PAUS AKAN MENGUNJUNGI KOREA UTARA

Ikuti berita terbaru dari media La Porta

Mekanisme buruk yang mewarnai perilaku orang-orang yang dikuasai oleh materialisme dan kekuasaan duniawi ialah penimbunan kekayaan yang didapatkan dari korupsi, namun kontribusi kecil untuk kehidupan sosial, budaya dan keagamaan. Di balik itu, sebagian anggota masyarakat dan umat beriman yang miskin senantiasa menjadi sasaran pungutan-pungutan dengan dalil sumbangan atau persembahan kasih dan partisipasi sosial. Realita ini direfleksikan oleh Paus Fransiskus dalam renungan singkat yang disampaikan di lapangan Santo Petrus di Vatikan pada hari Minggu 11 November 2018. Media Vatikan Zenit.org melaporkan pada hari Minggu 11 November 2018. Sebelum dan sesudah memimpin Doa Malaikat bersama sekitar 20-ribu peziarah, Bapa Suci menampilkan figur para ahli Taurat yang kaya dan janda yang miskin, yang menunaikan kewajiban memberikan persembahannya kepada Tuhan dan sesama. Tentang dua figur yang bertolak belakang dalam intensi persembahannya, Sri Paus mengatakan bahwa Tuhan memperhitungkan dan menilai persembahan diri seseorang bukan berdasarkan jumlah uang yang ia berikan, tetapi apa yang ada di dalam hatinya. Tuhan membutuhkan kemauan hati untuk membantu orang lain dan atas motivasi cinta kasih. Sama seperti Yesus berkorban kepada kita karena cinta kasih, kita hendaknya juga membantu orang lain dengan cinta kasih Tuhan.

Kepada para partisipan Konggres Internasional tentang Ekaristi yang diselenggarakan Komite Kepausan tentang Ekaristi, yang bertempat di aula Konsistori istana Kepausan pada hari Sabtu 10 November, Paus Fransiskus menyampaikan pandangannya tentang Ekaristi. Media Zenit.org dan Vatican News pada hari Senin12 November, memberitakan tentang sambutan Paus menekankan terciptanya sebuah kultur ekaristi, yang pada prinsipnya membutuhkan tiga prinsip yang menopangnya. Yang pertama ialah persekutuan, yaitu sebuah sikap untuk menyatukan diri kita dengan Yesus dan dengan sesama di dalam Gereja dan di luar Gereja. Yang kedua ialah pelayanan, yaitu buah dari santapan tubuh dan darah Kristus berupa santapan juga untuk banyak orang yang lain. Yang ketiga ialah belas kasih, yaitu bahwa di dalam Ekaristi itu, sumber belas kasih tercurahkan kepada setiap orang yang mengambil bagian di dalamnya. Sumber itu mengalir dari Anak Domba yang dikorbankan. 

Sekitar satu bulan yang lalu, Oktober 2018, Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, seorang Katolik yang setia, menyampaikan secara lisan kepada Paus Fransiskus, undangan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, agar Paus berkenan mengunjungi negara Korea Utara yang merupakan negara Komunis berhaluan keras. Media-media Vatikan seperti Zenit.org dan Fides melaporkan pada hari Jumat 16 November, bahwa Sri Paus sangat menyambut baik undangan tersebut. Syaratnya ialah begitu ada surat resmi dari Pemimpin Korea Utara tersebut, Paus akan segera menjadwalkan perjalanan ke negara Komunis tersebut. Uskup Agung Seoul di Korea Selatan, Kardinal Andrew Yeom Soo-Jung, yang juga sebagai Administrator Apostolik dioses Pyongyang (ibukota Korea Utara), menyatakan antusiasmenya, bahwa dengan kunjungan Bapa Suci Fransiskus, percepatan rekonsiliasi dan penyatuan kedua negara Korea akan lebib cepat terwujud. Kardinal Andrew dengan gembira akan menemani Paus mengunjungi Korea Utara.

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *