Hidup baru di seberang Yordan

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Kamis pekan biasa ke-19, 15 Agustus 2019. Yosua 3, 7-10a. 11. 13 – 17; Matius 18, 21 – 19,1. Suara: frater David sdb (bacaan) dan bruder Aleks sdb (renungan)

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Hidup Baru Di Seberang Yordan. Dalam penanggalan liturgi, hari ini adalah hari raya Bunda Maria Diangkat ke Surga. Namun karena alasan pastoral, di sejumlah bagian Gereja Katolik, hari raya ini dirayakan pada hari Minggu. Gereja Katolik Indonesia merayakannya nanti pada hari Minggu, tiga hari ke depan. Bunda Maria bagi kita adalah figur yang membawa sejarah keselamatan masuk ke dalam periode baru, yang umumnya kita namakan Perjanjian Baru.

Menurut kedua bacaan hari ini, “di seberang sungai Yordan” adalah sebuah periode kehidupan baru yang telah disediakan oleh Tuhan bagi mereka yang berhasil melewati sungai yang airnya bisa menghanyutkan dan membahayakan. Pemandangan ini mengingatkan kita tentang terbebasnya bangsa Israel ketika laut merah terbelah dan mereka luput dari kejaran pasukan pembasmi Mesir. Yosua, pengganti Musa yang masih muda, berhasil memimpin bangsanya untuk melewati Yordan dan dapat mendapai kebebasan di seberang Yordan.

Pada waktu mengajarkan murid-murid-Nya tentang pengampunan, Tuhan Yesus ingin membawa kita untuk melepaskan diri dari kebiasaan tidak mengampuni dengan sungguh-sungguh atau tidak mau mengampuni. Secara umum, orang tidak bisa atau tidak mau mengampuni karena masih sakit hati, marah dan dendam. Supaya dapat mengampuni dengan sesungguhnya, seseorang harus melewati “Yordan”, yaitu beban kurang atau tidak bisa mengampuni, sehingga setelah sampai di seberang, ia menjadi orang baru yang selalu mengampuni. 

Yesus mengajarkan hal ini dengan penuh kewibawaan dan Ia membawa semua yang mengikuti-Nya untuk menapaki hidup baru di seberang Yordan. Seorang suami belakangan mengalami konflik serius dengan isterinya. Faktor paling utama ialah karena setelah ia pensiun lebih awal dari tempatnya bekerja, ekonomi keluarga mulai goyah. Sang isteri selalu marah bahkan menghina suami, karena tidak punya kemampuan lagi untuk membangun keluarga. Kemarahan itu berakibat pada sakit hati suami dan selanjutnya menyebabkan ia jatuh sakit yang parah.

Ketiga anaknya yang baru mulai bekerja, akhirnya menjadi solusi. Masing-masingnya berkomitmen untuk mengatasi keadaan ekonomi orang tuanya. Mereka bersama ibunya bekerja sama untuk merawat dan mengobati sang bapak. Pada saat-saat kerja sama dan rasa tanggung jawab itu diungkapkan untuk mengatasi kesulitan di dalam keluarga, mereka semua merasakan betapa beban hidup terlepas dan hilang. Yang ada adalah suatu kehidupan baru. Mereka sudah berada di seberang Yordan. Semoga kita semua berusaha untuk melewati Yordan dan menikmati hidup yang baru di seberang Yordan hidup harian kita.

Marilah kita berdoa. Dalam nama … Ya Bapa maha murah, peganglah kami bila kami terjatuh karena beban hidup yang mendera. Bapa kami… Dalam nama…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *