PERTOBATAN MEMBERIKAN PENGELIHATAN BARU

Bacaan dan renungan hari Senin pekan biasa ke-33 tahun B, 19 November 2018. Wahyu 1,1-4; 2,1-5a; Lukas 18,35-43. Suara: Ambros sdb

Renungan kita pada hari ini bertema: Pertobatan Memberikan Pengelihatan Baru. Seorang suami yang baru dua tahun membangun keluarga bersama isterinya dan anak pertama mereka yang perempuan, bercerita bahwa perubahan dalam dirinya adalah sungguh sebuah pertobatan. Ujian terberat baginya terjadi ketika ia harus membebaskan diri dari pemakaian narkoba. Sampai tahun pertama perkawinan, ia masih memakai obat terlarang tersebut. 

Namun begitu isteri hamil dan mereka menyiapkan kelahiran anak pertama, ia memutuskan berhenti total. Ia bukan pencandu atau yang menggantungkan hidupnya pada narkoba. Ia ingin menantikan kelahiran anaknya dengan sebuah hidup baru, sehingga ketika anaknya datang ia dapat menyambutnya dengan penuh suka cita dan kebaruan di dalam hidup keluarganya. Ia mau menghadirkan pribadinya yang baru kepada sang isteri anak nya.  

Pertobatan lelaki tersebut membuatnya dapat melihat dunia, keluarganya dan khususnya dirinya sendiri secara baru. Ini dapat dikatakan sebagai kelahiran baru bagi dirinya. Kitab Wahyu dalam bacaan pertama memanggil orang-orang yang sudah terlalu lama dan dalam jatuh ke dalam kenistaan hidup, supaya bertobat. Kalau terlalu lama dan dalam, mereka nyata sekali menjadi buta akan pengharapan suatu hidup yang baru. Mereka pasti tidak dapat melihat bahwa ada kehidupan baru yang lebih baik daripada yang sedang mereka alami.

Faktor dosa, kejahatan dan kelaliman menjadikan seseorang mati secara rohani. Kematian ini dapat disejajarkan dengan orang yang menderita kebutaan fisik, yaitu matanya tidak bisa menginderai, sehingga ia tidak dapat melihat dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Pengalaman seorang buta yang disembuhkan oleh Yesus dalam kisah Injil hari ini jelas menunjukkan bahwa si buta itu, pada waktu yang tepat mendapatkan karunia kesembuhan, sehingga hidupnya setelah mujisat itu merupakan suatu hidup yang baru.

Kebutaan fisik yang ada pada kita, khususnya beberapa orang di sekitar kita, tidak semestinya membuat mereka menjadi yang terakhir atau terlupakan dari segala kemurahan Tuhan. Jika Yesus berbelas kasih kepada mereka yang buta mata fisiknya, kita yang adalah saksi-saksi Kristus di dunia mesti juga mempunyai semangat yang sama, yaitu berbaik hati dan berbelas kasih kepada mereka. Namun demikian, dalam hal kebutaan rohani, kita semua harus mengakui itu sebagai situasi yang lebih serius karena menyangkut nasib hidup kita. Dosa, gaya hidup duniawi dan semangat kedagingan selalu menjadi faktor utama yang membutakan kita dari jalan dan kebijaksanaan Tuhan. Doa kita akan hal ini ialah: Ya Tuhan semoga hati dan budi kami dapat melihat kemuliaan-Mu yang mempengaruhi hidup kami setiap hari dalam dalam jalan hidup kami.

Marilah kita berdoa. Dalam nama.. Ya Bapa, buatlah kami mampu melihat dengan iman kami, semua tanda kehadiran-Mu. Salam Maria…Dalam nama Bapa…

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *