Kutukan kenyamanan

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Kamis pekan PraPaskah ke-2, 21 Maret 2019. Yeremia 17,5-10; Lukas 16,19-31. Suara: Aleks sdb (renungan)

Renungan kita pada hari ini bertema: Kutukan Kenyamanan. Ada sekelompok besar rayap hidup dibalik dinding rumah. Rumah itu tampak indah, kokoh dan warna dindingnya minimalis. Kusen-kusen diberi warna cokelat cerah yang dipadukan dengan daun pintu dan jendela berwarna bening dicat minyak. Kepala kelompok rayap itu memimpin musyawarah dan menyerukan sebuah gerakan besar bangsa rayap untuk menembus dinding rumah. Sebagian anggotanya bertanya tentang alasan gerakan menembus dinding rumah. 

Si pemimpin menjawab bahwa jumlah anggota semakin banyak dan perlu tempat yang lebih luas. Makanan juga perlu ditambah. Dan yang paling penting ialah bahwa tuan rumah itu terlalu nyaman, terlalu sombong dan egoismenya tinggi. Ia harus ditegur, paling kurang dengan membuat rumahnya dimakan oleh rayap, dan ia akhirnya berpikir tentang nasib hidupnya sendiri dan keluarganya.

Waktu berlalu hari demi hari dan tanpa disadari oleh tuan rumah, di sekeliling dinding rumah mulai dipenuhi rayap. Kusen-kusen, daun pintu dan jendela, serta perabot lain seperti lemari dan rak kayu mulai terlihat termakan rayap. Tuan rumah akhirnya menyadari itu bahwa ia diserang rayap. Serangan itu sama dengan pencuri yang membobol rumah tanpa memberitahu dahulu. 

Ia tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa dibalik hidup yang nyaman dan serba lebih dari cukup ternyata menyembunyikan kutukan bahaya yang merusak dan membinasahkan. Seketika itu juga ia melihat bahwa rumahnya yang indah dan megah berubah menjadi rumah yang rapuh, tua, kotor dan akan segera roboh. Ia mengetahui bahwa penyesalan kemudian memang tidak berguna, tetapi juga ingin memperbaiki keadaan rumah tangganya selagi ia masih mampu.

Pada hari ini bacaan-bacaan suci memberikan catatan tegas dan peringatan supaya kita selalu waspada dengan setiap bentuk kutukan rasa dan hidup yang nyaman. Orang kaya yang hidupnya serba lebih dari cukup pada akhirnya dihantam oleh kutukan pada saat akhir hidupnya. Segala kenyamanan hidupnya sungguh menutup rasa peka, peduli, solider dan prihatin dengan keadaan di sekitarnya, termasuk orang miskin yang selalu ada di pintu rumahnya.

Alasan untuk segala bentuk kenyamanan hidup ialah karena orang hanya mengandalkan cita rasa dan keinginan manusiawi di dunia ini. Mereka hanya ingin enak dan untuk diri sendiri. Prinsipnya untuk berbagi dengan sesama, terutama yang menderita, itu hanya merugikan dan mengurangi diri sendiri. Menurut nabi Yeremia, gaya hidup ini jelas sangat terkutuk. Sebaliknya kalau kita memang mengandalkan Tuhan, hidup kita sebenarnya adalah berbagi dan melayani sesama, terutama yang sangat membutuhkan pertolongan.

Marilah kita berdoa. Dalam nama… Ya Allah, bebaskanlah kami dari segala bentuk sikap egois, sehinggal kami menjadi murah hati. Salam Maria… Dalam…

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *