Bibir turun ke hati, hati naik ke bibir

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Selasa pekan biasa ke-5, 12 Februari 2019. Kejadian 1,20-2,4a; Markus 7,1-13. Suara: Peter sdb (Injil dan renungan)

Tema renungan kita pada hari ini ialah: Birin Turun Ke Hati, Hati Naik Ke Bibir. Jika kalimat dari tema ini hanya dipahami secara badaniah, gerak antara dua posisi organ tubuh itu sangatlah dekat. Jaraknya hanya 20-an centimeter. Di sini kita tidak merenungkan atau menjelaskan sebuah struktur biologis dan fisik. Tetapi kita ingin merenungkan tentang bagaimana fungsi kedua aspek tubuh manusia itu dari dimensi rohani. Maka kaitan antara keduanya dapat kita temui dalam pernyataan Yesus yang disampaikan dalam Injil pada hari ini: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada Aku.  

Dimensi rohani tersebut ingin mengungkapkan hal-hal penting yang sebenarnya menggambarkan siapa diri kita sesungguhnya. Kalau kita paham tentang kejujuran atau keterus-terangan, ucapan atau pendapat dari bibir kita sejalan dengan kata hati kita. Apa yang dikatakan disetujui, diamini dan diterima oleh hati. Di situ lahir rasa damai, tenteram dan gembira. Sebaliknya, jika yang diungkapkah oleh bibir, tetapi tidak disetujui oleh hati, atau yang diinginkan oleh hati tetapi salah dinyatakan oleh bibir, hasilnya selalu jelek. Orang tersebut tidak damai, dan ia tersiksa oleh perasaan tidak jujur dan tidak benar.

Kalau kita paham tentang sinergitas dan kekompakan, sebuah kegiatan yang intelek, rasional dan komunikatif akan memperlihatkan bagaimana yang dinyatakan oleh mulut adalah sama dengan yang diinginkan oleh hati, atau yang dikehendaki oleh hati terungkap secara nyata oleh mulut. Ada satu pikiran atau maksud dari Anda. Bagaimana hal itu mesti dapat di sampaikan, sangat perlu dikonsepkan di dalam pikiran yang tentu diamini oleh hati, kemudian hasil olahan itu akhirnya disampaikan secara konseptual melalui mulut. Kesalahan atau kecacatan dapat terjadi manakala, yang disampaikan oleh mulut sangat berbeda dari yang dikonsepkan oleh pikiran dan hati.

Jadi kedua fungsi intelek dan rohani mulut dan hati kita melahirkan apa yang sangat penting bagi kita ialah kejujuran dan kekompakan. Kejujuran merupakan inti dari kebenaran, sedangkan kekompakan merupakan inti dari persekutuan. Yesus sangat bertentangan dengan orang-orang Farisi dan para ahli taurat karena mereka selalu ingin menjungkirbalikkan kejujuran menjadi dusta dan persekutuan menjadi perpecahan. Apa yang kita dengarkan dalam Injil hari ini sangat jelas menunjukkan bahwa mereka ingin menang dalam dusta dan perpecahan. Yesus tidak pernah menyerah dalam melawan taktik busuk itu.

Menurut kitab Kejadian, kita diciptakan sebagai pria dan wanita menyerupai pencipta sendiri, yaitu gambar dan rupa Allah. Yesus ingin memperbaiki citra baik ini yang sudah dirusak oleh dosa dan kejahatan, yaitu mengembalikkan kita kepada hidup dalam kejujuran dan persektuan. Itu adalah prinsip.

Marilah kita berdoa. Dalam nama… Ya Allah, murnikanlah kehendak hati dan tindakan kami sehingga kami tetap layak bagi-Mu. Kemuliaan… Dalam nama…

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *