JANTUNGNYA CINTA

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Kamis Pekan Biasa ke-9

3 Juni 2021

Peringatan Santo Karolus Lwanga dan kawan-kawan, martir.

Bacaan dibawakan oleh Suster Maria Enjela Margaretha Abanat dan renungan dibawakan oleh Suster Maria Eleonora Melan, dari Biara RVM di Keuskupan Agung Kupang.

Tobit 6: 10-11; 7: 1.6.8-13; 8: 1.5-9; Mazmur tg 128: 1-2.3.4-5; Markus 12: 28b-34.

Inilah Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Markus (12: 28b-34)

Pada suatu hari datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus,
dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”

Yesus menjawab, “Perintah yang utama ialah:
‘Dengarlah, hai orang Israel,
Tuhan Allah kita itu Tuhan yang esa!
Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati,
dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi,
dan dengan segenap kekuatanmu.
Dan perintah yang kedua, ialah:
Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.’
Tidak ada perintah lain yang lebih utama
daripada kedua perintah ini.”

Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus,
“Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan,
bahwa Dia itu esa, dan tak ada Allah lain kecuali Dia.
Memang mengasihi Dia dengan segenap hati,
dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan
serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri,
jauh lebih utama dari pada semua kurban bakar dan persembahan.”

Yesus melihat betapa bijaksananya jawaban orang itu.
Maka Ia berkata kepadanya,
“Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”
Dan tak seorang pun masih berani menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Demikianlah Injil Tuhan.

Renungan pada hari ini bertema: Jantungnya Cinta. Bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang cinta kasih dalam konsep dan praktiknya. Bacaan pertama berisi tentang cinta Tobiah dan Sarah, sedangkan bacaan Injil tentang suatu pelajaran cinta yang sampai pada konsep inti cinta sebenarnya.

Tetapi ada masalah dengan cinta di sini. Persoalannya ialah orang menjalankan cinta sebagai sebuah teori atau rumusan, jadi bentuknya ialah ide, gagasan dan norma-norma. Misalnya jangan bicara kasar, jangan tampak kotor pada orang lain, dan banyak jangan atau larangan lainnya. 

Itu yang dibuat oleh orang-orang Yahudi, khususnya kaum cendekia dan ahli taurat. Mereka memilik 600 lebih rumusan aturan dengan maksud supaya orang-orang menjadi lebih baik dan beriman. Tapi ternyata jantung cinta atau inti cintanya tidak mereka miliki. Terlalu larut dalam teori dan rumusan, mereka lupa untuk menghidupi cinta itu. Dan Yesus sendiri yang mengajarkan mereka: jantung cinta ialah mencintai Allah dan sesama, keduanya sama-sama sejatinya. 

Maka syarat fundamental ialah jangan berbuat ekstrem yaitu fanatik untuk yang satu, dan melupakan atau membenci yang lain. Meskipun keluarga Rahel itu Yahudi tulen dan sangat beriman, tetapi yang dilakukan oleh putrinya, Sarah, bisa jadi semata-mata urusan manusiawi. Artinya dalam urusan persekutuan perkawinan mereka tidak patuh atau taat kepada ajaran Tuhan. Maka bukan kebahagiaan yang didapatkan, tetapi justru malapetaka yang mematikan.

Tobiah mendapatkan panggilan istimewa untuk mengawini Sarah. Ini seperti mengembalikan jantungnya cinta yang sudah lama hilang, yaitu persembahan diri kepada Allah, sembah sujud ditujukan kepada-Nya, patuh-setia akan ajaran-ajaran Allah tanpa ada niat untuk melanggar. Ini semua adalah cara manusia mencintai Tuhan. Tobiah dari awal perkawinannya, membawa istrinya Sarah untuk teken kontrak cinta dengan Tuhan yang mahakuasa. Urusan lain-lainnya baru menyusul, dan selanjutnya harus tetap setia dan tunduk pada Tuhan.

Mungkin hidup kita saat ini sibuk dengan urusan cinta berupa kata-kata, ilusi, gambar, janji, teori, rumusan, aturan, mimpi, ambisi pribadi, uang, karir dan semua kaitan dengan kebutuhan duniawi. Bisa jadi jantung cintanya, yaitu perbuatan mencintai sesama dan Tuhan yang nyata, langsung, dan berguna jauh dari perhitungan kita. Batin kita terasa sedang mencari jantung cinta yang kabur atau hilang. Apakah jantung cinta sekarang bersamamu atau jauh darimu?

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa … Ya Tuhan Yesus Kristus, semoga kami tetap dalam bimbingan Roh-Mu untuk selalu mencintai Dikau dan sesama kami, sebab dengan demikian kami sanggup menunjukkan diri sebagai murid-murid-Mu yang sesungguhnya. Kemuliaan kepada Bapa… Dalam nama Bapa…

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *