Anak Domba Disembeli Untuk Kita Semua

Ikutilah renungan hari Kamis pekan biasa ke-33, 22 November

Bacaan dan renungan Sabda Tuhan hari Kamis pekan biasa ke-33; 22 November 2018; peringatan Santa Sesilia, perawan dan martir. Wahyu 5,1-10; Lukas 19,41-44. Suara: Aleks SDB

Tema renungan kita pada hari Kamis ini ialah: Anak Domba Disembeli Untuk Kita Semua. Pada hari ini seluruh Gereja peringati Santa Sesilia, seorang martir pada abad ke-3 di Roma. Saat ini makamnya ditemukan di gereja Santa Sesilia di Kota Roma. Ia mulanya ingin dedikasikan diri kepada Tuhan sebagai perawan, tetapi akhirnya dijodohkan orang tua dengan seorang laki-laki kafir, yang di kemudian hari dibaptis di dalam Gereja Katolik. 

Suami-isteri ini sama-sama dibunuh karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Diceritakan bahwa pada saat pernikahannya, yang dimainkan ialah musik duniawi, tetapi Sesilia sendiri menyanyikan lagu kasih kepada Yesus, pasangan sejatinya. Atas dasar ini, lalu sampai saat ini ia dipandang sebagai pelindung musik, penyanyi, pemusik dan koor.

Semua jenis pengalaman kemartiran dalam situasinya yang berbeda-beda sebenarnya mengikuti teladan martir utama Yesus Kristus. Kitab suci dan Ia sendiri menggambarkan diri-Nya yang rela berkorban sebagai Anak Domba yang disembeli untuk menjadi santapan bagi semua orang yang diselamatkan melalui pengorbanan-Nya itu. Kitab Wahyu dalam bacaan pertama hari ini menggambarkan bahwa Anak Domba tersebut ditentukan oleh Penguasa maha tinggi untuk dikorbankan, supaya memenangkan setiap suku, bahasa, kaum dan bangsa bagi Tuhan Allah yang maha tinggi. Ia adalah Sang Penebus Yesus Kristus.

Jalan kemartiran seperti Yesus Kristus, atau dapat disebut Jalan Salib, adalah konsekwensi logis pilihan setiap pengikut Kristus. Artinya bahwa untuk sampai kepada tujuan akhir yaitu menjadi kudus-sempurna seperti Tuhan sendiri, setiap pengikut-Nya harus menjadi martir, atau anak domba yang disembeli. Gereja selalu mewartakan dan mendorong ini sebagai sebuah warta suka cita. Kita diyakinkan untuk menerima, mengimani, dan menyanggupinya dengan suka cita.

Oleh karena itu jalan salib atau semangat anak domba yang disembeli meninspirasikan kita untuk menyanggupi pengorbanan dan penderitaan dengan gembira. Alasan pengorbanan dan penderitaan ialah untuk keselamatan manusia dan kemuliaan Tuhan. Yesus merasa iba dan menangisi Kota Yerusalem karena penderitaan dan kehancuran yang bakal ia derita, bukan atas semangat kemartiran. Itu semata-mata karena kedosaannya. Penderitaan dan pengorbanan bukan sebagai jalan salib atau kemartiran merupakan bagian dari konsekwensi hukuman atas dosa yang dilakukan. Tuhan akan iba dan sedih kepada kita jika pengorbanan kita hanya sia-sia karena dosa dan kejahatan, dan bukan karena untuk keselamatan dan kemuliaan Tuhan.

Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa… Bapa yang murah hati, perkuatkanlah supaya kami untuk dapat menolak rasa takut, mudah putus asa dan cepat menyerah, tetapi menyanggupi kuasa Roh Kudus untuk menjadikan kami anak-anak-Mu yang bertanggung jawab. Bapa kami… Dalam nama Bapa… 

Please Share:

1 Comment

  1. dan Tuhan akan iba dan sedih kepada kita jika pengorbanan kita hanya sia-sia karena dosa dan kejahatan, dan bukan karena untuk keselamatan dan kemuliaan Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *