Terimalah aku ya, Tuhan

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Selasa pekan Paskah ke-3, 7 Mei 2019. Kisah Para Rasul 7, 51 – 8, 1a; Yohanes 6, 30-35. Suara: Peter sdb (renungan. Bacaan Injil: Sergio sdb)

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Terimalah Aku Ya Tuhan.  

Seorang biarawati diminta untuk memberikan kata sambutan dalam acara kaul kekalnya. Ia mengawali dan mengakhiri sambutan singkatnya dengan kata-kata ini: Terimalah Aku Ya Tuhan. Isi sambutannya adalah ucapan terima kasih dan permohonan untuk didukung selalu dalam doa. Semua orang dibuat agak heran karena sambutan itu berlangsung sekitar dua menit.

Ketika orang-orang bertanya tentang makna ungkapan: Terimalah Aku Ya Tuhan, biarawati itu menjawab bahwa seluruh hidupnya ia persembahkan kepada Tuhan dan Gereja. Sejak saat kaul kekal itu, ia berjanji untuk mempersembahkan dirinya sebagai pribadi yang utuh. Dengan begitu berarti semua hal berkaitan dengan pekerjaan, pelayanan, sakit, derita, tantangan dan berbagai hal lain sudah termasuk di dalam pribadinya itu.

Penjelasan si biarawati itu merefleksikan bacaan-bacaan kita pada hari ini. Santo Stefanus sebagai martir pertama dalam Gereja, menaruh dirinya sebagai pribadi yang utuh, sebagai persembahan istimewa kepada Allah. Ia sebagai seorang murid Yesus yang pandai, berbakat, pekerja keras, dan pembela iman. Namun ia tidak menaruh dirinya dengan menonjolkan posisi, pekerjaan, capaian keberhasilan, dan ketenarannya. Ia persembahkan seluruh dirinya dengan utuh, menjelang ajalnya itu, dan semua yang lain sudah termasuk di dalamnya.

Yesus menjawab nafsu orang orang-orang Yahudi yang mengejar pekerjaan dan ingin memastikan tentang pekerjaan Yesus, dengan memberikan inti tentang diri-Nya: “Aku adalah roti” yang dicari-cari oleh mereka dan semua orang yang mengharapkan keselamatan. Tak usah repot-repot soal yang lain-lain, tapi cukup kenali Dia, percaya kepada-Nya dan tinggal bersama Dia. Di sini Tuhan ingin mengajarkan kita bahwa pandangan dan perlakuan kita terhadap satu sama lain di dunia ini harus secara utuh, yaitu sebagai pribadi yang dikasihi Allah.

Semua yang melekat pada diri setiap orang seperti nama baik, pekerjaan, relasi, posisi, prestasi, kesuksesan dan lain-lain sebagai aspek positif; dan kegagalan, sakit, kehilangan, kekosongan, kesepian, putus asa dan lain-lain sebagai aspek negatif, akhirnya akan berakhir di dunia ini pada saat kita mati. Yang kita bawa selanjutnya untuk berjumpa dengan Tuhan ialah diri pribadi kita dengan iman kita miliki. Semua itu melekat pada diri kita supaya kita dapat menjalankan  tugas-tugas sesuai panggilan kita masing-masing.

Maka pesan gembira bagi kita pada hari ini ialah: supaya kita memandang indah dan berharga diri kita dan sesama sebagai pribadi yang utuh, karunia Tuhan.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Allah maha baik, bantulah kami untuk selalu berada di dalam jalan Putera-Mu Yesus Kristus, Tuhan dan juruselamat kami. Amin. Dalam nama Bapa…

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *