Pasangan

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Kamis pekan biasa ke-5, 14 Februari 2019; peringatan Santo Sirilus, rabib; dan Metodius, uskup. Kejadian 2,18-25; Markus 7,24-30. Suara: Peter sdb (Injil dan renungan)

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Pasangan. Salah satu ciri kualitas ciptaaan sejak awal mula diadakan oleh Pencipta ialah pasangan. Langit dipasangkan dengan bumi. Darat dipasangkan dengan laut. Siang dipasangkan dengan malam. Panas dipasangkan dengan dingin. Sampai kepada ciptaan yang disebutkan sebagai gambaran dan rupa Allah sendiri, juga dibuat berpasangan laki-laki dan perempuan. Memiliki pasangan adalah kodrati dan diciptakan.

Ada diskusi di antara siswa SMA yang baru selesai mengikuti pelajaran agama. Mereka membahas di antara mereka sendiri tentang hidup berpasangan. Seorang mengatakan: “Tuhan sangat bijkasana, dengan memberikan ciptaan-Nya berpasangan agar mereka saling menjaga dan membantu.” Seorang lagi berkomentar: “Sungguh tidak baik jika ciptaan itu sendiri-sendiri, ia tidak bisa memberikan keunikannya yang berbeda dari yang lain, yaitu pasangannya. Yang satu lagi berkata: “Berpasangan itu syarat untuk keseimbangan dan keindahan. Kalau sendiri saja  tidak seimbang, tidak indah, dan tidak menarik.”

Lalu anak yang ke-4 punya kesempatan untuk bicara. Ia bertanya kepada teman-temannya: “ Tuhan Allah berpasangan dengan apa atau siapa?” Sampai pada tahap diskusi itu, mereka perlu waktu untuk berpikir dan merenung. Lalu akhirnya mereka sepakati jawabannya. Karena Tuhan Allah adalah pencipta, maka sangat wajar Ia berpasangan dengan ciptaan, yaitu hasil buatannya sendiri. Sejak awal mula dikatakan bahwa semua yang diciptakan itu baik adanya, jadi Ia berpasangan dengan semua yang baik itu, apa yang Ia buat dari kekuasaan-Nya.

Singkatnya, hidup kita adalah pantas, indah, dan bermartabat seperti yang sudah ditentukan oleh Tuhan kalau berpasangan. Untuk manusia sebagai ciptaan yang paling mulia, atau dapat kita katakan masterpiece – ciptaan puncak atau terbaik Allah, pria dan wanita diberikan hidup bersama-sama melalui sebuah rancangan yang membuat mereka bergantung satu sama lain. Bahasa yang paling pas untuk ketergantungan itu ialah cinta. Dari segi biologis, cinta dibangun melalui pengenalan bahwa pria sungguh berbeda daripada wanita, demikian juga sebaliknya. Jika tidak ada perbedaan atau keunikan, cinta pasti tidak menarik.

Dipandang dari segi rohani, cinta kepada pasangan diungkapkan dengan mengikuti teladan Tuhan Allah, yaitu pengorbanan diri. Berkorban bagi pasangannya merupakan perwujudannya cinta yang sejati. Tuhan Allah begitu mencintai manusia di dunia ini sebagai pasangan-Nya, maka Ia berkorban menjadi sama dengan manusia, di dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus juga begitu sayang dan mencintai kita, seperti yang dilakukan kepada orang wanita kafir demi kesembuhan anaknya, maka kita diminta untuk melakukan yang sama. Perintah Allah sangat jelas, yaitu mencintai pasangan kita masing-masing.

Marilah kita berdoa. Dalam… Ya Tuhan, jadikanlah kami sejati bagi pasangan kami masing-masing, seperti yang Engkau kehendaki. Salam Maria … Dalam …

Please Share:

1 Comment

  1. Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *