Lain di hati lain di bibir

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan Rabu pekan biasa ke-4, 6 Februari 2019; peringatan Santo Paulus Miki dan teman-teman, martir. Ibrani 12,4-7.11-15; Markus 6,1-6. Suara: Minggus sdb (renungan)

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Lain Di Hati Lain Di Bibir. Seorang remaja sudah tak tahan lagi dengan cerewet dan marah-marah ibunya. Ia selalu di pihak yang salah. Bila ia tanggapi sedikit sekedar memberikan alasan atas tindakannya, ibunya sudah langsung menghentikannya: jangan melawan orang tua. Lalu anak itu menulis ke hp ibunya: Mama itu lain di hati lain di bibir. Hati Mama tak seindah bibir Mama yang selalu berkembang merah dan mengkilat.

Protes si remaja ini hanya suatu porsi kecil dari protes besar Yesus kepada orang-orang di tempat asalnya, yang menolak atau paling kurang mengapresiasi kebaikan yang dilakukan-Nya. Sebenarnya mata mereka melihat kemuliaan Tuhan yang terjadi, mulut mereka mengucapkan bahwa telah terjadi mujisat-mujisat, telinga mereka mendengar pujian atau rasa syukur dari orang-orang yang mendapatkan belas kasih Tuhan, dan tangan mereka menyentuh buah-buah kebaikan yang dikerjakan oleh Yesus. Tetapi kendala terbesar ialah hati mereka keras, iman mereka tumpul, dan jiwa mereka tertutup untuk mengakui bahwa semua yang diperbuat Yesus adalah dari Allah sendiri.

Kemunafikan adalah kata yang pas bagi orang-orang sebangsanya. Dalam hal ini mereka sederajat dengan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang berada di Yerusalem. Yesus langsung memberikan tanggapan-Nya, bahwa penolakan itu sama dengan menolak Allah sendiri. Dosa mereka sangatlah berat, yaitu dosa melawan Roh Kudus. Oleh karena itu dosa tersebut tidak dapat diampuni. Jika Anda menolak Tuhan secara langsung dengan sikap tidak percaya bahkan dengan kekerasan, jelas sekali bahwa Anda tidak memerlukan Tuhan. Pengampunan juga jelas Anda tidak perlukan!

Para martir Paulus Miki dan teman-teman yang menumbuhkan dan menguatkan iman di daerah Jepang, tentu saja orang-orang yang jauh dari kemunafikan. Mereka membuktikan bahwa iman yang mereka ungkapkan dari bibir dibuktikan juga dalam kehendak hatinya untuk memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus, bahkan mempertahankan itu hingga nyawanya dikorbankan. Mereka mengajarkan kita sebuah cara untuk melawan kemunafikan, yaitu menyatakan “Amin” atau “Ya” dalam pengakuan iman, dan tetap dengan peryataan yang sama dalam perbuatan. 

Pilihan hidup kita mengikuti Kristus, perlu kita isi dengan keyakinan bahwa penderitaan, kesulitan dan masalah adalah ujian bagi kematangan iman kita. Surat kepada orang-orang Ibrani mengatakan bahwa Tuhan sepertinya membiarkan kita dihajar oleh kesulitan dan penderitaan, tetapi justru melalui semua itu, kita dilimpahkan dengan kasih dan kerahiman-Nya.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Yesus Kristus, perkuatkanlah kami untuk mempu melawan semua kepalsuan yang kami hadapi. Kemuliaan… Dalam nama Bapa…

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *