Tidak mengampuni

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan Selasa pekan PraPaskah ke-3, 26 Maret 2019. (Tambahan) Daniel 3,25. 34-43; Matius 18,21-35. Suara: Pras sdb (renungan)

Renungan kita pada hari ini bertema: Tidak Mengampuni. Di dalam masa Pra Paska ini, banyak sekali himbauan dan ajakan untuk memberikan pengampunan. Entah pihak yang berbuat salah, entah pihak yang menjadi korban, hal tentang pengampunan pada dasarnya diarahkan kepada kedua pihak. 

Tindakan pengampunan menjadi faktor penyatu, sehingga masing-masing pihak diharapkan bertemu dan berbicara. Harapannya dapat tercapai pengampunan dari pihak yang menjadi korban dan pengakuan serta penyesalan pihak yang bersalah. Kita semua paham tentang ini, dan diundang untuk melakukannya.

Tidak hanya setiap tahun khususnya pada masa Pra Paska, namun justru setiap kali Sabda Tuhan tentang pengampunan diwartakan, kita berhadapan dengan ajakan-ajakan dan seruan-seruan untuk melakukan pengampunan. Hal ini berarti kita belum sepenuhnya saling mengampuni, atau bahkan tidak sudi mengampuni. Fakta bahwa kita tidak saling mengampuni adalah benar adanya.

Dua bersaudara terlibat konflik besar, bahkan sudah meningkat menjadi saling mengutuk. Ketika didorong untuk saling mengampuni, mereka bertemu dan melakukannya. Tetapi setelah pulang ke tempatnya masing-masing, kemarahan masih membara, sehingga mereka memiliki halangan besar untuk saling berbicara dan berhubungan kembali sebagai saudara. Jadi kemarahan adalah sebuah tanda orang tidak dapat mengampuni sesamanya.

Seorang pemudi selalu mengingat perlakuan guru dahulu ketika ia masih di bangku sekolah. Setiap kali bayangan guru itu terlintas, emosinya langsung terbakar dan apa saja di sekitarnya selalu menjadi sasaran pelampiasan marahnya. Sangat sulit ia melupakan kejadian itu. Mengingat pribadi tersebut dan perlakukan kasar terhadapnya, membuat dirinya selalu seperti di dalam kurungan penjara. Ia memang tidak bisa keluar dari sana. Tidak melupakan kesalahan adalah tanda orang tidak dapat mengampuni sesamanya.

Manager di kantor termakan kemarahan karena ulah anak buah untuk kesekiaan kalinya. Ia hilang kesabarannya. Namun anak buah itu sangat pandai dan sangat dibutuhkan oleh kantor. Ia selalu berlindung dibawah kepandaiannya. Setiap kali berbuat salah, tidak ada penyesalan padanya. Ia dengan gampang mengakui diri  bersalah, tetapi tidak pernah menyatakan bahwa ia sedih dan terpukul oleh tingkah lakunya itu. Keangkuhannya itu adalah alasan mengapa si manager tidak mengampuninya. Tidak ada penyesalan atas dosa dan kesalahan membuat orang tidak mudah mendapatkan pengampunan. 

Tuhan Yesus mengingatkan kita begini: Jika kamu tidak mau mengampuni saudaramu, Bapa pun tidak akan mengampuni kamu.

Marilah kita berdoa. Dalam nama… Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu mengampuni sesama kami tanpa keberatan apapun. Salam Maria… Dalam…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *