Kasih tak bertepi

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Senin Pekan Suci, 15 April 2019. Yesaya 42, 1-7; Yohanes 12, 1-11. Suara: Peter sdb (Injil dan renungan)

Renungan kita pada hari ini bertema: Kasih Tak Bertepi. Apakah yang dimaksud dengan kasih yang tak bertepi? Ketika Yesus bersantap bersama teman-teman dekat-Nya, Maria yang dikenal sebagai wanita pendosa menurut Injil Yohanes melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh cinta. Ia mengambil harta paling berharga yang ia miliki dan menggunakan itu hanya untuk Yesus Kristus. 

Perhatiannya tak pakai perhitungan. Cintanya tiada bertepi. Tindakannya itu didasari cinta dan terima kasihnya kepada Yesus yang telah melimpahkan kasih yang juga tiada bertepi kepadanya dan keluarganya. Tuhan berbelas kasih mengampuninya, mengembalikan dia dari kehinaan sebagai pendosa. 

Ia melakukan sebuah tindakan kasih yang mestinya tidak boleh dilakukan seorang wanita Yahudi di muka umum. Ia melepaskan rambut panjangnya terurai. Ia membasahi Yesus dengan air matanya. Menurut aturan adat seorang wanita pada hari perkawinannya harus mengikat dan menutup rambutnya. Sementara itu bagi yang telah menikah, melepaskan rambut terurai di muka umum merupakan tanda sangat tidak sopan. 

Tindakan Maria ini tentu saja menjengkelkan semua yang ada di sekelilingnya, kecuali Yesus. Tapi ia tidak peduli dengan reaksi orang-orang itu. Ia hanya ingin menyatakan kasihnya kepada Tuhan. Dalam kerendahannya ia menunduk untuk meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambut panjangnya. Tindakan Maria ini meninggalkan pesan kepada kita, yaitu bagaimana dan sudah berapa kali kita menunjukkan wujud terima kasih dan cinta terbesar kepada Tuhan?

Karena minyak wangi itu seluruh isi rumah penuh dengan keharuman (Yoh 12,3). Keharuman dan keindahan mengisi seluruh rumah baik secara fisik maupun secara rohani. Hanya kasih tiada bertepi yang dapat melakukan ini. Hal ini cukup untuk menggambarkan bahwa seorang manusia seperti Maria dapat berbuat kasih yang sama dengan kasih Tuhan Yesus Kristus. Tidak mustahil bagi siapa pun dari kita melakukan hal seperti yang dilakukan Maria.

Yesus Kristus senantiasa memberikan kita contoh untuk berbagi kasih yang tidak bertepi. Di dalam pekan suci ini kita mengenangkan perbuatan kasih-Nya. Pada hari ini kita diberi gambaran sosok Yesus hamba Allah yang rela untuk menderita bagaikan buluh yang patah terkulai atau sumbuh yang pudar nyalahnya, tetapi ia sendiri tidak akan patah terkulai dan menjadi pudar. Ia tetap akan menegakkan hukum di bumi ini. Cinta-Nya bertahan selama-lamanya di bumi ini. Yesus tak akan hilang atau berhenti dengan menderita dan wafat-Nya. Ia justeru melewati semua ini dan hidup terus di dalam kita para pengikut-Nya. 

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Tuhan Yesus Kristus, ajarilah dan kuatkanlah kami untuk selalu dapat bertahan bila kesulitan dan penderitaan menghadang kami, bahkan mengancam hidup kami. Bapa kami… Dalam nama…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *