Pendosa transparan

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan Sabtu pekan PraPaskah ke-3, 30 Maret 2019. Hosea 6, 1-6; Lukas 18, 9-14. Suara: Adventus sdb (renungan)

Renungan kita pada hari ini bertema: Pendosa Transparan. Hanya satu dari semua manusia ciptaan Tuhan tidak berdosa. Dia itu adalah Bunda terberkati, Maria, yang dikandung oleh ibundanya tidak bercela. Maka itu ia disebut Maria Imakulata. Selain dari dia, kita semua adalah pendosa entah besar entah kecil, entah banyak entah sedikit, entah kelihatan entah tidak kelihatan.

Dua orang bersahabat sejak kecil. Sampai kini sudah berkeluarga persahabatan mereka tetap terpelihara. Pada suatu hari kedua sahabat itu terlibat percakapan yang menyangkut hal-hal bersifat pribadi. Bagio, satu dari kedua sabahat itu berkata bahwa ia korupsi uang kantor. Besarnya uang, berapa kali ia lakukan korupsi, tempat-tempat uang disimpan, uang dipakai untuk apa, ia ceritakan semuanya. Ia percaya sahabatnya Forlan pasti menjamin kerahasiaannya. 

Sahabatnya Forlan menikmati cerita tersebut. Terkadang ia meminta klarifikasi hal yang kurang jelas. Ia mengangguk kepala tanda setuju. Ia memahami semua yang diceritakan. Bagi Bagio, dengan terbuka kepada sahabatnya, ia sudah merasa ringan atas beban yang dipikulnya. Ada perasaan lega dan terbuka jalan di depannya untuk kemungkinan berubah dari tindakan korupsi di kemudian hari. Di pihak Forlan, ia tidak menampakkan tanda-tanda untuk bercerita tentang dirinya. Padahal sudah menjadi kecurigaan umum bahwa ia selingkuh. Forlan sepertinya tersiksa dan menderita dalam kesendirian dengan dosa yang sedang menderanya. Kepada sahabatnya pun ia tidak berani terbuka.

Kisah ini paling kurang memberikan kita sedikit pencerahan bahwa ada dua jenis pendosa. Mereka yang disebut pendosa yang tulus atau seperti yang disebutkan di atas, pendosa transparan, ialah orang yang terbuka dengan dosa yang telah diperbuatnya. Ia dapat terbuka di kamar pengakuan, dengan pasangan hidupnya, sabahatnya, atau dengan orang terpercaya. Motivasinya ialah dengan sikap transparan itu, ia dapat melepaskan diri dari belenggu dan siksaan beratnya dosa. Tujuan yang paling penting ialah supaya ia memperoleh bantuan berupa pengertian, dukungan moril dan pengampunan.

Sebaliknya mereka yang disebut pendosa tertutup atau terselubung ialah orang yang menutup-nutupi kesalahan atau dosa yang telah diperbuat. Ada banyak alasan adanya sikap tertutup ini: misalnya malu, takut, atau sombong. Orang Farisi dalam kisah Injil di atas paling kurang dihantui ketiga alasan tersebut. Tuhan sungguh tidak berkenan dengan sikap seperti orang Farisi itu. Seharusnya, dan terlebih-lebih dalam masa Pra Paskah ini, kita menyadari diri kita sebagai para pendosa transparan. Tuhan sudah mengetahui semuanya, dan di dalam era komunikasi ini, apa pun bentuk dosanya akan tersingkap pada saatnya yang tepat. Maka marilah kita hilangkan sikap tertutup atas dosa kita.

Marilah kita berdoa. Dalam nama… Ya Bapa, tambahkanlah keberanian dan keterbukaan kami, supaya dapat mengakui kesalahan kami dengan tulus dan iklas, demi mendapatkan pengampunan-Mu. Kemuliaan… Dalam nama…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *