Kerahiman

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Sabtu pekan PraPaskah ke-2, 23 Maret 2019. Mika 7,14-15. 18-20; Lukas 15,1-3. 11-32. Suara: Yosef sdb (renungan)

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Kerahiman. Setelah memberikan homili pada Misa Kudus hari minggu itu tentang kerahiman Tuhan, Romo Paroki didatangi beberapa anak muda. Di pastoran itu mereka meminta Romo untuk menerangi lagi tentang kerahiman, karena bagi mereka homili kemarin itu masih belum jelas. Mereka merasa sulit untuk mengerti tentang kerahiman Tuhan.

Begini Romo menjelaskan tentang kerahiman. Kepada orang yang bersalah kepadamu, pengampunanmu jangan hanya sebatas tulis di messanger atau sms. Jangan juga hanya katakan sekali lalu melupakan orangnya serta masalahnya. Jangan sekedar berkata bahwa kamu memaafkan, lalu membatasi diri untuk tidak berkomunikasi seperti semula. Ini bukan kerahiman. 

Jika ingin menghayati kerahiman, maka kamu perlu bertemu yang bersangkutan, menyalami dalam kehangatan bahkan dengan memeluknya. Berbicara dari hati ke hati dengan maksud untuk menghapus segala luka dan kenangan buruk hubungan yang telah retak. Di sini terjadi saling menerima dalam segala keadaannya. Kerahiman membutuhkan sentuhan dan keintiman, seperti pelukan ayah atau ibu kepadamu untuk memastikan bahwa kasih mereka masuk ke yang paling dalam dirimu, ke tempat yang paling suci yaitu jiwa-mu sendiri.

Lanjut sang Romo, jika seorang sahabat menyampaikan masalah pribadinya yang lumayan serius, kamu tentu ikut merasa prihatin. Lalu kamu janjikan untuk mendoakannya. Setelah itu kamu mendoakan dia satu atau dua kali. Bahkan mungkin kamu lupa mendoakan lantaran kesibukanmu. Hal itu bukan kerahiman. Sikap yang rahim terlalu besar untuk sekedar janji dan kata-kata.

Jika ingin menghayati kerahiman, selain janji untuk mendoakan, kamu jadikan itu sebagai masalah dalam dirimu juga. Jadi sering-sering bertanya atau bahkan bertemu dengannya dan berikan perhatian semampu-mu. Buatlah apa saja yang membuat sahabat itu merasa bahwa ia tidak sendirian, dan kamu adalah orang yang menyertainya selalu. Kamu adalah malaikatnya. Kamu adalah jawaban.

Inti kerahiman ialah adanya tindakan untuk membaharui dan memulihkan sakit, kelemahan atau kerusakan dengan tindakan kasih. Maka yang pertama ialah membuang semua rintangan atau dosa yang menghalangi pulihnya relasi yang hendak dibangun. Menurut nubuat nabi Mika, tubir-tubir dosa harus dibuang jauh-jauh. Berikutnya, sentuhan kasih dan pengampunan dengan menyambut serta menjadikan pihak yang menderita itu sebagai milik kita sendiri. Tindakan memulihkan penderitaan dan membawa kembali seseorang sebagai bagian dari diri kita, keluarga dan komunitas kita merupakan kerahiman yang sesungguhnya. Tuhan selalu berbuat demikian kepada kita masing-masing.

Marilah kita berdoa. Dalam nama… Ya Allah maha rahim, mampukanlah kami dengan semangat kerahiman terhadap sesama kami. Kemuliaan… Dalam nama…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *