kepenuhan rencana-Nya.

St. Yohanes Bosco, doakanlah kami.

Leave A Comment

Subscribe to our newsletter

    Working hours
    Contact information