Nothing to lose

Bacaan-bacaan dan renungan Sabda Tuhan Hari Minggu Biasa ke-5, 10 Februari 2019. Yesaya 6,1-2a.3-8; 1Korintus 15,1-11; Lukas 5,1-11. Suara: frater Blas Ola sdb (bac 1), frater Andi sdb (bac 2), diakon Igan sdb (Injil), dan pastor Peter sdb (renungan). Salam hangat!

Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-5 ini ialah: Nothing To Lose. Di dalam perlombaan atau kompetisi apa pun, prinsip nothing to lose atau berjuang dan berlomba tanpa beban apa pun, membuat pihak yang berpartisipasi hanya fokus pada perlombaan itu. Dalam menghadapi ujian di sekolah atau tes menjadi pegawai di kantor, semangat nothing to lose membuat yang seseorang tidak berambisi dan tulus dengan kemampuannya yang sebenarnya. 

Ketika seorang menjalankan sebuah pekerjaan yang diberikan dan ada target pencapaian yang diproyeksikan, sikap mental nothing to lose membuat dia bekerja sesuai detail standar operasionalnya, sehingga berada di jalur yang benar dan punya rasa percaya diri. Seorang yang berjuang mempertahankan harga dirinya karena telah difitnah dan direndahkan, keyakinan nothing to lose mendorongnya untuk menempu jalan hukum yang seadil-adilnya. Atau berdasar pada keyakinan itu ia rela menyelesaikannya secara kekeluargaan dan bijaksana, dengan tanpa ada beban kemarahan atau kebencian apa pun.

Singkatnya, prinsip nothing to lose berperan untuk membuat seseorang berbuat sesuatu dengan benar, lancar, tulus, fokus, serius, tanpa beban dan jelas targetnya. Kita belajar dari bacaan-bacaan pada hari ini tentang sikap mental tersebut. Prinsipnya ialah kita berangkat dari ketulusan dan totalitas sikap Tuhan yang memilih untuk datang ke dalam dunia. Tuhan tidak punya beban dan tak ada keberatan untuk hidup bersama kita manusia. Yesus Kristus total menjadi bagian dari kita, bahkan Ia memilih yang terburuk dari dunia ini.

Kita sebagai pengikut Kristus memiliki kewajiban untuk menjalankan kehendak Tuhan. Panggilan Tuhan kepada kita masing-masing untuk memiliki jalan hidup, profesi, pelayanan, dan pengabdian, merupakan perbuatan Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya. Ketika kita menerima dan menyanggupinya, sikap kita hendaknya total dan tulus seperti Tuhan Yesus sendiri yang total dan tulus. Yesaya sebagai teladan kita dengan ungkapannya yang terkenal: Inilah aku, utuslah aku. Sementara itu, para murid yang dipanggil oleh Yesus dengan tugas untuk menjala manusia, meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus.

Santo Paulus menguatkan kita dalam ketulusan dan totalitas Kristiani, yaitu sebagai pribadi-pribadi yang kredibel. Bagi dia, tidak ada kesaksian Kristen yang hakiki, kalau tidak ada kesesuaian antara pengajaran dan kehidupan, yang dipikirkan dan dibuat, yang diwartakan dan yang dihayati, yang didokan dan yang dihayati. Jika Anda berkata yang satu dan berbuat yang lain, kredibilitas Anda sebagai seorang Kristen harus dipertanyakan. Anda tidak memiliki prinsip nothing to lose dalam perjalanan sebagai murid menuju kepada Bapa. Oleh karena itu marilah kita bersikap tulus, fokus, dan total sebagai pengkuti Kristus.

Marilah kita berdoa. Dalam nama …  Ya Bapa yang baik, berkatilah dan rahmatilah kami untuk menjadi anak-anak-Mu yang sejati. Bapa kami… Dalam…

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *