Duri dalam daging

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Selasa Pekan Suci, 16 April 2019. Yesaya 49, 1-6; Yohanes 13, 21-33. 36-38. Suara: Peter sdb (Injil dan renungan)

Renungan kita pada hari ini bertema: Duri Dalam Daging. Pepatah “duri dalam daging” sudah umum dalam pembicaraan kita. Daging harusnya membangkitkan selera makan, ternyata tidak enak dan memuaskan selera karena ada duri di dalamnya. Seharusnya kita memiliki sebuah keuntungan atau kehidupan dalam kegembiraan dan kedamaian, namun ternyata ada benci atau fitnah yang sedang menggelora di dalam hidup bersama di antara saudara dan teman. 

Siapakah duri itu sebenarnya? Ia bisa saja dirimu, teman, kenalan atau anggota keluarga. Faktor kejahatan dan kelemahan-kelemahan manusia dapat menjadi pendukung untuk tumbuhnya pribadi-pribadi yang dipandang “duri” atau penyakit di dalam hidup bersama. Setiap pribadi memiliki kelemahan kodrati, misalnya sikap malas, marah, rakus dan sombong. Ia terlahir dengan membawa benih-bening kelemahan tersebut. Ketika kelemahan-kelemahan itu tidak diolah denga baik, si Jahat atau Setan akan dengan leluasa memanfaatkannya.

Di dalam sebuah komunitas  persekutuan di paroki, para anggotanya berusaha dalam komitmen pelayanan dan berbuah pada kehidupan yang nyaman, tenang dan damai. Tetapi jika ada seseorang atau dua yang mulai menjadi biang gosip, penyebar fitnah, atau berkelakuan tidak wajar, ia pasti menjadi beban dan perusak komunitasnya. Hal ini sama dengan semua situasi yang lain. Jika pihak yang menjadi sumber kekacauan itu tidak teridentifikasi untuk sekurang-kurangnya membuka kepada publik kejahatan atau pola kerjanya, ia akan tetap sebagai “duri dalam daging” yang mengganggu dan merusak sesama yang lain.

Kemarin, pribadi Yudas Iskariot dibuka topeng kejahatannya hanya sebagian kecil, tetapi hari ini Yesus Kristus membukanya supaya menjadi transparan, bahwa ia adalah “duri” bagi komunitas yang dipimpin langsung oleh Yesus. Mata, pikiran, dan hati Yudas sendiri dan rekan-rekan para rasul terbuka, dan mereka menjadi tahu siapa pengacau dan perusak sebenarnya di dalam persekutuan itu, ketika Yesus berkata: “Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah segera.”

Pelajaran yang kita petik dari kejadian di dalam Injil tersebut ialah keberanian dan kepastian dari pihak kita untuk mengidentifikasi dan mengambil tindakan atas sumber masalah yang selalu mengacaukan dan mengganggu hidup kita. Di dalam diri setiap orang, bisa saja sumber masalah itu adalah satu atau dua kelemahan utama. Misalnya kesombongan atau kemalasan, jika dipastikan bahwa ini adalah “duri” atau “Yudas Iskariot”, kita harus mengatasinya segera.

Demikiannya juga di dalam keluarga, komunitas, persekutuan, organisasi dan masyarakat, diharuskan ada keberanian dan kepastian dalam membuka ketersembunyian sumber kejahatan dan pihak-pihak yang menjalankannya. Jika tahap identifikasi dicapai, maka ada jalan terbuka untuk mendapatkan solusinya.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Tuhan maha kuasa, semoga kami tetap teguh dalam iman kami kepada-Mu. Salam Maria… Dalam nama Bapa…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *