Tuhan menetapkan batas

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan Kamis pekan PraPaskah ke-3, 28 Maret 2019. Yeremia 7, 23-28; Lukas 11, 14-23. Suara: Aleks sdb (renungan)

Renungan kita pada hari ini bertema: Tuhan Menetapkan Batas. “Apakah Tuhan Allah memiliki batas?” tanya seorang remaja kepada Pastor Parokinya. Jawab sang Pastor, “Ya, Tuhan menetapkan batas-batas tertentu, ketika sejak awal mula pada masanya manusia pertama, syarat-syarat ditetapkan supaya manusia yang memiliki kebebasan itu harus bertanggung jawab atas kepercayaan yang Tuhan berikan kepadanya. “Terus kenapa Tuhan dikatakan juga selama-lamanya”? sangga remaja itu. Pastor lebih mendekatinya dan menjelaskan.

“Jadi untuk pihak Tuhan sendiri, Ia tidak terbatas dalam kehendak, kemurahan, dan keberadaannya. Ia kekal dan tidak punya batas tempat dan waktu. Tetapi dalam memberikan ajaran, perintah dan petunjuk kepada manusia, Tuhan Allah menetapkan batas-batas. Maka kita memiliki sejumlah batas dari Tuhan dalam bentuk perintah-perintah-Nya seperti: jangan berbohong, jangan mencuri, jangan berbuat cabul, jangan malas, dan seterusnya.” 

Setelah ia pahami penjelasan Pastor dan kembali ke rumahnya, ia mulai menulis sejumlah perintah Tuhan yang harus diikutinya dalam bertingkah laku. Karena ia sering lupa akan tugas-tugas utamanya, ia menetapkan batas-batas keinginannya, yaitu bermain hp satu jam di sore hari dan satu jam lagi di malam hari. Waktu yang lain ia pakai untuk kerjakan apa yang diminta orang tuanya dan belajar mengulangi pelajaran serta mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Di dalam masa Pra Paskah ini, remaja tadi memiliki beberapa daftar berupa batas-batas yang mengontrolnya di dalam bertingkah laku. Ia benar-benar mengikuti arahan dan nasihat dari Pastor Paroki dan orang tuanya. Secara umum kita sebagai pengikut Kristus dan anggota Gereja, Tuhan Allah menetapkan batas-batas umum untuk kita ikuti dan patuhi. Batas-batas umum tersebut berlaku bagi semua orang, setiap tempat dan segala zaman.

Pada hari ini, melalui inspirasi bacaan-bacaan liturgis, kita diingatkan tentang diri kita pribadi dan dalam komunitas umat yang beriman kepada Kristus, yang membentuk Gereja yang satu dan kudus, sebagai orang-orang-Nya Yesus Kristus. We belong to Jesus and not to Satan. Kita adalah bagian dari Yesus dan bukan Setan. Identitas kita sebagai orang Kristen, yaitu orang-orang-Nya Kristus merupakan batas umum yang kita jaga, banggakan dan pelihara.

Dua seruan yang penting bagi kita untuk hari ini ialah: kita menjaga batas ini, dengan menjadi bangsa atau komunitas orang-orang yang selalu mendengarkan Tuhan. Keras kepala, keras hati, dan memilih jalan sendiri, sangat bertentangan dengan identitas itu. Berikutnya, identitas ini kita pelihara dengan tetap selamanya bersama Yesus Kritstus, sebab Ia sendiri menegaskan bahwa tidak bersama Dia berarti menjadi musuh-nya Dia.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Yesus Kristus, terima kasih atas rahmat persekutuan kami kepada-Mu setiap waktu. Bapa kami… Dalam nama…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *