MANUSIA YANG DIPERBAHARUI

Bacaan-bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Minggu Biasa ke-18, 5 Agustus 2018. Bac-1: Keluaran 16,2-14.12-15; Bac-2: Efesus 4, 17. 20-24; Injil Yohanes 6,24-35

Renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-18 ini ialah: Manusia Yang Diperbaharui. Setiap peristiwa dan kegiatan iman kita selalu menempatkan diri kita dalam hubungan dengan Tuhan. Suatu pengalaman awal selalu merupakan tahap baru dalam beriman. Di bagian akhir perjalanan iman yang kita yakini sebagai tujuannya ialah hidup dalam persekutuan selama-lamanya dengan Tuhan. Di antara awal dan akhir itu terdapat suatu proses panjang yang penuh dengan pengalaman pembaharuan. Di sini manusia mengalami diperbaharui.

Pilot penerbangan pesawat komersial dari Makasar ke Jakarta sedang berbicara. Cuaca pada waktu itu dipastikan sedang tidak baik. Badan metereologi sudah memberikan data rinci tentang cuaca udara demi meningkatkan kewaspadaan. Sebelum lepas landas ia berkata demikian, “Cuaca saat lepas landas dipastikan baik dan kita berharap untuk sampai di Jakarta sebagai tujuan pertama penerbangan ini dengan selamat. Semua penumpang dihimbau tetap tenang dan berdoa, karena kita tidak tahu sesungguhnya di perjalanan nanti. Selamat siang.”

Suatu proses belum tentu mencapai tujuan akhir seperti yang diharapkan. Tetapi kita semua tahu bahwa kepastian proses itu terletak pada pergerakan atau  dinamikanya. Musa bersama bangsa Israel sedang berproses dalam kepatuhan dan kesetiaan kepada Allah. Makanan yang diturunkan dari surga menentukan dinamika proses tersebut. Ribuan-ribuan orang yang diberi makan oleh Yesus sedang mencari kepastian kelangsungan hidup mereka. Mereka sadar kalau roti dan ikan adalah tujuan pencarian mereka. Ternyata tidak demikian. Yesus mengatakan bahwa proses itu bukan hanya jasmani, namun lebih dari itu adalah kebutuhan rohani.

Setelah dipuaskan dengan makanan dari Tuhan, harapan besarnya ialah orang-orang diperbaharui hidupnya. Masalah orang Israel dalam pimpinan Musa ialah mereka merasa senang sesaat namun kemudian mereka kembali lagi mengeluh dan melawan Tuhan. Ribuan orang yang puas oleh makanan dari penggandaan lima roti dan dua ikan itu mengalami pembaharuan hidup yang negatif. Mereka hanya mau mencari makanan jasmani dan ingin menjadikan Yesus raja bagi negeri mereka. Pembaharuan ini adalah ke arah negatif. Padahal yang dikehendaki Tuhan adalah suatu pembaharuan rohani yang positif.

Setiap kali setelah menerima Sabda Tuhan yang menjelmah dalam Ekaristi, kita diharapkan menampakkan diri sebagai orang-orang yang diperbaharui. Karunia makanan ini mengisi seluruh diri kita, jasmani dan rohani, yang mendukung kita hidup dan bekerja pada waktu dan hari-hari sesudahnya. Kecapaian, kelelahan, kejenuhan, berada di dalam tekanan, saat-saat bingung dan dilema, marah dan putus asa menghinggapi kita dalam hari-hari tersebut. Saat kembali lagi ke perayaan Ekaristi, jadikanlah itu sebagai kesempatan untuk pembaharuan diri.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Allah, berikanlah kami kemauan dan kerinduan yang tak kunjung berhenti akan Ekaristi. Bapa kami… Dalam nama…

 

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *