Mengalami datangnya kerajaan Allah

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Jumat pekan biasa ke-34, 29 November 2019. Daniel 7, 2-14; Lukas 21, 29-33. Suara: frater Ikky sdb (bacaan) dan pastor Peter sdb (renungan)

Renungan kita pada hari ini bertema: Mengalami Datangnya Kerajaan Allah. Sepanjang tahun kita menjemput pergantian musim alam: panas ke dingin dan dingin ke panas. Secara liturgis, dua hari lagi kita menjemput tahun liturgi yang baru. Efek langsung dari menjemput ini ialah tindakan adaptasi karena kita perlu seiring dengan musim yang baru. Jadi kita melakukan pembaharuan hidup kita.

Tuhan Yesus berbicara tentang datangnya kerajaan Allah, dan Ia menyemangati kita untuk menangkap tanda-tandanya, lalu bersedia menyambutnya dan akhirnya membaharui diri kita. Bahkan ketika tanda-tanda itu mengungkapkan bahwa yang kita jemput adalah sebuah akhirat, mau tidak mau kita mesti menjemput karena yang datang ialah Tuhan sendiri yang menjemput. Kita perlu siap menerima Dia, dan kesiapan kita itu mengandung arti kalau kita memulai pembaharuan dan selanjutnya hidup dalam bentuk yang baru.

Dalam berbagai tingkat kehidupan, mentalitas membuat rencana untuk kegiatan apa pun merupakan suatu kebutuhan yang konkret. Dari kegiatan sederhana seperti ajakan makan malam di rumah teman hingga ke suatu perencanaan perusahaan multinasional atau reksa pastoral sebuah keuskupan, kehidupan dan kegiatan menjadi lancar dan menyenangkan kalau direncanakan. Sebab kalau tak ada rencana, kegiatan apa pun akan kacau-balau. Misalnya kita tidak pasti akan apa yang nanti dilakukan dan tak ada arah pasti yang hendak ditujui.

Kalau tak ada rencana, kita tidak tahu apa atau siapa yang kita jemput. Kita juga tidak dapat menyesuaikan diri sebagai bentuk pembaharuan diri yang perlu kita lakukan. Hanya mereka yang punya rencana yang dapat mengalami pengalaman indahnya menyambut Tuhan dan menikmati suka cita sebagai pribadi-pribadi yang baru. Jika Tuhan datang menemui kita dalam perayaan ekaristi, misalnya, rencana penyambutan itu mestinya sudah ada lebih awal. Maka pertemuan nanti dalam perayaan Ekaristi menjadi sebuah suka cita yang istimewa. Selanjutnya Ekaristi itu menjadi terang untuk pembaharuan diri kita yang lebih baik.

Sebaliknya kalau tak ada persiapan sebelumnya, pertemuan dalam ekaristi itu bakal diwarnai dengan situasi yang serba kekurangan: entah Tuhan dirasakan diam saja dan begitu jauh, entah kita yang terbawa malas sehingga mengantuk melulu, entah kita hanya terpaksa menghadiri ekaristi karena pengaruh atau tekanan pihak lain, entah sekedar ikut ramai dan memanfaatkan satu hari libur. 

Tuhan yang datang dalam perayaan Ekaristi, Dia yang sama juga datang pada berbagai kesempatan lain hidup ini. Dan hukumnya universal, yaitu Ia perlu disambut karena ia membawa oleh-oleh pembaharuan kehidupan kita. 

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Bapa maha kuasa, semoga kerinduan kami untuk berjumpa dengan-Mu menjadi kebutuhan kami tiap hari, dan bukan hanya ketika kami mengalami kesulitan hidup. Salam Maria… Dalam nama Bapa…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *