Hati nurani yang lumpuh

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan Jumat pekan biasa ke-4, 8 Februari 2019. Ibrani 13,1-8; Markus 6,14-29. Suara: Peter sdb (Injil dan renungan)

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Hati Nurani Yang Lumpuh. Bagian dari tubuh manusia yang menjadi pilihan Tuhan untuk berdiam ialah hati nurani. Tentu yang dimaksud bukan organ hati yang berwujud daging seperti organ-organ lain pada tubuh itu, tetapi dimensi rohani hati manusia. Menurut kitab suci dan refleksi teologi Kristen, hati itu selain rumah Tuhan yang suci, ia juga menjadi penyambung diri kita dengan Tuhan, misalnya pada saat kita berdoa, berpuasa, dan melayani. Hati juga menjadi representasi diri kita ketika kita berdiri di hadirat Tuhan dalam pengadilan terakhir setelah kematian.

Betapa sering kita mengalami gangguan karena aneka masalah yang menimpah hati kita. Anda merasa sakit hati karena difitnah dan dipermalukan teman. Penderitaan itu menyebabkan dirimu tidak bahagia dan sakit. Anda sedang menantikan sesuatu penting sekali yang dijanjikan, tetapi belum ada tanda-tanda akan datang, sehingga dirimu gelisah. Hatimu tidak tenang dan mulai dihantui pikiran negatif. Anda menuduh seorang teman atau saudara tanpa didasari oleh data atau fakta yang benar. Dirimu menyesal dan hati menjadi rasa bersalah. Anda terbakar amarah kepada seseorang yang terlanjur merendahkan harga dirimu, maka hatimu dipenuhi kebencian untuk membalasnya.

Masih banyak lagi gangguan dan masalah pada hati nurani kita. Intinya, semua itu sangat jelas membuat hati nurani kita lumpuh. Seluruh diri kita menjadi sakit dan terganggu. Salah satu contoh yang menjadi terganggu hidupnya dengan kondisi hati nuraninya yang lumpuh ialah raja Heroders. Dari Injil kita menjadi tahu betapa raja ini menderita karena ia sepertinya berpisah dari hati nuraninya. Kata hatinya yang tulus memberikan tempat yang istimewa kepada Yohanes Pembaptis. Ia menghormati dan melindungi Yohanes sebagai nabi yang menjadi hati nurani umat Tuhan dan masyarakat.

Tetapi kehendak hati raja itu dikalahkan oleh kehendak jahat yang menghantui dirinya. Keinginan jahat dari luar dirinya bisa saja lebih menarik bahkan lebih kuat. Yang penting adalah ketahanan dan kekuatan iman di dalam diri, sehingga menjadi benteng untuk melindungi diri. Sayang sekali, meskipun ada ketulusan hati, diri manusia seperti yang ditunjukkan oleh Herodes masih punya ego yang berwujud pada kecenderungan pada kedagingan, kesombongan, posisi atau jabatan, dan hormat dari orang lain. Benteng hari nurani yang jujur, tulus dan saleh bisa jebol dan hancur, karena baik pengaruh jahat dari luar maupun kerapuhan manusiawi di dalam diri, bekerja sama untuk menaklukkan diri kita.

Pengalaman Herodes itu adalah umum bagi kita semua. Sering hati nurani kita lumpuh karena tidak mampu bertahan atas pengaruh jahat dari luar dan kelemahan manusiawi kita. Oleh karena itu kita dinasihatkan oleh Surat kepada orang Ibrani untuk mengandalkan kuasa Tuhan Yesus Kristus, pembela kita.

Marilah kita berdoa. Dalam nama… Ya Tuhan, tinggallah selalu di dalam hati kami, agar hidup kami senantiasa layak bagi-Mu. Salam Maria… Dalam nama…

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *