Santo Yohanes Bosco, seorang imam, pendidik, dan penulis, dikenang sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani anak-anak dan kaum muda yang terlantar, dengan mendirikan oratorium dan rumah-rumah, serta membangun sebuah keluarga – Salesian. Lebih dari seratus lima puluh tahun yang lalu, ia berjuang melawan perlakuan buruk terhadap kaum muda di tengah kemiskinan yang parah yang terjadi pada masa itu di kota Turin (Italia). Ia terdorong oleh pengalaman langsung melihat dampak kemiskinan dan kelaparan yang mengerikan terhadap kaum muda yang ia temui. Ia bertekad untuk mengubah kondisi mereka. Banyak orang kemudian mengikuti teladan inspirasionalnya dalam menaggapi kebutuhan anak-anak dan kaum muda. Serikat Salesian Don Bosco didirikan di tengah kemiskinan sebuah kota yang saat ini kita anggap sebagai salah satu yang paling maju secara finansial di dunia.
Selama masa Don Bosco, Eropa sedang mengalami gejolak politik dan sosial yang besar, seperti perubahan radikal dalam politik dunia akibat revolusi liberal, runtuhnya dinasti-dinasti, diberlakukannya konstitusi-konstitusi baru, dan sebagainya. Namun demikian, sebuah “revolusi” yang sangat berbeda muncul di hati seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, John (Giovanni) Bosco, saat ia sedang bermimpi di pinggiran kota Turin, Italia. Dalam mimpi itu, seorang pria berbicara kepadanya tentang karya-karya besar yang akan ia lakukan di kemudian hari, dan seorang wanita cantik yang bersinar seperti bintang-bintang menjanjikan bantuan tanpa henti kepadanya.
"Pada Waktu yang tepat, kamu akan memahami semuanya," kata wanita itu sebelum ia terbangun.
Memang, enam puluh tiga tahun berlalu sebelum anak itu benar-benar memahami makna mimpinya. Don Bosco sedang merayakan Misa Kudus di altar Maria Penolong Umat Kristiani di Basilika Hati Kudus di Roma. Kini sebagai seorang lelau tua yang telah renta dan mendeati akhir dari kehidupan yang melelahkan namun luar biasa, ia diliputi oleh kesadaran ini dan beberapa kali berhenti serta menangis sepanjang Misa. Don Bosco wafat tujuh bulan kemudian, dikelilingi oleh ratusan anak muda yang ia kasihi dan yang juga sangat mengasihinya. Apa yang terjadi di antara dua peristiwa luar biasa ini, sebuah kisah yang berlangsung selama enam puluh tiga tahun penuh, begitu mendalam sehingga berjilid-jilid tulisan pun tidak akan cukup untuk menggambarkannya, apalagi hanya penjelasan singkat ini.
Ini adalah kisah seorang anak laki-laki yang lahir dalam kemiskinan yang sangat besar, tetapi dibesarkan oleh seorang ibu yang penuh kasih dan kelembutan yang mengajarkannya tentang kasih Tuhan serta kewajibannya untuk berbagi dari sedikit yang ia miliki. Ini adalah kisah seorang imam yang mengejar sebuah visi yang tidak selalu dipahami oleh dunia; sebuah visi yang menghadapi penentangan dari para politisi, berbagai lapisan masyarakat, bahkan Gereja itu sendiri. Ini adalah kisah seorang pendidik yang menyadari, bahkan sebelum para teoretikus atau akademisi, bahwa cara mendidik seorang anak adalah melalui agama, akal budi, dan kasih sayang. Ini adalah kisah seorang santo. Karena tentu saja, pria dan wanita dalam mimpi itu adalah Tuhan kita Yesus Kristus dan Bunda-Nya, Perawan Maria yang Terberkati, dan mereka sedang menanamkan dalam jiwa anak itu sebuah misi yang akan mengubah kehidupan begitu banyak orang. Dengan Tuhan sebagai kekuatannya dan Santa Maria sebagai penuntunnya, Don Bosco memberikan, dan masih memberikan, kepada kaum muda di seluruh dunia sebuah pesan yang sangat sederhana namun mendalam, yang menekankan sukacita Injil, pentingnya kehidupan sakramental yang teratur, dan pentingnya doa.
Saat ini, karya Santo Yohanes Bosco terus berlanjut di seratus tiga puluh dua negara di seluruh dunia melalui keluarga Salesian, yang terdiri dari Serikat Salesian Don Bosco, Putri-putri Maria Penolong Umat Kristiani, Salesian Kooperator, serta banyak gerakan dan kelompok lain yang mengikuti karisma Don Bosco.