Kita diperhitungkan Tuhan

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Senin pekan biasa ke-29, 21 Oktober 2019. Roma 4, 20-28; Lukas 12, 13-21. Suara: frater Varet sdb (bacaan) dan bruder Bernard “Mikoli” sdb (renungan)

Renungan kita pada hari ini bertema: Kita Diperhitungkan Tuhan. Seorang remaja laki-laki berdiskusi dengan ibunya. Ia pertanyakan mengapa dulu ia dibaptis bayi, padahal kalo menunggu saatnya ia besar, ia sendiri yang akan memilih untuk dibaptis. Ia ingin melakukan sendiri pengakuan imannya. Tetapi sang Ibu menjelaskan, iman puteranya itu diwakili oleh kedua orang tuanya. 

Cara seperti itu tepat sekali seperti yang diwartakan oleh Santo Paulus bahwa melalui iman Abraham, kita semua ikut menjadi beriman. Artinya, setiap orang yang dibaptis menyusul dan diwakili seperti remaja itu, ikut diperhitungkan dalam karya keselamatan Kristus. Diperhitungkan berarti kita masing-masing berada dalam daftarnya Tuhan. Diri kita diperhitungkan di daftar itu karena kita mengikuti dan berbagi dalam kehidupan Kristus. Prinsip ini dijalankan oleh Abraham, dan kita semua setelah beliau juga mendapatkan bagiannya.

Tuhan yang maha baik dan maha murah berkehendak supaya semua orang diperhitungkan, masuk dalam daftarnya. Namun menjadi terdaftar bukan tanpa aturan apa pun. Harus ada standar kelayakan dan kelulusan. Pintunya kecil dan setiap orang harus dapat melewatinya. Siapa yang kedapatan tidak berpakaian pesta perjamuan Tuhan, ia akan digagalkan menikmati Kerajaan Allah. Siapa yang tidak menyangkal diri dan memikul salibnya tidak layak bagi Dia. Ini adalah contoh-contoh standar yang kita temukan di dalam kitab suci.

Dengan kata lain, perhitungan yang dikenakan kepada kita adalah mengikuti standar Yesus Kristus. Injil pada hari ini menegaskan lagi syarat menurut standar itu supaya seseorang menjadi layak disertakan  dalam daftar rencana keselamatan. Standar utamanya ialah pertumbuhan rohani dan keselamatan jiwa kita. Sabda Allah dan semua perintah Allah merupakan sumber makanan kehidupan rohani kita. Kehidupan ini adalah bentuk nyata kerajaan Allah itu. 

Meskipun kita memang sedang berada di dunia dan tidak bisa terlepas dari kenyataan jasmani serta kehidupan sosial kemasyarakatan, namun kehidupan rohani kita yang mesti menjiwai semuanya. Sebab jika tak ada kekuatan rohani yang mengarahkan hidup kita, dan kalau hanya ada orientasi jasmani-material-sosial yang menjadi perhitungan di dunia ini, nasib manusia itu akan seperti orang kaya dengan hasil tanahnya berlimpah yang diumpamakan Injil tadi. 

Apa gunanya semua benda, materi, reputasi, gelar dan capaian ketenaran di dunia ini, jika semua ini tak masuk dalam perhitungan Tuhan atas diri kita! Justru perhitungan itu adalah jiwa kita, kehidupan rohani kita, yang mengikuti standar Yesus Kristus.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Yesus yang baik, besarkanlah hati kami untuk dapat mengikuti dengan sebenarnya apa yang menjadi arah hati-Mu, yaitu melaksanakan kehendak Bapa. Bapa kami… Dalam nama Bapa…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *