Saling menasihati dan menerima

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Selasa pekan biasa ke-22, 3 September 2019; peringatan Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja. 1 Tesalonika 5, 1-6. 9-11; Lukas 4, 31-37. Suara: frater Prymus sdb (bacaan) dan bruder Bernardinus sdb (renungan)

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Saling Menasihati dan Membina. Karena gempa bumi beberapa waktu lalu, gedung gereja untuk umat paroki yang berjumlah lima ribuan orang itu rusak sekitar 50 persennya. Akibatnya, gereja itu terpaksa tidak digunakan untuk sementara. Untuk perbaikannya diputuskan bersama bahwa setiap keluarga di paroki sebagai penyumbang dana dan bahan bangunan. 

Pembicaraan antara pastor paroki dan umatnya perihal perbaikan itu pada akhirnya mengerucut pada dua tujuan yang akan dicapai bersama. Pertama ialah perbaikan fisik gereja secepat dan sebaik mungkin supaya umat tidak terlalu lama bertahan di tempat ibadat yang darurat. Tujuan kedua yang juga sama pentingnya yaitu pembangunan jemaat, khususnya persaudaraan dan kerja sama di antara mereka dirajut kembali setelah terjadi sejumlah friksi lantaran perbedaan pandangan dan salah paham di antara mereka.

Semakin perbaikan gereja itu menunjukkan kemajuan, semakin pula disadari bahwa pembangunan jemaat itu harus diberi lebih banyak konsentrasi. Kehidupan jemaat yang positif, sehat dan penuh persaudaraan tentu menjadi kondisi dasar untuk suksesnya pembangunan fisik gereja. Tentang persoalan friksi di antara umat, Pastor Paroki bersama umatnya mengusahakan adanya saling menasihati dan membina di antara mereka. Hal ini merupakan kebajikan yang dikembangkan juga oleh jemaat di Tesalonika seperti yang dikatakan dalam bacaan pertama.

Gereja lokal seperti paroki berorientasi kepada pemberdayaan jemaatnya dengan salah satu cirinya ialah kemandirian umat. Orientasi pastor sentris atau imam sebagai pusat sudah berubah menjadi umat sentris. Umat paroki yang mandiri dianggap mampu mengatasi persoalan-persoalan di antara mereka, dan salah satu cara penting untuk melakukan ini ialah dengan saling menasihati dan membina. Kata Santo Paulus, Allah menetapkan kita bukan untuk mengalami kemurkaan, melainkan untuk memperoleh keselamatan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus.

Kemandirian sebagai satu jemaat, sangat perlu menghindari sifat menunggu untuk dilayani, atau mengharapkan datangnya bantuan. Mirip dengan mental pastor sentris ialah semangat santa klaus, di mana hadiah dan pemberian itu sangat dinantikan. Melalui saling menasihati dan membina, kekuatan negatif dan jahat dapat dihalau keluar dan dihindari. Setan selalu mengintai untuk merusak kehidupan yang tenang, damai dan nyaman, tetapi kalau jemaat senantiasa kuat dalam hidup bersama dan saling menguatkan, setan tidak mampu memasukinya.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ke dalam kuasa-Mu yang Allah, kami menaruh seluruh nasib hidup kami untuk dibimbing. Bapa kami… Dalam nama…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *