RUMAH INI RUMAH KITA

Seorang Salesian lanjut usia pernah berkata: “Rumah ini difoto dari sudut mana pun akan terlihat indah dan spesial.”

Salesian lansia itu melanjutkan, “Keindahan dan yang membuat dia spesial sebenarnya sudah ditemukan sejak awal, persisnya sejak masih sebagai tanah kosong dan sedang dipersiapkan untuk dibangun”. Ia sedang berbicara dengan didengar oleh para Salesian muda. Perhatian mereka semua semakin tajam karena ingin mengetahui kelanjutan cerita itu. Semua mata tidak berkedip. Ada yang menahan nafas sebentar, tanda mereka ingin mendengar penuh saksama dan tidak ada satu kata pun yang luput dari pendengaran mereka.

Imam misionaris yang sudah 50 tahun usia tahbisannya itu melanjutkan: “Saat belum ada bangunan ini, burung-burung liar yang menghuni tanah ini. Pada saat mulai pengurukan tanah dan disusul dengan penancapan tiang-tiang, burung-burung menemani semua orang yang bekerja. Pada waktu bangunan mulai terbentuk, burung-burung kecil itu terdengar semakin ramai bersuara. Mereka bernyanyi riang dan bercerita untuk berbagi kabar baik di antara mereka. Kabar baik apa? Saya bisa mengerti, mungkin dari meditasiku yang paling dalam, bahwa mereka sedang berkata satu terhadap yang lain bahwa: ‘Rumah Ini Rumah Kita'”, imam lansia itu mengakhiri buonanotte-nya pada hari Rabu malam itu.

Setelah rumah ini sudah layak untuk ditempati oleh sekitar 12-15 orang, sejak detik pertama berada di rumah ini, burung-burung itu yang meramaikan suasana. Mereka seperti menyambut para Salesian, dari yang usia kaul pertamanya baru beberapa hari sampai ke usia kaulnya sudah 40 tahunan itu, dengan nyanyian bersama: Rumah Ini Rumah Kita! Mereka mengulang-ulang kalimat itu seperti doa Rosario, doa Litani, dan doa Mazmur para biarawan. Semua Salesian menjadi terpesona. Mereka diingatkan akan suatu peristiwa masa lalu pada tanggal 3 April 1846, saat Don Bosco memulai sebuah tempat permanen untuk Oratoriumnya, yaitu Casa Pinardi, di dalam Kota Turin, Italia.

Don Bosco ingin sekali punya tempat yang tetap, bukan hanya lapangan bermain, tetapi juga kapel untuk berdoa, ruang kelas untuk mengajar dan memberikan pelatihan bagi anak-anak sekitar 300 orang lebih, yang selama sekian waktu telah mengikutinya, berpindah-pindah tempat di dalam kota industri tersebut. Jadi para Salesian Indonesia yang masuk pertama kali ke Wisma Salesian Don Bosco sekitar bulan Juni tahun 1992 itu dapat dipandang seperti memasuki “Casa Pinardi” di Indonesia.

Mereka harus merasakan dan mengalami segala bentuk kesulitan sebagai bagian dari permulaan menetap di sebuah rumah baru. Mereka harus belajar dari burung-burung yang berkicau tanpa henti siang dan malam sebagai tanda menikmati dan menyukuri kehidupan. Mereka harus membiasakan diri menjaga dan merawat rumah baru itu, dengan tidak bergantung pada para pekerja atau karyawan. Hanya ada satu karyawan yang bertugas sebagai penjaga dan istrinya yang memasak di dapur. Para Salesian harus bekerja harian untuk membersihkan rumah.

Jumlah burung-burung amat banyak dan mereka bersarang di banyak tempat seperti di sudut-sudut rumah dan pada tanaman-tanaman di halaman rumah. Namun dengan aktivitas rumah yang sudah rutin, burung-burung itu tahu diri sehingga mereka menyingkir ke lobang-lobang atap rumah. Di hampir setiap lobang genteng dapat ditemukan sarang-sarangnya. Mereka beranak dan memperbanyak diri. Rumah ini kian hari menjadi kampung mereka.

Di koridor, dinding dan lantai rumah selalu ditemukan kotoran mereka. Apakah karena kotoran-kotoran itu mereka harus diusir dari rumah ini? Tentu saja tidak. Mereka sudah menjadikan rumah ini sebagai rumah mereka. Para Salesian juga kian hari kian menyatu dengan mereka. Para Salesian berhak untuk mengakui bahwa rumah ini rumah mereka. Burung-burung juga berhak untuk mengakui bahwa rumah ini rumah mereka. Hidup bersama dengan para Salesian adalah ekosistem yang menghidupkan mereka.

Di dalam sebuah rapat komunitas sekitar hari-hari menjelang kuliah pembukaan di tahun ajaran baru, satu hal yang dibahas dan perlu dijadikan keputusan ialah diberlakukan lonceng untuk dibunyikan setiap hendak dilakukan kegiatan-kegiatan komunitas. “Bagi saya kita tidak perlu lagi lonceng. Kita sudah punya lonceng alam. Lonceng kita ialah nyanyian dan kicauan burung-burung.” Semua anggota komunitas lain tertawa geli dan menuduh rekannya itu bahwa ia hanya mengada-ada. Mungkin para pertapa yang tinggal sendirian di hutan dapat melakukan itu.

Di sebuah biara, seminari dan asrama para mahasiswa, lonceng merupakan salah satu kebutuhan penting. Lonceng adalah bagian dari suatu kehidupan yang rutin. Siapa saja yang berada di dalam suatu sistem kehidupan yang rutin, ia sangat menyadari betapa hidup yang disiplin itu sangat memerlukan aturan bersama. Lonceng yang dipakai merupakan sarana untuk berlatih di dalam disiplin itu. Bisa saja, ketika manusia yang bernalar itu berdiskusi bahkan bertengkar soal perlunya lonceng atau tidak, burung-burung yang melihat dan mendengar itu akan tertawa geli. ***

Ada seorang imam Salesian yang usia imamatnya sekitar 15 tahun datang menginap di rumah ini selama sekitar dua minggu. Setelah tahbisannya, ia mendapat beberapa tugas perutusan di luar kota dan di luar pulau. Ia belum pernah mendapat kesempatan untuk bekerja di Jakarta, misalnya tinggal dan bekerja di rumah pembinaan Wisma Salesian Don Bosco.

Baginya, sebagai tamu dan menginap di rumah ini selama dua minggu atau bahkan lebih adalah sebuah pengalaman istimewa. Semua orang tahu dan tidak dapat dibantah bahwa hidup di Jakarta sebagai biarawan atau imam adalah sebuah fakta yang istimewa. Jakarta yang menjadi pusat perhatian seluruh negeri Indonesia ikut memberi dampaknya bagi orang-orang yang berada di dalam kota itu, termasuk komunitas Salesian.

Ia terpaksa menginap di sini karena hasil diagnosa dokter di rumah sakit menuntutnya untuk melakukan sejumlah proses perawatan medis. Ia wajib menjalani proses itu lebih dari satu kali. Jadi sangat pantas ia menginap di Jakarta. Pada hari-hari dan malam-malam pertamanya, ia sangat mengenang betapa lonceng di rumah pembinaan itu sangat penting.

Ia adalah salah satu dari anggota komunitas sekitar puluhan tahun lalu berdebat dalam pertemuan sesama anggota komunitas rumah ini untuk menerima atau menolak dipakainya lonceng di dalam komunitas biara. Nostalgia itu baginya sebuah pengalaman edukatif dan formatif yang amat berharga. Ia adalah saksi sejarah bagaimana pertama kali rumah ini dihuni.

Hal itu ikut memberinya pengaruh positif, teristimewa selama tahun-tahun pembinaannya, disiplin diri sungguh penting untuk menjadikan dirinya seorang imam Salesian sampai sekarang. Ia sangat yakin bahwa disiplin akan tetap menemani seseorang sampai saat ia berdiri dihadapan Tuhan Allah untuk mempertanggung jawabkan hidupnya di dunia.

“Rumah Kita” Wisma Salesian Don Bosco sebenarnya tidak hanya ramai oleh burung-burung dan para Salesian yang menghuninya. Masyarakat sekitar mengamati bahwa mayoritas yang tinggal di dalam rumah tiga lantai berbentuk empat persegi itu adalah laki-laki. Yang perempuan hanya dua sampai tiga orang yang menjadi karyawan dapur.

Mayoritas laki-laki tersebut berbeda-beda usia, latar belakang sosial, budaya dan negara. “Ada orang bule di dalam situ” begitulah terdengar seseorang berkata kepada temannya yang mengendarai sepeda motor melewati Jalan Mandor Iren, jalan depan Wisma Salesian Don Bosco. Hari demi hari masyarakat dan orang-orang melewati jalan itu akan mengetahui siapa-siapa sebenarnya yang menghuni rumah bergenteng merah itu.

Komentar dan informasi dari mulut ke mulut ternyata tidak berdinding. Telinga orang-orang dengan mudah mendengar dan memerintah mulut mereka untuk segera mewartakan. Dengan demikian orang-orang Katolik yang ada di masyarakat juga ikut mendengar. Satu dan dua orang beranikan diri untuk mendatangi rumah itu.

Perkenalan pertama dengan umat Katolik di wilayah Sunter Jaya, Kelurahan tempat Wisma Salesian Don Bosco itu terjadi. Ada satu keluarga yang pertama kali mengetahui, kemudian ia mengajak keluarga lain dan mereka datang ke Wisma Salesian Don Bosco. Mereka merasa tersambung hati dan pikirannya, karena yang mereka temui adalah para imam dan frater, yang di dalam Gereja Katolik memiliki tempat yang istimewa. ***

Pada saat itu, sekitar tahun 1990-an di wilayah Sunter di Jakarta Utara hanya ada satu Gereja Paroki. Namanya Gereja Santo Lukas yang digembalakan para imam Fransiskan Conventual. Wilayah ini cukup luas yang meliputi empat kelurahan. Keluarga-keluarga tadi mungkin mendapatkan suatu kesempatan yang spesial dengan memperhitungkan kemudahan untuk mencapai sebuah tempat untuk berdoa.

Mereka memiliki kemungkinan yang lebih menguntungkan dari segi jarak ketika ingin menghadiri Misa Kudus dan membutuhkan pelayanan dari seorang imam Katolik. Mereka menghuni wilayah Sunter yang agak jauh ke pusat paroki dan lebih dekat ke paroki tetangga di wilayah Kelapa Gading dan Cempaka Putih. Namun pilihan yang lebih menguntungkan tentu yang sudah ada di depan mata, mereka datang ke Salesian Don Bosco.

Pada suatu hari Minggu sekitar akhir bulan Juni 1992, ada satu keluarga datang bergabung dengan komunitas biara SDB untuk menghadiri Misa. Keluarga itu terdiri dari suami-istri dan dua putra mereka yang masih kecil. Perayaan misa diadakan di dalam sebuah ruang di lantai satu, dan itu bukan sebagai kapel. Ruang itu menjadi kapel sementara selama kira-kira satu bulan.

Kapel yang sesungguhnya ialah yang terletak di lantai dasar, yang masih ada sampai sekarang. Pada saat itu para tukang masih menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di bagian dalamnya. Pekerjaan sebuah kapel atau tempat doa memang memerlukan sentuhan-sentuhan yang jauh berbeda dari pada ruangan-ruangan lain. Kapel adalah tempat doa dan ibadat. Jadi ia harus memenuhi standar yang lazimnya ada di dalam Gereja Katolik.

Imam lanjut usia yang disebutkan di awal kisah ini adalah orang yang memiliki konsep dan mengikuti jengkal demi jengkal pengerjaan kapel tersebut. Kesan bagian dalam kapel memang jauh dari kemewahan dan luar biasa. Bahan-bahan yang dipakai adalah lokal. Tidak ada satu pun yang dipesan dari luar negeri. Namun keinginan hati, intuisi di pikiran dan rasa spiritual imam misionaris itu ikut memberi nilai tambah penataan bagian dalam kapel biara tersebut.

Sebelum masuk ke bagian dalamnya, perlu digambarkan sedikit aspek luarnya. Pandangan pertama langsung memberikan kesan bahwa tempat itu bukan sebuah kapel. Tempat itu hanyalah sebuah ruangan seperti banyak ruangan lain di lantai dasar dan lantai lain di atasnya. Letak kapel juga langsung dicapai dari sebuah pintu samping Wisma Salesian Don Bosco. Seseorang begitu masuk melalui pintu itu, ia langsung menemukan kapel tersebut.

Letaknya yang mudah dicapai ini menjadi sebuah inspirasi bahwa kapel biara bukan sesuatu yang tersembunyi dan harus memerlukan semacam protokol khusus untuk sampai ke situ. Rumah doa adalah tempat yang bisa dengan gampang didatangi. Tuhan hendaknya tidak dibuat sulit untuk didekati oleh umatnya karena pembatasan-pembatasan yang tidak perlu terhadapnya di dalam Gereja-Nya yang kudus.

Selain posisi yang gampang dicapai, ciri lain untuk sebuah kapel yang dapat ditemukan di rumah-rumah Salesian ialah letaknya ada di pusat. Di titik pusat itu semua jurusan atau gerak akan mendapatkan arahnya dengan gampang menuju ke situ.

Pada dasarnya semua arah mengantar orang-orang kepada Tuhan, dan dari sana mereka kembali menuju ke tempatnya masing-masing. Letak rumah ibadat memang seperti itu di dalam kehidupan kita di dunia ini. Posisi sebuah rumah ibadat yang aman dan menyenangkan harus memenuhi kriteria menarik orang-orang untuk datang kepadanya dan di situ terjadi interaksi satu terhadap yang lain dalam pertumbuhan iman mereka.

Setelah perayaan Misa hari Minggu tersebut, keluarga yang mengikuti Misa tadi menuruni tangga dan hendak keluar melalui pintu samping yang mengarahkan mereka ke parkiran mobil. Namun sebelum keluar dari pintu, mereka berhenti di depan kapel sesungguhnya itu. Ada seorang imam dan frater menyalami mereka, lalu mempersilakan mereka untuk masuk di dalam kapel. Lalu mereka berbincang-bincang dengan imam itu.

“Ini diperkirakan satu dua minggu lagi akan selesai dan dapat dipakai,” kata imam itu untuk menjawab ungkapan penasaran suami-istri bahwa tempat itu memang akan segera dipakai. Mereka menampakkan wajah yang kagum, namun menahan kata-kata kegembiraan yang mesti dapat terungkapkan. Mereka hanya terlihat gembira dan kagum.

“Kalian senang dapat bergabung dengan komunitas kami untuk berdoa di sini? Saya menyambut saja siapa yang ingin berdoa bersama dengan kami. Namun saya tidak akan mengajak atau mengundang. Karena pada prinsipnya kalian wajib menjalankan ibadat bersama umat yang lain di gereja Paroki. Kalian termasuk dalam wilayah Paroki Santo Lukas ya?”

“Benar Pastor. Kami adalah umat Paroki Santo Lukas Sunter,” jawab salah satu dari pasangan suami-istri tersebut. Mereka berdua lebih banyak diam dan membiarkan imam itu bercerita. Mereka tampak mengangguk dan tersenyum saja, meskipun pada kenyataan bahwa imam tersebut belum mahir berbicara bahasa Indonesia, sehingga dapat dipastikan bahwa mereka hanya memahami sebagian saja yang dikatakan imam tersebut.

Ketika mereka sedang berbincang-bincang di dalam kapel yang sedang dikerjakan itu, kedua putra mereka yang masih berusia awal sekolah dasar tersebut tidak berada di dekat mereka. Ternyata mereka sedang bermain di taman bersama seorang frater. Kedua bocah laki-laki itu dapat berlari dan melompat dengan bebas di dalam taman tengah yang berbentuk empat persegi. Taman itu dipenuh dengan tanaman-tanaman hijau.

Beberapa frater lain datang bergabung dengan mereka. Dalam sekejab tampak seperti terbentuk sebuah kelompok berupa kawanan orang muda yang mulai membentuk oratori, seperti yang dulu pernah dibuat oleh Yohanes Bosco muda. Awalnya oratori dulu adalah dengan satu orang bocah bernama Bartolomeus Garelli.

Dua bocah itu sebenarnya telah mengawali berkumpulnya anak-anak dan orang muda Katolik, yang dari waktu ke waktu berevolusi menjadi berbagai bentuk kerasulan orang muda di tempat-tempat karya SDB di seluruh wilayah Indonesia. (Bersambung …)

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *