Asrama Garelli: merawat mimpi Don Bosco di bumi Patria Blitar

SDB-INA, Biltar-Jawa Timur (20/08/2019) – Nama asrama “Garelli” diambil dari nama seorang anak bersama Bartolomeus Garelli, yang bertemu Pastor Yohanes Bosco di sakristi sebuah Gereja di Turin, Italia Utara. Pertemuan itu adalah awal pendirian Oratorium dan kerasulan orang-orang muda oleh Don Bosco dan para Salesian.

Kali ini para pembaca mendapatkan kabar baik dan baru datang dari para Salesian yang bekerja di Blitar. Asrama bagi para siswa ini merupakan satu karya SDB kekinian yang melengkapi perutusan sekolah SMK Santo Yoseph yang sudah berlangsung sekitar 10 tahun ini. Pastor Venansius Sidabutar SDB membagikan kita beritanya.

Pada 13 Juli 2019, Komunitas SDB Blitar merayakan 10 tahun Salesian hadir dan berkarya di Kota Patria, Blitar. Perayaan Ekaristi sebagai ucapan syukur dipimpin oleh Rektor Komunitas SDB Blitar, Rm Sunar Joko Pranoto SDB di Kapel Suster-suster SSpS RSK Budi Rahayu. Perayaan syukur mengambil tempat di kapel para suster bukan tanpa alasan. Salesian perintis karya Salesian di Blitar: Rm Lino SDB dan Br Ephrem SDB, ketika datang ke kota kelahiran Presiden Pertama RI ini, disambut oleh para suster SSpS, dan sempat tinggal untuk beberapa waktu di salah satu gedung milik suster di bagian belakang RSK Budi Rahayu.

Selain dihadiri para suster-suster, Misa ini juga dihadiri oleh para asrawaman Asrama Garelli berjumlah 6 orang. Tiga asramawan berasal dari Atambua, NTT. Seorang asramawan berasal dari Purwosari, Jawa Tengah. Seorang asramawan berasal dari Tulungagung, Jawa Timur dan seorang lagi dari Bintaro, Jakarta Selatan. Asrama Garelli dimulai pada tahun lalu dengan tiga orang asramawan. Keberadaan Asrama ini sebenarnya sudah direncanakan sejak awal kehadiran Salesian di kota yang terdiri dari tiga kecamatan ini. Namun karena masih terkendala perizinan pembangunan gedung, rencana ini tertunda. Dengan berbagai pertimbangan Rm Vincentius Prastowo SDB, Rm Joko Pranoto, SDB dan Rm Venantius, SDB akhirnya memutuskan merenovasi gedung lama komunitas SDB Blitar untuk dijadikan asrama. Selagi renovasi masih berlangsung para asramawan untuk sementara tinggal di kamar gedung utama komunitas.

Dengan adanya asrama ini diharapkan asistensi kaum muda ala Salesian bisa semakin optimal. Lewat pendampingan di asrama, para asramawan ini “diformat” untuk menjadi pendamping bagi sesama mereka. Hal ini menjadi penting mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan jumlah siswa 730 orang, para Salesian yang berkarya di sekolah tidak bisa menjangkau satu persatu siswa. Para asramawan ini diharapkan bisa menjadi ragi kebaikan yang menginspirasi teman-teman mereka yang lain lewat interaksi sehari-hari di sekolah. Sebagaimana ragi walaupun sedikit tapi bisa mengubah, para asramawan walau pun jumlah mereka masih sedikit diharapkan bisa memberi arti. Jika para asramawan ini menjadi rasul bagi teman-temannya, ini merupakan tanda bahwa mimpi Don Bosco terawat dan terbukti nyata di bumi Patria ini.

Sistem pendidikan yang dipopulerkan oleh Santo Yohanes Bosco ialah sisterm preventif, yang menjadi metode pendidikan Katolik dan pengembangan diri kaum muda sudah terbukti handal sejak abad ke-19. Sistem ini sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk di bumi Indonesia sejak sekitar tahun 1927.

Kata kunci sistem ini ialah pendampingan dan asistensi orang-orang muda. Maka asrama adalah sarana yang terintegrasi dengan sekolah, yang tujuan utamanya ialah pembinaan pribadi setiap orang muda dalam seluruh aspeknya baik sebagai pribadi manusia maupun sebagai anak Tuhan.

Jika keluarga-keluarga ingin supaya anak-anaknya tinggal di asrama sambil sekolah, salah satu pilihannya ialah asrama-asrama di bawah bimbingan atau pendampingan para Salesian.

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *