Asia Bibi di Pakistan bebas dari hukuman mati

Simaklah berita terbaru dari La Porta: Berita Gereja Dunia edisi 20 November 2018

Sekitar 8 tahun yang lalu, 2010, seorang wanita Katolik di Pakistan yang bernama Asia Bibi, terlibat bersoal jawab dengan teman wanitanya seorang Muslim. Asia sempat minum air dari mok yang sama, yang dipakai oleh temannya itu. Karena kejadian itu, Asia kemudian dituduh menghina nabi umat Islam, dan selanjutnya dianggap sebagai tindakan penghojatan atau blasphemy. Mayoritas masyarakat bergerak untuk menghukumnya, dan sungguh terjadi bahwa pengadilan negeri akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Selama sekitar 8 tahun Asia menanti eksekusi mati yang sudah diputuskan. Kantor berita internasional seperti CNN dan The Guardian, memberitakan pada 3 dan 10 November 2018, bahwa Mahkamah Agung negara Pakistan membatalkan hukuman mati tersebut pada awal bulan November tahun ini. Publik internasional menyambut pembebasan Asia Bibi dengan penuh syukur. Doa-doa mereka terkabulkan. Media Zenit.org dan Vatican News pada tanggal 13 November mengabarkan, ada anggapan bahwa Paus Fransiskus dan Vatikan mempengaruhi pemerintah Pakistan untuk pembebasan Asia. Rumor tersebut segera dibantah oleh Gereja Katolik di Pakistan, yang menegaskan bahwa pembebasan Asia Bibi dari hukuman mati karena tuduhan penghojatan, adalah murni sebagai keputusan Mahkamah Agung yang memihak kepada kebenaran.

Keuskupan Agung Singapura mengatur kembali proses persiapan perkawinan dengan menyediakan waktunya yang lebih panjang daripada sebelumnya. Media online Catholic News Agency pada hari Senin 12 November menulis bahwa Keuskupan Agung yang memiliki 32 paroki tersebut memberlakukan waktu persiapan perkawinan bagi pasangan yang akan menikah, selama satu tahun penuh. Tujuannya supaya para pasangan menjalani persiapannya secara matang dan dibekali dengan kurikulum yang memadai pula. Uskup Agung Singapura, Mrg. William Goh Seng Chye membuat keputusan itu untuk resmi berlalu sejak bulan Oktober tahun ini, setelah melakukan diskusi dan pembahasan bersama para imamnya. Selain sesi-sesi kursus perkawinan yang dilakukan secara teratur selama satu tahun, setiap pasangan calon juga diwajibkan menyempatkan pertemuan-pertemuannya dengan imam yang akan memberkati perkawinannya.

Media Vatican Zenit.org dan Vatican News melaporkan pada hari Sabtu 17 November 2018 bahwa katedral dioses Alindao di negara Republik Afrika Tengah diserang oleh kaum gerilyawan dan menewaskan 42 orang Katolik. Vikaris Jenderal, Mgr Blaise Mada adalah satu dari ke-42 orang yang meninggal tersebut. Selain itu adalah juga seorang Pastor Paroki yang juga menjadi korban. Serangan tersebut berlangsung pada hari Kamis 15 November. Penyebab terjadinya pembunuhan massal tersebut ialah karena sebuah pembalasan dendam atas terbunuhnya seorang warga negara beragama Muslim yang dilakukan oleh para penentang kaum milisi yang sedang bergerilya. Uskup di Keuskupan Alindao, Mgr Cyr-Nestor Yapaupa berupaya untuk menempuh jalan perdamaian atas pihak-pihak yang bermusuhan, sehingga tindakan-tindakan saling membunuh segera dicegah dan dihilangkan.

Please Share:

Yuk, berikan tanggapan atau pertanyaan!

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Wajib diisi untuk kolom yang bertanda *