Damai Paskah

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Kamis Oktaf Paskah, 25 April 2019. Kisah Para Rasul 3, 11-26; Lukas 24, 35-48. Suara: Aleks sdb (renungan)

Renungan kita pada hari ini bertema: Damai Paskah. Serangkaian penampakan Tuhan yang bangkit boleh kita katakan sebagai hadiah Paskah. Perjumpaan demi perjumpaan di berbagai kesempatan sungguh meninggalkan cerita dan pesannya masing-masing. Kalau kita boleh mengatakan di antara semua pesan itu, satu yang paling sentral dan kuat ialah pesan damai. 

Saat kesebelas rasul berkumpul untuk berbagi cerita masing-masing tentang perjumpaan mereka dengan Kristus yang bangkit, lalu menyusul kedua murid yang baru kembali dari Emaus, satu komunitas pengikut Kristus terbentuk. Komunitas itu berisi suasana penuh campur antara cerita, percaya, bingung, bertanya, dan tentu saja kagum. Di dalam konteks persekutuan itu, Yesus sekali lagi tampak di tengah-tengah mereka dengan menyampaikan hadiah: Damai sejahterah bagi kamu!

Pesan damai itu menjadi poin utama dalam kotbah Petrus di tengah orang banyak, setelah mujisat penyembuhan seorang lumpuh yang ia lakukan. Mujisat itu berbuah pada suasana bercampur antara kagum, heran, curiga, kurang percaya, dan rasa percaya. Maka Petrus menyeruhkan kebenaran dari Tuhan yang bangkit sebagai jalan untuk mendamaikan suasana yang bercampur itu. Hasilnya ialah banyak orang meyakini dan percaya kepada Kristus.

Pesan damai dari Yesus Kristus yang bangkit kepada para rasul yang tengah bingung, takut, curiga, dan kurang percaya bertujuan untuk membuat mereka menjadi percaya. Damai mampu menghilangkan semua perasaan dan pikiran negatif. Damai menghadirkan suasana batin yang tenang, nyaman, dan positif supaya pada akhirnya orang dapat memutuskan sikap yang benar dalam bertindak. 

Namun terkadang pesan damai itu cenderung dianggap serba teori atau sekedar sebuah keyakinan. Akibatnya kehidupan yang damai tidak dialami dengan nyata. Alasannya ialah karena tidak ada keteladanan dan usaha untuk menciptakannya. Tidak cukup orang hanya berbicara, mengajarkan, meyakinkan, dan menggambarkan cara-caranya. Orang harus dapat menghidupinya, atau paling kurang memberikan contoh konkret tentang menciptakan hidup yang damai.

Satu contoh yang dibuat oleh Yesus yang bangkit ialah berterus terang tentang diri-Nya, terlibat, dan menyatu dengan para rasul dan murid-Nya. Ini sungguh menghilangkan rasa takut dan ragu yang sudah cukup menghantui mereka. Karena ketika rasa ragu, takut, curiga, kurang percaya masih ada, damai tidak hadir di sana.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Ya Bapa maha kuasa, semoga Roh-Mu memenuhi kami dengan damai dari-Mu yang membuat kami selalu bersuka cita dalam saling berbagi karunia dalam hidup kami. Bapa kami… Dalam nama Bapa…

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *