Berita Gereja Dunia edisi Jumat 3 Agustus

Pemimpin Gereja Katolik di Palestina, Patriak Latin Yerusalem, mengungkapkan keprihatinan yang besar atas disahkan konstitusi baru untuk negara Israel di Palestina. Pada tanggal 19 Juli, Parlemen negara itu resmi menetapkan hukum tersebut berlaku. Hukum itu pada intinya berbunyi: Israel adalah negara berdaulat untuk orang-orang Yahudi. Patriak Yerusalem paham kalau penetapan itu dimotivasi kehendak politik internal negara itu, tetapi efek kemanusiaannya sangatlah besar. Penduduk lain yang bukan Yahudi dan kaum minoritas tidak diperhitungkan. Dari kelompok-kelompok ini, penduduk Palestina yang berjumlah 20 persen dari seluruh penduduk merupakan bagian yang terbesar. Pemimpin Gereja Katolik itu meminta semua umat Kristen untuk menyuarakan perlawanannya atas hukum yang sangat diskrimintatif ini karena sangat bertentangan dengan piagam PBB tentang hak-hak asasi manusia dan hukum Tuhan yang maha rahim.

Baru saja beberapa hari ini seorang Kardinal Amerika Serikat mengundurkan diri karena tuduhan skandal seksual terhadap anak-anak, Gereja Katolik di Australia dan seluruh dunia kembali terpukul oleh pengunduran diri seorang uskup Agung karena tuduhan yang sama. Uskup di Keuskupan Agung Adelaide, Australia Mgr. Philip Wilson menjadi terpidana penjara selama 12 bulan oleh pengadilan negara karena ia mentutup-nutupi pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh seorang imamnya, Pastor James Flecther, pada tahun 1970-an. Putusan penjara bagi sang Uskup dijatuhkan pada tanggal 2 Juli 2018. Pada hari Senin, 30 Juli 2018, Paus Fransiskus menerima surat pengunduran Uskup Philip Wilson dari Keuskupan Agung Adelaide Australia.

Keadaan aktual negara Siria hingga saat ini masih menjadi mimpi buruk para warganya. Tidak terkecuali keluarga-keluarga Kristen yang sudah turun-temurun mewariskan identitas budaya mereka sebagai orang-orang Siria. Pada hari Selasa 31 Juli, seorang Katolik dari Gereja Ritus Malkit, Michel Baladi (43 tahun) bersama isteri dan tiga anaknya, menuturkan kisah hidup keluarganya yang dipublikasi oleh media-media di seputar Vatikan. Keluarga ini tinggal di Aleppo, Siria yang menghadirkan pemandangan setiap hari bergantian bunyi mortar dan misil. Mereka siap saja untuk berpindah-pindah tempat, entah rumah entah wilayah. Bawaan mereka adalah pakaian seadanya di dalam tas. Untungnya, Gereja Katolik mengurusi bantuan-bantuan kebutuhan dasar anggotanya dengan sungguh-sungguh. Mereka harus tetap bersatu dengan Gereja Katolik dan setia dalam imannya. Ini adalah harapan paling besar yang dimiliki keluarga Michel. Pada tahun 2017 ada biaya sekitar 6,6 juta Dollar Amerika Serikat yang diurus oleh Gereja Katolik setempat untuk kepentingan umat yang miskin dan terlantar. Pertengahan 2018 ini, ada 3 juta Dollar Amerika Serikat disiapkan untuk fasilitas pastoral dan kemanusiaan yang dimanfaatkan bagi kebaikan orang Kristen Siria.

Please Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *