DUNIA DAUN KELOR

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Rabu pekan biasa ke-22; 12 September 2018. 1 Korintus 7,25-31; Lukas 6,20-26. Suara: Ambros sdb

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Dunia Daun Kelor. Pernyataan tema ini adalah sebuah kiasan. Dunia yang begitu besar, yang ditarik dari ke-empat kutubnya hanya dianggap sebesar daun kelor. Orang yang terbiasa dengan daun kelor, tahu bahwa daun kelor itu sebesar ujung permukaan jari-jari tangan manusia. Memandang dunia sebesar daun kelor, jelas sebagai sebuah gaya bahasa untuk mengungkapkan tingkah-laku manusia dalam berinteraksi.

Karena faktor bergeraknya orang-orang yang begitu beragam dan cepat, lalu ditambah dengan frekwensi pertemuan satu sama lain yang banyak dalam satu konteks tertentu, dunia ini terasa beigtu kecil. Misalnya pada jam 10 pagi dua atau beberapa orang bertemu di suatu tempat di sudut kota, lalu pada jam 12:00 mereka bertemu lagi di salah satu sudut kota lainnya dalam sebuah konteks urusan yang lain. Bagi mereka dunia itu terlalu kecil, bagaikan daun kelor.

Dalam sudut pandang yang lain, dunia seperti daun kelor itu merupakan suatu ungkapan untuk menunjuk pada sikap manusia yang minimalis kepada kenyataan dunia yang amat besar dan beragam pengaruhnya. Ada sebuah disiplin religius yang mengajarkan dan menganimasi manusia untuk hidup sederhana, hidup dengan suatu penyangkalan atas kemegahan dan kekayaan dunia ini, bahkan suatu hidup yang tidak melekat dengan dunia ini.

Di dalam jalan untuk mengikuti Yesus Kristus, ajaran spiritualitas ini sungguh ingin menjadikan dunia itu kecil seperti daun kelor. Ajarannya membimbing orang-orang beriman supaya mencukupkan saja apa yang dikaruniakan oleh Tuhan, yang beriringan dengan batas kemampuan sebagai manusia. Ajaran seperti ini ditekankan kembali oleh Santo Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, ketika ia berkata: “Orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia ini seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.”

Jika kita mencukupkan diri kita dengan siapa yang  ada di sekitar kita secara nyata, dan apa yang dapat memberikan jaminan bagi kelangsungan hidup harian kita, menurut pandangan dunia, ini jelas sebagai sebuah kesederhanaan dan kemiskinan. Tetapi Yesus menguatkan iman kita dengan mengatakan bahwa hidup seperti ini adalah sebuah kebahagiaan, dan kerajaan Allah adalah harta milik yang kita punyai. Sepertinya cara hidup ini menampakkan kelaparan, kesedihan, menangis, bahkan dianggap tidak laku atau tidak berguna, tetapi Tuhan Yesus menegaskan bahwa cara hidup seperti ini sungguh menghadirkan kebahagiaan. Jadi dunia daun kelor adalah jalan untuk kebahagiaan kita.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Tuhan yang maha murah, jadikanlah kami anak-anak-Mu yang rendah hati dan penuh kemurahan, supaya kami menjadi lebih terbuka dalam berbagi kepada orang lain. Bapa kami… Dalam…

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *