Featured

“INILAH JALAN, BERJALANLAH MENGIKUTINYA”

 

Kalimat yang diambil dari kitab nabi Yesaya (30,21) ini adalah motto tahbisan dua orang pastor Salesian yang baru.  Mereka adalah Fransiskus Borgias Adventus da Silva dan Yulius Dadang Supriyanto. Kata mereka, kutipan kitab suci ini sudah mereka pakai sebagai motto pada waktu mereka mengikrarkan kaul pertama untuk menjadi biarawan Salesian sekitar 11 tahun yang lalu. Mereka merasa bahwa Tuhan sudah menyiapkan jalan sehingga mereka dapat melewati dan menikmatinya selama proses pembinaan, dan akhirnya sampai pada saat pentahbisannya sebagai imam.

Mereka berdua kini adalah imam baru yang masih sangat segar. Mereka ditahbiskan menjadi imam Salesian pada hari Rabu, 15 Agustus oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, di gereja Paroki Santo Yohanes Bosco, Jakarta Utara. Ritual tahbisan imam dilakukan dalam Ekaristi Kudus Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga. Perayaan Ekaristi dimulai pada pukul 17:00 waktu Jakarta dan kurang lebih berlangsung selama dua jam. Seluruh ruang gereja yang berkapasitas 800-900 orang jika terisi penuh itu, diisi oleh para imam konselebran, biarawan-biarawati, para seminaris menengah dan tinggi, anggota keluarga dari kedua imam baru, para undangan, dan umat paroki.

Di dalam homilinya, Uskup Suharyo mendorong dan menyemangati semua pendengarnya untuk bercita-cita menjadi kudus. Bunda Maria telah memulainya melalui peristiwa Ia diangkat oleh Tuhan ke surga jiwa dan badannya. Tuhan Allah sungguh memperhatikan semua kebaikan, kerendahan dan kerelaan pada dirinya, seperti yang terungkap dalam magnifikatnya. Semua itu telah menjamin dirinya untuk diangkat ke surga dan diberikan kemuliaan oleh Tuhan. Bunda Maria selalu membimbing dan mendoakan kita masing-masing supaya kita juga dapat ditinggikan dan dimuliakan Tuhan.

Khususnya tentang sakramen imamat, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) itu  menegaskan bahwa menjadi imam bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai jalan untuk menjadi kudus. Pastor Adventus dan Pastor Dadang, yang mengikuti jejak para pastor seniornya, telah memilih jalan ini. Harapannya ialah agar mereka menjadi kudus melalui kehidupan dan tanggung jawab panggilan imamatnya. Kehidupan dan tugas sebagai imam adalah menjadi gembala yang berada bersama kawanan domba yaitu umat Allah. Di dalam setiap relasi yang dibentuk dan kebaikan yang diperbuat terhadap orang-orang yang dilayani, di situ ada jalan kepada kekudusan.

Penegasan gembala Keuskupan Agung Jakarta ini ingin disesuaikan dengan motto yang dipakai oleh kedua pastor baru Salesian itu. Di dalam sambutan untuk menyampaikan suka cita dan syukur, Pastor Dadang mengatakan bahwa di dalam kisah panggilan mereka masing-masing, yang dapat dibaca di dalam buku kenangan tahbisan, ditemukan semua liku perjalanan mereka menjawabi panggilan Tuhan. Mereka merasakan suatu proses pembinaan yang tidak gampang tetapi juga tidak susah untuk dilalui. Mereka sangat mengakui dan mensyukuri semua orang yang telah menemani dan mendampingi mereka sampai pada tahap imamat. Ucapan syukur dan terima kasih mereka kepada semua pihak yang telah membuat perayaan meriah tahbisan berlangsung dengan baik dan lancar. Tuhan menyelenggarakan semua itu terjadi.

Dengan ditugaskan kedua pastor baru itu di Keuskupan Agung Jakarta: Pastor Adventus di komunitas Wisma Salesian Don Bosco dan Pastor Dadang di komunitas Tigaraksa, Tangerang, Bapak Uskup berkenan memberikan yurisdiksi kepada mereka masing-masing. Yurisdiksi ialah sebuah “SK” yang diberikan Uskup kepada imam yang bekerja di wilayah Keuskupannya. Bagi Uskup Suharyo, kehadiran para Salesian di Keuskupan Agung Jakarta sejak tahun 1985 ikut memberikan warna bagi kekayaan spiritualitas di Gereja lokal ini.

Umat dan para undangan menyempatkan diri untuk bersalaman dan berfoto bersama kedua imam baru setelah semua upacara liturgi selesai. Itu adalah kenangan spesial untuk mereka bawa pulang. Berkat dari kedua imam baru menyemangati hidup mereka dalam jalan kepada kekudusan.

 

Featured

PASTOR SALESIAN INDONESIA YANG KE-27 DAN 28

Pada hari Rabu tanggal 15 Agustus 2018 di gereja Santo Yohanes Bosco pukul 17:00 diselenggarakan Misa meriah hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga dan pentahbisan dua diakon menjadi pastor baru SDB (Salesian Don Bosco. Kedua diakon itu ialah Fransiskus Borgias Adventus da Silva SDB dan Yulius Dadang Supriyanto SDB. Kedua Salesian itu di awal tahun 2018 ini baru menyelesaikan pendidikan teologinya di Don Bosco Center of Studies di Manila, Filipina.

Diakon Adventus adalah anak pertama dari empat bersaudara, keturunan dari bapak yang berasal dari kota Larantuka, Flores Timur dan ibu dari Bogor, Jawa Barat. Adventus lahir, tumbuh, dan besar di wilayah Bogor, Bekasi, dan Jakarta. Keluarga baginya adalah sebuah seminari dasar . Tradisi keluarga Katolik sangat kental di dalam keluarganya. Ia memiliki mimpi untuk panggilan hidup membiara dan imamat di Jakarta sejak menjadi misdinar di paroki St. Arnoldus-Bekasi, kemudian berlanjut dengan mengeyam pendidikan seminari menengah Wacana Bhakti Jakarta, dan akhirnya masuk biara Salesian. 

Saat-saat menjelang tahbisan diakon Advent berkata: “Saya menyadari bahwa tahbisan imammat ini bukan hanya semata-mata usaha dari saya sendiri, namun proses panjang untuk terus berkolaborasi dengan Rahmat Tuhan yang telah memampukan dan membimbing saya dalam menjadi seorang Salesian. Saya yakin bahwa rahmat Tuhan akan selalu menyertai saya dan semua saudara Salesian dalam melayani dan bekerja bersama dengan orang-orang muda” (dari buku kenang-kenangan tahbisan, hal. 56).

Diakon Dadang adalah anak ke-3 dari tiga bersaudara alias anak bungsu. Keluarganya berdarah Jawa namun sudah lama tinggal di Lampung. Ia sangat bersyukur dan bangga dengan tradisi keluarga yang sangat Katolik. Dengan dasar persemaian iman Katolik di keluarga, Dadang kecil mendapatkan dirinya dengan muda beraktivitas di paroki dan stasi. Ia menemukan pertumbuhan yang sehat dan positif di sana. Selanjutnya, jalan menuju pendidikan seminari menengah di kota Palembang terbuka baginya. Setamat dari seminari  ia tidak menemukan jalan untuk melanjutkan pendidikan supaya sejalan dengan kehendak panggilannya untuk menjadi seorang imam. 

Ia akhirnya mengabdikan diri di pelayanan paroki dan stasi di kampung halamannya selama beberapa tahun. Ia suka terlibat dalam pendampingan orang muda dalam kegiatan-kegiatan mereka yang berkaitan dengan Gereja Katolik. Lewat keterlibatan ini, Dadang mendapatkan jalan untuk datang ke biara Salesian di Tigaraksa (Tangerang). Ia kembali berpikir serius tengan panggilannya untuk menjadi seorang imam. Pertemuan pertama di Tigaraksa itu memantapkan semangatnya untuk masuk biara Salesian dan melanjutkan pembinaan untuk menjadi imam.

Menjelang saat-saat upacara pentahbisan, diakon Dadang mengatakan: “Imamat Tahbisan bukanlah suatu pencapaian prestasi atau prestise yang dicapai oleh seseorang, tapi karena wujud Kasih Allah Tritunggal kepada umat-Nya yang berziarah di dunia: oleh karena Dia, Yesus, yang mencurahkan kasih dan karuniaNya, yang saya mencoba rangkumkan dalam motto hidupku, “Tidak ada seseorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga.” (Yoh 3:27)

Diakon Adventus dan diakon Dadang akan menjadi pastor-pastor Salesian ke-27 dan 28 berasal dari Indonesia. Kongregasi SDB pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1985.

Featured

Sambutan Rektor Mayor, Don Angel Fernandez Artime SDB tentang Kapitel Umum ke-28

Dalam edisi “Carri Confratelli” bulan Agustus ini, Rektor Mayor ingin menguatkan semangat para SDB dan dukungan dari Keluarga Salesian tentang persiapan untuk terselenggaranya Kapitel Umum yang ke-28 pada tahun 2019 nanti. Kita sungguh disadarkan akan tema yang sangat penting, yaitu “Apakah yang orang muda inginkan pada diri seorang Salesian pada saat ini?”, kiranya bukan hanya dipikirkan dan direnungkan tetapi dibawa dalam doa-doa kita (pp).

 

Featured

Vice-Provinsi Baru INA Punya Provincial Baru

Setelah sekitar 20 tahun menjadi bagian dari Vice-Provinsi ITM (Indonesia-Timor Leste) yaitu sejak 1998, pada tanggal 8 Juni 2018 SDB Indonesia mendapatkan status resmi sebagai Vice-Provinsi. Ini adalah sebuah status kehadiran dan karya teritorial yang independen dengan hampir semua kondisi atau prasyarat seperti sebuah provinsi. Ada satu dua hal yang memang masih perlu diatur dan difasilitasi oleh kepemimpinan pusat sehingga dinamakan Vice-Provinsi.

SDB Indonesia menjadi Delegasi dengan status masih menjadi bagian dari Vice-Provinsi ITM sejak tahun 2012. Asembli para sama saudara yang dilaksanakan di Gadog, kabupaten Bogor menghasilkan suatu keputusan strategis bagi pengembangan misi Selesian Indonesia tercara terencana dan komprehensif. Salah satu isi rencana itu ialah memproyeksi supaya enam tahun kemudian atau persisnya pada tahun 2018, Delegasi Indonesia menjadi sebuah Vice-Provinsi atau Provinsi. Rencana ini menjadi kenyataan dengan penetapan Rektor Mayor Saleisan Don Bosco, Pastor Angel Fernandez Artime SDB, pada tanggal 8 Juni tersebut.

Nama resmi yang tercatat secara administratif di dalam Kongregasi Salesian ialah Vice Provinsi Santo Aloysius Versiglia, seorang imam misionaris Salesian Italia yang pertama kali membuka misi di Cina, kemudian menjadi uskup, dan meninggal dunia sebagai martir. Turut meninggal bersama dia ialah Santo Kalistus Caravario, seorang imam Salesian martir, yang namanya dipakai sebagai pelindung Vice-Provinsi TLS (Timor Leste). Nama singkatan untuk Vice-Provinsi Santo Versiglia ialah INA, sebagai singkatan dari Indonesia.

Untuk melengkapi pendirian Vice-Provinsi baru ini, pemimpin tarekat SDB pusat juga menetapkan superior baru yang pertama yaitu Pastor Andrew Wong SDB. Beliau pernah menjadi misionaris di Indonesia sejak tahun 1993 dan menjadi Provinsial pertama untuk ITM pada tahun 1998. Setelah menjalankan tugas perutusan di berbagai tempat di luar ITM sebagai bagian dari pelayanan kepemimpinan di rumah pusat maupun di Filipina tempat asalnya, kini beliau kembali lagi untuk menjalankan pelayanan yang sama bagi sama saudara Salesian di Indonesia.

Pada tanggal 1 Agustus 2018, di kapel Wisma Salesian Don Bosco, Sunter – Jakarta Utara, Pastor Wong dilantik untuk resmi menjadi Provinsial SDB INA. Pastor Klement Vaclav SDB, regional wilayah Asia Tenggara, Australia, Pasifik dan Oseania, menjadi saksi atas pelantikan ini.

Featured

Pesan Rektor Mayor dalam Rangka Pesta Don Bosco 2016

Pesan Rektor Mayor dalam Rangka Pesta Don Bosco 2016

I would like to spend the beautiful feast of Don Bosco in every single Salesian presence in the world and greet you personally … And as I think of you, I say this: My dear young people, allow yourselves to be captivated by Jesus.

 

 

BERITA DUNIA SALESIAN edisi 20 Agustus

Berita dari agen ANS di Thiruvananthapuram pada Selasa 14 Agustus mengabarkan bahwa banjir besar melanda wilayah Kerala di India Selatan yang menewaskan 87 orang dan yang memaksa 36 ribu orang menyingkir dari tempat tinggal mereka. Di daerah itu terdapat rumah dan lembaga-lembaga karya Salesian yang juga terkena bencana banjir. Dijelaskan bahwa wilayah Kerala yang terkenal dengan pantai-pantai indah yang menjadi situs pariwisata terkenal dan perkebunan teh yang luas selalu dihantam banjir setiap tahun karena curah hujan yang banyak, tetapi tahun ini menjadi yang paling besar volume banjirnya. Siaran berita pada hari Rabu 15 Agustus kembali mengabarkan bahwa kematian 28 orang lagi ditemukan dan kerusakan semakin bertambah. Pihak pemeritah setempat segara menetapkannya sebagai bencana dalam skala besar di bagian India selatan. Pada Rabu malam semua 14 wilayah di Kerala ditetapkan sebagai daerah bencana. Paling kurang tiga wilayah dengan lembaga-lembaga karya Salesian terkena dampak kerusakan yang besar yaitu Angamali, Irinjalakuda, dan Mannuthy Trhrissur. Mereka semua dikenal sebagai wilayah yang menggunakan ritus Malabar dalam peribadatan Gereja Katolik.

Pada hari Kamis 16 Agustus di Jerman bagian timur, tepatnya di kota Heilbad Heiligenstadt, seorang Salesian yaitu Pastor Franz-Ulrich Otto SDB, menerima penghargaan sebagai Bapak atau pahlawan kehidupan pluralisme. Penghargaan itu diberikan oleh pemerintah kota tersebut atas karya Salesian di kota tersebut yang dipimpin oleh Pastor Otto. Beliau saat ini adalah Rektor komunitas Salesian di Berlin. Ia dianugerahi gelar terhormat itu karena jasa-jasanya telah bertahun-tahun lamanya bekerja melayani orang-orang muda, khususnya melalui “Villa Lampe”, yaitu sebuah lembaga yang dikelolah para Salesian dalam kolaborasi dengan dioses Erfurt, yang menyambut setiap hari sekitar 120 orang-orang muda dari aneka agama dan latar belakang. Semua orang muda yang berbeda-beda tersebut diikutsertakan dalam berbagai aktivitas pendidikan yang disediakan dalam terang spiritualitas Salesian.

Berita ANS di Roma pada hari Selasa 14 Agustus menuliskan satu wawancara seorang muda yang berbicara tentang Salesian. Gessica Mazza, salah seorang sekretaris jenderal Salesian Youth Ministry (SYM) di Italia Sentral yang juga seorang mahasiswi di Roma, menjawab pertanyaan yang merupakan tema sentral Kapitel Umum SDB yang ke-28 nanti pada tahun 2019. Pertanyaan itu ialah: Apa yang orang muda katakan tentang Salesian pada saat ini? Gessica dengan percaya diri mengatakan bahwa para Salesian saat ini harus menjadi pendengar yang baik, dan definisi yang baik itu ialah bahwa mereka perlu mendengar orang-orang muda dengan hati yang terbuka. Krisis orang-orang muda saat ini terletak pada kenyataan kalau mereka tidak lagi tahu ke mana harus pergi dan sering tidak tahu harus berbuat apa dengan hidup mereka. Jadi sangatlah penting bagi para Salesian untuk menjadi pendengar mereka. Sebagai suatu perbandingan, Gessica mengharapkan kalau para Salesian dapat menjadi rasul-rasul zaman sekarang yang bersama Paus Fransiskus sebagai pendengar yang terbuka kepada semua pihak tanpa ada batas karena perbedaan-perbedaan.

KESEMPURNAAN

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Senin pekan biasa ke-20; 20 Agustus 2018; peringatan Santo Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja. Yeheskiel 24, 15-24; Matius 19, 16-22. Suara: Peter sdb

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kesempurnaan. Santo Bernardus sangat terkenal di dalam Gereja pada umumnya sebagai seorang pertapa ulung. Ia berasal dari Perancis dan mengikuti Santo Benediktus dalam semangat Benediktin dengan membawa sejumlah besar pengikut untuk menapaki jalan kepada kesempurnaan melalui hidup membiara. Ia membangun dan memimpin biara Cistesian di pertapaan Clairvaux dengan anggotanya mencapai 700 orang.

Jalan kepada kesempurnaan atau istilah lebih umum “kesucian” bukan hanya para pertapa, kemudian biarawan-biarawati, dan yang lebih dipandang umum sebagai orang-orang yang berjuba. Kitab suci dengan jelas menegaskan perintah Tuhan untuk menjadi sempurna seperti Bapa yang sempurna adany. Ini adalah perintah bagi setiap orang. Yesus sudah menjadikan dirinya sebagai jalan kepada kesempurnaan itu, maka kita yang mengikuti-Nya tidak perlu ragu untuk memilih Dia. Ia menegaskan berulang kali bahwa syarat yang paling dasar dan utama untuk melewati Jalan itu ialah percaya kepada-Nya.

Tetapi syarat beriman itu harus dilengkapi dengan syarat-syarat spesifik dan yang membutuhkan pengorbanan lebih besar. Syarat beriman secara umum dapat dipenuhi oleh semua murid Tuhan seperti menjalankan perintah-perintah Allah. Berdoa dan berpuasa merupakan bagian dari perintah-perintah itu. Menghargai orang tua dan orang dewasa atau mereka yang dituakan juga sudah menjadi bagiaan dari perintah-perintah itu. Tidak mencuri, berbohong, berbuat zinah, menyembah berhala adalah larangan-larangan umum untuk semua orang.

Jika semua ini dilaksanan dengan baik dan teratur, seorang beriman dapat dianggap baik dan menjadi teladan bagi sesamanya yang lain. Namun bagi Tuhan Yesus, untuk menjadi sempurna seseorang perlu melakukan lebih daripada baik. Masih ada syarat yang lebih untuk dilaksanakan. Syarat itu ialah penyangkalan diri. Maksud sebuah penyangkalan diri ialah orang tersebut tidak lagi fokus untuk mengurusi dirinya. Ia bahkan melupakan dirinya sendiri. Ia merendahkan dirinya serendah-rendahnya, sampai-sampai menderita sakit dan mati. Hal itu dilakukannya karena ia ingin berbuat baik dan melayani sesamanya.

Contoh penyangkalan diri terutama ialah Yesus Kristus. Santo Bernardus juga meninggalkan segala-galanya, bahkan keluarganya dan harta miliknya karena ingin hidup terbebaskan dari semua ikatan dunia ini, supaya jiwanya hanya fokur kepada Tuhan. Banyak orang telah menjadi contoh kesempurnaan dengan segala bentuk penyangkalan diri, lalu memilih hidup yang kontemplatif atau hidup menyatu dalam kerja dan pelayanan bagi sesamanya. Itu adalah suatu kesaksian hidup yang sempurna. Kita bisa melakukannya.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Tuhan, semoga dengan berkat-Mu kami tidak segan-segan membuat penyangkalan diri dalam kemampuan dan situasi kami masing-masing sebagai anak-anak-Mu. Bapa kami… Dalam nama…

HENTIKAN KEBODOHAN TENTANG ROTI

Bacaan-bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Minggu Biasa ke-20; 19 Agustus 2018. Amsal 9,1-6; Efesus 5,15-20; Yohanes 6, 51-58. Suara: Peter sdb

Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-20 ini ialah: Hentikan Kebodohan Tentang Roti. Dalam satu kesempatan ziarah ke tanah suci di Yerusalem, seorang lelaki yang bernama Jerome amat terkesan ketika menyentuh tempat di mana Santo Hironimus (Saint Jerome) pernah tinggal. Yang berkesan dan tertulis amat kuat di dalam pikirannya ialah kutipan kata-kata Santo Hironimus yang berbunyi: Tidak tahu kitab suci berarti tidak tahu Kristus.

Ungkapan yang lebih keras atas ketidak-tahuan ialah kebodohan. Perbuatan dan perilaku manusia disebabkan oleh kebodohan selalu dianggap rendah bahkan membahayakan. Kehidupan yang semata-semata digerakkan oleh kadar pengetahuan yang sangat rendah dan ketidak-tahuan suatu kenyataan yang normal dan masuk di akal, pasti membuat kehidupan itu amat sulit untuk dinikmati sebagai sebuah kenyataan hidup bersama.

Mengapa di dalam tujuh karunia Roh Kudus yang dicurahkan pada waktu Pentekosta, ada yang disebut karunia pengertian dan pengetahuan, itu adalah karena kehendak Tuhan untuk menghilangkan kebodohan-kebodohan yang membayakan kehidupan manusia. Yesus berulang kali mengecam dan melawan keras orang-orang Farisi, para ahli taurat dan para penguasa masyarakat karena bagi Yesus, kebodohan mereka sangat fatal. Mereka tidak mau menerima Mesias yang menjadi utusan Allah, yaitu diri-Nya sebagai anak manusia.

Pada hari minggu ini, Sabda Tuhan kembali memberikan kita tantangan atas kemampuan kita mengerti dan menerima ajaran tentang diri-Nya sendiri sebagai makanan dan minuman. Kebodohan yang ada pada para pendengar Yesus saat itu ialah mereka memandang roti hidup dalam tubuh Yesus secara fisik. Mereka tidak bisa menerima kalau tubuh Yesus sebagai daging dan darah manusia menjadi makanan mereka. Mereka tidak terima kalau disamakan dengan hewan pemakan hewan. Bagi Yesus cara memandang ini adalah sebuah kebodohan.

Sebenarnya, perjanjian lama sangat menekankan segi rohani roti dan anggur, yaitu ungkapan syukur dan pengakuan akan Pencipta yang adalah pemberi dan penopang kehidupan. Pandangan rohani ini disempurnahkan oleh Yesus yang membuat diri-Nya sebagai roti hidup. Karena Ia menjadikan diri-Nya sebagai suatu persembahan sempurna dari Tuhan bagi kita manusia, dan yang membawa semua manusia kepada Tuhan melalui pengorbanan diri-Nya. Kita diminta oleh-Nya untuk memakan Diri-Nya berarti membuat diri-Nya hidup di dalam diri kita. Ia menetapkan Ekaristi sebagai tanda pengorbanan itu, sehingga kita memang diwajibkan untuk memakan Sabda-Nya yang menjelmah menjadi tubuh Ekaristi. Kita tidak boleh jatuh dalam kebodohan karena salah mengerti Yesus sebagai roti hidup yang menghidupi dan menopang hidup rohani kita.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Tuhan, pandanglah kami dengan kasih setia-Mu supaya kami menjadi setia seperti diri-Mu. Kemuliaan… Dalam…

RASA KEADILAN

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Sabtu pekan biasa ke-19; 18 Agustus 2018. Yeheskiel 18, 1-10.13b. 30-32; Matius 19,13-15. Suara: Peter sdb

Tema renungan kita pada hari Sabtu ini ialah: Rasa Keadilan. Seorang murid SD kelas 5 disanksi oleh gurunya karena terlambat sepuluh menit. Kali ini merupakan pertama kali ia terlambat masuk ke pelajaran sang guru. Hukuman bagi anak itu ialah menulis kata-kata “tidak mau terlambat lagi” berulang-ulang sampai sebuah buku tulis penuh, dari halaman pertama sampai terakhir.

Pada waktu yang lain, guru yang sama terlambat masuk untuk memberikan pelajaran. terlamat sampai 30 menit. Ia tentu punya alasan untuk terlambat. Tetapi kali ini ia sama sekali tidak menjelaskan alasan dirinya terlambat kepada anak-anak. Kejadian itu sungguh melukai hati si murid yang beberapa waktu lalu terlambat dan diberikan sanksi. Murid bersangkutan kelihatan sangat terpukul, juga teman-temannya menampkkan wajah heran atas keanehan tersebut.

Murid terlambat ada hukumannya. Mengapa guru terlambat tidak merasa bersalah dan tidak ada sanksinya? Contoh kejadian ini merupakan suatu kenyataan rasa keadilan yang merosot bagi si murid. Unsur ketidak-adilan juga sebagai kenyataan yang dianggap normal dari pihak guru. Padahal sekolah dan misinya dalam pendidikan wajib mengajarkan dan menghidupi nilai atau prinsip keadilan. Sejak di keluarga seorang manusia sudah mengenal nilai keadilan. Selanjutnya di sekolah dan dalam masyarakat, nilai ini mesti harus lebih ditanamkan dalam kesadaran dan dipraktekkan dalam perbuatan nyata.

Keadilan sebuah hukuman menemukan pendasarannya dari keyakinan iman kita kepada Tuhan. Kitab Suci Kristen menulis dengan sangat jelas di sejumlah bagiannya tentang Tuhan yang membenarkan orang-orang yang hidup benar, jujur dan adil. Di samping itu Tuhan juga menghukum mereka yang bersalah. Di dalam nubuat Yeheskiel sebagai bacaan pertama hari ini, dikatakan sangat jelas bahwa rasa keadilan terungkapkan kalau hukuman diberikan atas tindakan yang salah. Tidak mungkin suatu hukuman ditimpahkan kepada perbuatan yang benar dan jujur.

Orang yang mengakui dan rela menerima hukuman atasnya karena tindakannya yang salah, adalah orang mempunyai rasa keadilan yang tinggi. Sikapnya sangat terpuji. Ia tulus dengan dirinya dan ia pasti di dalam tangan Tuhan, dalam perlindungan-Nya. Rasa keadilan juga ingin ditekankan oleh Yesus ketika segala urusan kita di dunia ini berkaitan dengan hak yang layak diterima setiap orang. Contoh konkret ialah ketika anak-anak memiliki hak yang sama dengan orang- orang pada umumnya untuk melihat, mendekati, dan bertemu Yesus. Mereka tidak boleh dihalangi karena mereka memiliki hak yang sah. Jika mereka diberi ruang untuk itu, terpelihara dan terjaminlah rasa keadilan itu.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Yesus, ajarilah kami untuk selalu menghargai dan mempertahankan rasa keadilan di dalam diri kami. Salam Maria… Dalam nama Bapa…

WARGA NEGARA YANG MERDEKA

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Jumat pekan biasa ke-19; 17 Agustus 2018; Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia. Sirakh 10,1-8; 1 Petrus 2,13-17; Matius 22, 15-21. Suara: Peter sdb.

Tema renungan kita pada hari ini, hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia ini, ialah: Warga Negara Yang Merdeka. Mungkin sangat sedikit umat Gereja Katolik lokal di dunia yang merayakan hari Kemerdekaan negaranya secara liturgis. Dari yang sangat sedikit itu, perayaan liturgis hari Kemerdekaan yang sangat dekat di hati kita ialah negeri kita sendiri, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai anggota Gereja Katolik, menjadikan hari Kemerdekaan 17 Agustus sebagai hari raya liturgi pasti sangat bermakna. Gereja kita mendapatkan tempat yang sangat spesial dan strategis di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. NKRI juga menjadi rumah besar yang nyaman dan membuat betah keberlangsungan hidup Gereja Katolik. Seperti kita ketahui, sebuah hari raya liturgi posisinya satu tingkat di atas sebuah pesta dan dua tingkat di atas hari-hari biasa.

Jadi liturgi hari raya Kemerdekaan RI merupakan suatu perayaan besar yang penuh kemeriahan dan syukur. Dalam liturgi Sabda untuk Misa Kudus misalnya, tiga bacaan berisi sabda Tuhan mengenai peri kehidupan berbangsa, berbangsa, dan bermasyarakat. Melihat diri kita sebagai warga NKRI yang merayakan ulang tahun kemerdekaan negara kita ke-73 ini, seluruh perhatian jelas berfokus pada nilai kemerdekaan. Menjadi warga negara yang merdeka merupakan idealisme kita yang diwariskan oleh para pendiri bangsa ini.

Namun lebih luas daripada suatu prinsip hidup bernegara adalah kodrat kita sebagai manusia yang memiliki kebebasan sebagai definisi pribadi manusia yang bermartabat. Pengakuan akan martabat kebebasan itu menemukan pendasarannya pada ketetapan Tuhan Allah yang menciptakan kita sedemikian rupa sebagai makluk yang istimewa. Selain kebebasan yang kita miliki, gambar dan rupa Allah juga ditaruh di dalam diri kita. Atas dasar itu, maka kebebasan kodrati kita dilengkapi dengan status kita sebagai orang-orang beriman, sehingga menjadi kebebasan anak-anak Allah.

Menjadi hamba-hamba Allah yang menuruti segala perintah-perintah Allah, kebebasan kita tidak hilang, seperti yang umumnya kita pahami tentang orang yang harus bebas dari hal atau pihak yang mengganggu dirinya. Dengan menaati Tuhan untuk menjalankan kehendak-Nya, kita memiliki kebebasan untuk mengambil jalan hidup yang benar untuk mencapai keselamatan. Tanggung jawab dan tugas kita di dunia membutuhkan kebebasan dari segala hambatan untuk memenuhi standar-standar di dunia ini. Tetapi dalam kaitan dengan keselamatan kita setelah hidup di dunia ini, kita justeru sangat dituntut untuk memiliki kebebasan untuk pilihan tersebut demi kesempurnaan hidup kita.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Allah, lindungilah dan kuatkanlah negara kami Indonesia demi suksesnya tujuan bangsa kami, Bapa kami… Dalam…

BERITA GEREJA DUNIA disiarkan media La Porta edisi 14 Agustus 2018

Pastor Carlos Riudavets Montes, seorang misionaris berkebangsaan Spanyol dari Kongegasi Serikat Yesus (SY) di temukan tewas dibunuh di dapur sekolah tempat ia bekerja di tengah belantara Amazon, di daerah Yamakai-entsa, Provinsi Bagua, Peru, Amerika Latin. Media online Vatican News memberitakan pada hari Jumat 10 Agustus, bahwa tubuh Pastor Montes ditemukan seorang wanita yang bertugas sebagai pemasak, sudah tidak bernyawa dengan kedua tangan terikat tali dan di sekujur tubuhnya terdapat sejumlah luka tikaman benda tajam. Tidak ada tanda-tanda perampokan atau pencurian sehingga ini diduga sebagai murni pembunuhan. Juru bicara Provinsi Yesuit di Peru, Pastor Victor Hugo Miranda menerangkan ke media bahwa otoritas pemerintah akan memastikan motivasi dan pelaku pembunuhan. Sementara itu Provinsi Yesuit Peru memberikan apresiasi besar kepada misionaris berusia 73 tahun itu yang sudah bekerja selama 38 tahun untuk mendidik anak-anak Peru di daerah terpencil. Dia juga menerangkan juga bahwa belakangan ada murid sekolah itu sudah mengancam Pastor Montes melalui berbagai cara lantaran murid itu dikeluarkan dari sekolah karena melanggar aturan-aturan sekolah.

Catholic Radio Network pada hari Senin 13 Agustus menyajikan berita yang diambil dari sebuah blog berita di Sudan, Afrika Tengah, tentang perang saudara yang sangat meresahkan seluruh masyarakat negara itu. Uskup Gereja Katolik di wilayah Tombura-Yambio, Mgr. Barani Eduardo Kussala, menyampaikan keprihatinannya bahwa perang itu sungguh sangat memberikan dampak negatif kepada masyarakat dan khususnya anak-anak. Sang Gembala mengutuk keras pihak-pihak yang berperang untuk melepaskan anak-anak dari keterlibatan mereka dalam berperang. Kepada media baik dalam negeri maupun luar negeri Uskup Barani mengisahkan bahwa sejumlah anak yang baru kembali dari sekolah, di tengah jalan mereka diangkut oleh para militer ke hutan. Di sana, anak-anak perempuan dipekerjakan sebagai pencuci pakaian dan pekerja dapur bagi para militer. Sedangkan anak-anak laki-laki dilatih berperang dan memegang senjata. Uskup juga menyerukan warga dunia untuk memberi tekanan kepada negera Sudan supaya membebaskan anak-anak tersebut dari alam perang.

Sebuah survey terbaru Amerika Serikat tentang motivasi umat Katolik tidak menghadiri Misa di Gereja cukup menantang untuk direnungkan.Media online Catholic News Agency pada hari Selasas 7 Agustus  melaporkan, bahwa jumlah umat Katolik Amerika Serikat yang tidak menghadiri Misa mencapai persentasi yang cukup besar. Alasannya bermacam-macam. Mereka yang hanya sekali atau dua kali dalam setahun memasuki gereja itu, ada 37 persen yang beralasan bahwa mereka bisa beriman di luar Gereja dengan cara yang lain, ada 28 persen telah mengganggap dirinya bukan sebagai orang-orang beriman yang taat, dan 23 persen mengatakan kalau mereka tidak menemukan Gereja yang diinginkanya. Bagi mereka yang sudah hampir tidak lagi ke Gereja, ada 47 persen yang senang dengan cara-cara lain menghidupi imannya di luar Gereja, ada sekitar 20 persen beralasan bahwa mereka tidak suka dengan homili-homilinya atau merasa tidak disambut, dan sekitar 20 persen juga memiliki alasan kurang waktu, masalah sakit, dan ketiadaan kehadiran gereja di tempat mereka berada.

 

PERINTAH UNTUK KONSUMSI

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Selasa pekan biasa ke-19; 14 Agustus 2018; peringatan Santo-martir Maksimilianus Maria Kolbe. Yeheskiel 2,8-3.4 dan Matius 18,1-5.10.12-14. Suara: Peter sdb

Renungan kita pada hari ini bertema: Perintah Untuk Konsumsi. Seorang biarawati baru setahun kaul kekal, mendapatkan penugasan baru sebagai pimpinan komunitas dengan anggotanya 30 orang. Ia bersedia dan penuh kerelaan atas tanggung jawab baru itu. Setelah satu tahun berkerja, ada perubahan mencolok dalam dirinya yang membuat orang-orang bertanya-bertanya baik anggota komunitas maupun orang-orang luar termasuk anggota keluarganya. Pada waktu menjelang kaul kekal, ada satu dua biji rambutnya terlihat memutih. Namun setelah satu tahun itu hampir semua rambutnya beruban, paling kurang itu terlihat dari bagian kepala yang tidak ditutupi kerudung.

Menjawab orang-orang yang bertanya, Suster kepala itu memiliki satu jawaban yang sakti sehingga mereka tidak bisa melanjutkan bertanya. Ia selalu berkata: “Hidup saya dikonsumsi oleh pasangan hidupku, yaitu Yesus Kristus. Ia memerintah saya supaya saya memakan diri-Nya, karena Ia sendiri telah memakan diriku.” Orang-orang tidak mengerti pernyataan ini dan mereka lelah untuk mengorek-ngorek karena mereka tahu penjelasannya pasti rumit. Karena jika ia hanya mengatakan bahwa karena masalah pekerjaan atau banyak sekali yang dipikirkan yang akhirnya menjadi stress, ia malahan nanti menjadi objek ejekan dan tertawaan.

Kalau kita mengikuti Kristus dengan sungguh-sungguh, itu berarti Yesus Kristus menjelmah di dalam diri kita. Dia memakan diri kita sehingga yang ada di dalam diri kita adalah bukan diri kita, tetapi diri Yesus Kristus. Itu adalah pengalaman Bunda Maria, Santo Paulus dan para kudus lainnya. Sebagai jawaban atas kuasa Tuhan untuk memakan diri kita, kita juga berbalik memakan diri Tuhan. Artinya kita mengkonsumsi firman-Nya, perintah-perintah-Nya, dan kehendak-Nya. Ekaristi yang merupakan pribadi Tuhan itu kita konsumsi melalui Misa yang kita hadiri secara rutin. Betapa indahnya mengkonsumsi Tuhan sendiri, dan menurut nubuat nabi Yeheskiel, memakan firman Tuhan dalam bentuk gulungan kitab suci sungguh sangat manis rasanya. Tubuh Kristus di dalam Ekaristi yang kita santap, secara fisik tidak memberikan rasa apa-apa, tetapi buah-buahnya sungguh manis dan enak di dalam pertumbuhan iman kita setiap hari.

Perintah Yesus supaya kita menjadi seperti anak kecil dalam menghayati iman kita, hendaknya kita memakan firman ini supaya kita sungguh menghidupi semangat kerendahan hati melalui pelayanan kita kepada Tuhan dan sesama dengan segenap hati. Jika kita tidak dapat memakan firman ini, kita hanya bisa mengulangi dan mengagumi kata-kata tetapi tidak menerimanya sebagai energi yang membarui hidup kita. Kata-kata itu memang kita ucapkan tetapi hanya sebagai hiasan bibir alias omong kosong saja. Maka sebaiknya kita memakannya.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Yesus, bersabdalah dan bukalah diri kami untuk menerima dan mengerti firma-Mu. Bapa kami… Dalam nama Bapa…