Penyambutan

Bacaan-bacaan dan renungan Sabda Tuhan Hari Minggu Palma, 14 April 2019. Yesaya 50, 4-7; Filipi 2, 6-11; Lukas 22, 14 – 23, 56. Suara: frater Victor sdb (bac 1), frater Linus sdb (bac 2), diakon Marsel sdb (bac Injil), dan pastor Peter sdb (renungan).

Tema renungan kita pada hari Minggu Palma atau Minggu Sengsara ini ialah Penyambutan. Setiap kali melakukan ibadat pemberkatan rumah, sampai pada bagian pintu depan atau gerbang, saya selalu mengucapkan doa ini: “Semoga dalam kuasa Allah dan melalui manfaat pintu ini, kebaikan dan kebenaran disambut ke dalam rumah sedangkan kesalahan dan kejahatan dikeluarkan.” Ucapan doa dan gerakan tanda salib serta siraman air suci atas gerbang itu selalu disaksikan langsung oleh anggota keluarga bersangkutan.

Setiap tempat atau locus tempat kita berada berfungsi menyambut dan melepaskan. Hati, pikiran dan diri kita menyambut informasi atau pengetahuan, tetapi juga mengeluarkan apa saja yang sepatutnya keluar. Rumah dan kota juga melakukan yang sama, menyambut dan melepaskan. Intinya ialah bahwa sistem alam dan pemahaman normal menjelaskan bahwa tindakan penyambutan mengandaikan adanya pengeluaran. Supaya ada yang masuk, di dalamnya mesti keluar lebih dahulu agar ada tempat bagi yang masuk.

Hidup kita di dalam masa Pra Paska ini diwarnai oleh gerakan penyambutan rahmat Tuhan yang mengalir tanpa henti, untuk membuat diri kita layak berjalan beriringan dengan Tuhan Yesus Kristus. Tetapi gerakan untuk pelepasan atau pengeluaran segala rintangan yang ada di dalam diri kita juga sangat perlu kita lakukan. Aneka disiplin berupa doa yang semakin tekun, bermatiraga melalu puasa dan pantang, dan amal kasih sangat efektif untuk memperlancar gerakan pelepasan dan penyambutan tersebut. 

Gerbang Yerusalem dan perayaan Minggu Palma ini terbuka bagi kita untuk menyambut Yesus Mesias, Raja dari segala raja, Sang Juru Selamat dunia. Yang harus dikeluarkan pertama-tama ialah cara paham yang salah tentang Raja Kristus. Ia tidak boleh dianggap sebagai raja atau pimpinan perang yang ada di dunia. Ia harus disambut sebagai raja damai, suka cita, dan keselamatan. Kita juga perlu mengeluarkan pandangan yang bodoh bahwa sebagai Tuhan Ia tidak boleh menderita dan mati secara keji. Sebaliknya kita harus menyambut Dia sebagai Tuhan yang berkorban nyawa bagi setiap pribadi kita.

Kita harus menyambut Dia sebagai manusia yang tidak pernah menolak dan berontak balik, ketika martabatnya diinjak-injak dengan berbagai fitnahan keji dan kekerasan fisik. Maka kita perlu mengeluarkan anggapan bahwa Yesus Kristus harusnya melarikan diri untuk menghindari bahaya dari para musuh-Nya. Kita sepatutnya menyambut Dia sebagai Tuhan yang merendahkan diri-Nya, tetapi pada akhirnya akan ditinggikan oleh Bapa di surga. Oleh karena itu kita perlu mengeluarkan segala bentuk egoisme dan kesombongan yang selalu menjadi hambatan bagi kita untuk sesungguhnya mengikuti jejak Kristus.

Marilah kita berdoa. Dalam nama … Ya Yesus Sang Raja, kuatkanlah iman kami untuk selalu mengakui-Mu sebagai Raja yang sejati, sehingga hidup kami selalu bertujuan untuk melakukan kehendak Bapa. Kemuliaan… Dalam nama…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *