Hukuman

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Rabu pekan PraPaskah ke-2, 20 Maret 2019. Yeremia 18,18-20; Matius 20,17-28. Suara: Ambros sdb (renungan)

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Hukuman. Dua bocah laki-laki kembar kelas 1 SD sering bertengkar. Mereka tidak hanya berkata-kata, tetapi juga saling meninju dan membanting satu sama lain, hingga satu dari mereka atau keduanya menangis. Pada saat seperti ini, sang ibu atau ayah mereka segera turun tangan untuk meleraikan mereka. Bapak dan ibu berkata: “Kalau tidak berhenti bertengkar dan berkelahi, kalian akan dihukum.”

Mendengar ancaman itu, salah seorang dari kembar itu bertanya: “Dihukum itu berarti apa?” Mamanya memanggil anak yang bertanya tadi mendekat. Didudukan anaknya di pangkuan, lalu telinga anaknya dicubit agak keras. Si anak berteriak keras: “Sakit Ma, sakit Ma, sakit Maaa”. Kata Mamanya: “Dihukum berarti seperti ini. Kamu dipukul atau dicubit sampai sakit. Nanti menangisnya  akan lebih lama. Mengerti?” Anak itu mengangguk dan kembali bermain lagi.

Hukuman yang diberikan sang ibu adalah contoh hukuman yang didapatkan oleh seseorang karena pelanggaran yang dilakukannya. Semua tata aturan di dunia ini entah secara informal seperti dalam keluarga dan hidup bertetangga, entah dalam wilayah formal seperti sekolah, perusahan, pemerintahan, memiliki dimensi hukuman. Manfaat hukuman ialah memberikan keadilan atas perbuatan melawan hukum dari orang-orang yang baginya hukum itu diberlakukan. Di dalam Gereja, berlaku juga sejumlah tata hukuman yang formal.

Berbeda dari hukuman karena pelanggaran aturan, jenis hukuman yang ditimpahkan kepada nabi Yeremiah dan Tuhan Yesus Kritus mengharuskan kita untuk memahami hukuman dari cara pandang iman Kristen. Penderitaan Yeremia dalam kisah di perjanjian lama dan Yesus Kristus dalam kisah di perjanjian baru, merupakan jenis hukuman bukan karena pelanggaran suatu aturan dan norma. Mereka tidak melakukan kesalahan apa pun, namun mereka dipandang oleh masyarakat atau sistem hukum yang berlaku sebagai orang yang layak mendapatkan hukuman. Mengapa bisa terjadi demikian?

Sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa, Setan sebagai penguasa kejahatan memiliki tugas untuk mengalahkan kebenaran dan kebaikan dari Tuhan. Manusia yang beriman dan berjalan dalam jalan kebenaran dilawan, bahkan setelah dikalahkan, manusia menjadi miliknya Setan. Nabi Yeremia dan Yesus Kristus ingin memenangkan manusia dari kuasa kejahatan. Tetapi usaha mereka tidak disukai oleh penguasa kejahatan. Akhirnya mereka harus menderita karena dihukum oleh kuasa kejahatan itu. Jadi hukuman jenis ini ialah sebuah cara pengorbanan diri karena melawan musuh dan kejahatan. Hukuman yang kita terima karena kebenaran dan Injil yang dihidupi dan dipertahankan merupakan sebuah jalan keselamatan untuk mendapatkan kemuliaan Tuhan.

Marilah kita berdoa. Dalam nama… Ya Tuhan, jadikanlah kami orang-orang patuh pada ajaran-Mu dan mempertahankannya. Bapa kami … Dalam nama …  

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *