Makanan dan minuman rohani

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Jumat pekan Paskah ke-3, 10 Mei 2019. Kisah Para Rasul 9, 1-20; Yohanes 6, 52-59. Suara: Servas sdb (Injil) dan Peter sdb (renungan)

Renungan pada hari ini bertema: Makanan Dan Minuman Rohani. Ketika Tuhan Yesus Kristus menjelaskan bahwa diri-Nya adalah tubuh dan darah yang mesti dikonsumsi oleh mereka yang percaya kepada-Nya, satu pertanyaan yang segera muncul ialah: dari semua yang mendengar itu, siapa saja yang pertama memahami lalu makan daging dan minum darah Yesus Kristus?

Pertanyaan ini sungguh terkait dengan perasaan para pendengar-Nya waktu itu. Orang-orang Yahudi merasa geli dan malu. Para murid terbagi menjadi yang menerima dan menolak ajaran ini. Isi ajaran ini sungguh berat untuk dipahami, apalagi sampai pada tindakan untuk memakan dan meminum diri Yesus. Bagaimana mungkin ada ajaran suci untuk menjadi kanibal, pemakan manusia?

Namun ajaran ini sebenarnya berdimensi rohani. Yesus ingin jadikan diri-Nya makanan dan minuman rohani supaya menghasilkan pertumbuhan rohani para pengikut-Nya dan akhirnya tiba pada suatu pencapaian rohani, yaitu persektuan dengan Allah. Makanan dan minuman rohani itu ialah firman dari Bapa, ajaran Yesus Kristus, dan tindakan pengorbanan diri-Nya. Kita mengkonsumsi berarti kita mengerti, percaya, meniru, dan menjalaninya.

Di dalam liturgi hari ini, seorang sosok manusia yang mengambil jalan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman rohani ini ialah Saulus. Meski ia adalah orang Yahudi tulen dengan tugasnya ialah membinasahkan Gereja yang sudah mulai berkembang, Allah telah memilih dia menjadi alat pilihan bagi-Nya. Namun sebelum menjadi alat Tuhan sesungguhnya, ia ditegur oleh Tuhan, lalu disadari akan perilaku jahatnya, dan dipastikan untuk berubah. Kemudian itu ia harus memakan tubuh dan darah Kristus, yaitu sabda dan teladan Yesus sendiri. Roh Tuhan memasuki dirinya sehingga ia dibaptis dan ditahbiskan menjadi pribadi yang sama sekali baru. Hasilnya ialah ia berubah namanya menjadi Paulus dan selanjutnya menjadi seorang rasul yang sangat karismatik.

Makanan dan minuman rohani itu kemudian menjadi santapan banyak orang lain selanjutnya dan sampai menyebar ke seluruh dunia. Menjadi pengikut Kristus saat ini baik mengambil bagian dalam Gereja sebagai persekutuan bersama umat Allah maupun sebagai kesaksian hidup pribadi setiap orang, kita perlu terus-menerus mengakui bahwa tubuh dan darah Kristus itu yang memelihara dan mempertahankan kita. Bayangkan saja, ketika Anda sudah beberapa waktu lamanya tidak berjumpa dengan firman Tuhan dan merayakan perjamuan ekaristi, perasaan kehilangan dan kekosongan itu sangatlah kuat dan menyiksa. Itu adalah tanda bahwa iman kita sangat bergantung pada roti hidup Yesus Kristus.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Tuhan maha kuasa, kami bersyukur atas diri-Mu sebagai roti hidup untuk kelangsungan hidup rohani kami. Semoga Roh-Mu senantiasa menguduskan kami. Kemuliaan kepada Bapa…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *